Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.
Podium Media Indonesia: Harapan dan Kepastian
Abdul Kohar, Media Indonesia • 27 April 2026 06:49
Saat dunia diliputi kecemasan, ketika miliaran orang merasa diombang-ambingkan ketidakjelasan, di tengah agresi dan balasan menjadi arena perang berkepanjangan, ada nasihat bijak agar kita jangan kehilangan harapan. "Daripada mengutuki kegelapan, sebaiknya mulailah menyalakan lilin agar muncul harapan," begitu pesan bijak itu selalu muncul di kala guncangan begitu dahsyat
Konon, harapan itu tidak lahir dari kepastian. Ia justru tumbuh di tempat yang agak gelap, di sudut-sudut tempat orang mulai ragu apakah besok masih punya bentuk yang bisa dikenali.
Baca Juga :
Podium Media Indonesia: JK di Tengah Bara
Kalau semua sudah pasti, orang tidak perlu berharap. Ia tinggal menunggu. Menunggu, seperti kita tahu, ialah pekerjaan yang paling membosankan jika tidak disertai sedikit kecemasan. Di situlah kehendak agar manusia menjaga harapan muncul.
Barangkali dari kebiasaan manusia yang tidak betah hidup tanpa kemungkinan. Bahkan, ketika angka-angka dan analisis ekonomi tidak bersahabat, ketika berita buruk datang lebih cepat daripada kabar baik, orang tetap menyisakan satu ruang kecil di dalam dirinya. Apa itu? Ruang untuk berkata, “Siapa tahu.”
'Siapa tahu' itulah yang menyelamatkan banyak hal, dari percakapan yang nyaris putus, dari rencana yang hampir dibatalkan, bahkan dari keyakinan yang sempat goyah. Ia sederhana, tetapi keras kepala.
Menariknya, menjaga harapan tidak pernah diajarkan secara resmi. Tidak ada kurikulum, tidak ada ujian, dan tidak ada sertifikat. Orang belajar dengan cara yang lebih jujur. Orang-orang mengalami jatuh, bangun, dan pura-pura tidak terlalu kaget ketika jatuh lagi.
Di tengah ketidakpastian, harapan sering disalahpahami. Ada yang mengira ia sama dengan optimisme yang berisik, yakni yang harus diumumkan, disebarkan, dan, kalau perlu, dipaksakan. Padahal, harapan yang paling tahan lama biasanya tidak banyak bicara. Ia bekerja diam-diam, seperti orang yang tetap menabung meski penghasilannya belum tentu.
Ada pula yang menuduh harapan sebagai bentuk penyangkalan. Katanya, berharap itu sama saja menutup mata terhadap kenyataan. Tuduhan itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak sepenuhnya adil. Tanpa sedikit penyangkalan, kenyataan sering terlalu keras untuk ditatap lama-lama.
Di sinilah menjaga harapan menjadi semacam seni. Seni untuk tahu kapan harus percaya, tahu kapan harus berhenti percaya, dan tahu bahwa keduanya tidak selalu bisa dibedakan dengan mudah.
Baca Juga :
Paradoks Perdamaian
Orang yang menjaga harapan bukan berarti tidak tahu risiko. Ia justru mengenalnya dengan baik. Ia tahu bahwa rencana bisa berubah, bahwa janji bisa ditunda, dan bahwa masa depan kadang punya kebiasaan buruk datang tanpa pemberitahuan.
Namun, ia tetap memilih untuk tidak sepenuhnya menyerah. Bukan karena ia yakin akan berhasil, melainkan karena ia tidak ingin gagal sebelum mencoba.
Ada yang menjaga harapan dengan bekerja lebih keras, seolah-olah masa depan bisa dirayu dengan usaha. Ada yang menjaganya dengan berdoa, seolah-olah masa depan bisa diyakinkan dengan kata-kata yang dipanjatkan. Pun, ada pula yang cukup menjaganya dengan bertahan, hari ini saja dulu, besok urusan nanti. Carpe diem, petiklah hari ini, kata Horatio.
Yang menarik, harapan tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berpindah bentuk. Ketika satu pintu tertutup, ia menyamar menjadi rencana baru. Ketika rencana itu gagal, ia berubah lagi menjadi alasan untuk tidak berhenti.
Karena itu, mungkin menjaga harapan bukanlah keberanian besar atau keyakinan yang sempurna, melainkan keputusan kecil yang diulang-ulang, yakni untuk tidak selesai hari ini, untuk memberi besok kesempatan, dan untuk percaya bahwa ketidakpastian bukan selalu lawan. Kadang ketidakpastian hanya cara hidup menguji kesabaran.
Sisanya, seperti biasa, ialah soal waktu. Sebagaimana kita tahu, waktu tidak pernah benar-benar berpihak. Namun, entah bagaimana, ia sering memberikan ruang bagi mereka yang cukup sabar untuk menunggu, tanpa kehilangan harapan, meski hanya sedikit.
Mungkin menjaga harapan itu yang jadi sikap Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, saat menghadapi tantangan demi tantangan. Mungkin.