Paradoks Perdamaian

Dewan Redaksi Media Group, Ahmad Punto. Foto: Media Indonesia/Ebet.

Podium Media Indonesia

Paradoks Perdamaian

Media Indonesia • 22 April 2026 12:06

'Banyak yang cinta damai, tapi perang semakin ramai'.

Potongan lirik dari lagu Perdamaian yang dipopulerkan grup kasidah Nasida Ria dan sempat diaransemen ulang oleh band Gigi itu kiranya menjadi rangkuman paling jujur mengenai kondisi dunia saat ini. Di tengah gemuruh geopolitik global hari ini, bait lirik lawas itu bukan lagi sekadar satire yang sederhana, melainkan juga semacam tesis yang sangat akurat menggambarkan wajah dunia di 'zaman edan' ini.
 


Sekarang ini, boleh dibilang kita sedang berada di fase sejarah ketika kata damai sebegitu murah diobral di panggung diplomatik, tetapi di lapangan menjadi barang mahal. Masyarakat dunia amat menginginkan perdamaian, tetapi para elite global justru kerap mengabaikannya. Alih-alih menghidupkan meja-meja perundingan damai, mereka malah menyalakan mesin-mesin perang.

Ironi itu terasa sangat nyata jika kita melihat bagaimana anggaran militer global terus melonjak. Para pemimpin dunia memang gemar berbicara tentang pentingnya stabilitas global, tapi pada saat yang sama, mereka juga rajin menambah stok peluru dan rudal.

Sebagai gambaran saja, menurut data terbaru per awal 2026, total belanja militer global mencapai rekor baru sebesar US$2,46 triliun pada 2024 dan diperkirakan terus meningkat akibat ketegangan geopolitik. Sekitar 40% dari total belanja militer itu didominasi Amerika Serikat (AS). Proyeksinya bakal mendekati US$2,63 triliun pada 2025, terutama didorong eskalasi konflik di Ukraina dan Timur Tengah.

Fenomena itu, jelas, bukan tanpa aktor. Ada tangan-tangan yang tampaknya memang lebih nyaman bekerja di tengah kepulan asap konflik ketimbang berdialog di meja perundingan yang tulus. Tak bisa dimungkiri, ada pemimpin-pemimpin dunia yang punya syahwat berkonflik kelewat tinggi, seakan-akan bumi bakal berhenti berputar seandainya dunia dibiarkan damai.

Sebut saja Benjamin Netanyahu. Bagi perdana menteri Israel itu, peperangan seolah menjadi oksigen bagi kelangsungan karier politiknya. Di tengah kepungan kritik domestik dan persoalan hukum yang menjeratnya, eskalasi konflik di Gaza, Iran, hingga Libanon menjadi semacam garansi agar ia tetap relevan di kursi kekuasaan.

Dalam logika Netanyahu, perdamaian bukanlah pilihan. Dalam pikiran dia, perang atau agresi ialah satu-satunya opsi untuk memaksakan dominasi mutlak Israel atas negara-negara lain. Ia tak peduli meski peperangan yang ia ciptakan itu mengabaikan batas-batas kemanusiaan, menghancurkan peradaban, dan memorak-porandakan tatanan dunia.


Ilustrasi perang. Foto: Freepik.com.

Celakanya, sikap keras kepala Netanyahu itu menemukan tandem serasinya di Barat melalui sosok Presiden AS Donald Trump. Pendekatan Trump terhadap perdamaian sama parahnya dengan Netanyahu. Trump bahkan lebih transaksional dalam memperlakukan perdamaian. Baginya, diplomasi bukan soal keadilan atau kemanusiaan, melainkan soal untung-rugi bisnis dan kepentingan domestik Amerika semata.

Itu sangat terlihat dari gaya America First yang sering ia dengung-dengungkan. Setali tiga uang dengan Netanyahu, Trump juga masa bodoh kendati semua yang ia lakukan dengan gayanya itu mengabaikan tatanan internasional sekaligus menciptakan ruang ketidakpastian global yang lebih besar. Apa yang dilakukan Trump di Venezuela dan Iran belakangan ini ialah contoh konkret dari pendekatan kebijakannya yang didominasi nafsu kekuasaan, alih-alih menomorsatukan perdamaian.

Kita semakin merasa miris lantaran lembaga-lembaga internasional yang mestinya berfungsi sebagai peredam kerusakan global justru lumpuh. Mereka bertekuk lutut di hadapan para pemimpin negara bertipe egosentris yang menghamba pada kepentingan kekuasaan dan ambisi politik seperti Trump dan Netanyahu.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sekalipun kini terlihat tak lebih dari sekadar forum curhat kolektif yang mandatnya sering kali dimentahkan hak veto kekuatan besar. Mereka lebih sering terlihat mengeluarkan kecaman ketimbang hukuman. Padahal, ketika hukum internasional bisa seenaknya dipilih-pilih sesuai dengan kepentingan, kekerasan perlahan-lahan akan ternormalisasi.

Seperti halnya di Indonesia, dunia internasional saat ini kiranya juga kekurangan sosok negarawan yang berani mengambil risiko politik demi kemaslahatan global. Yang banyak muncul justru para politikus yang melihat dan memperlakukan dunia sesuai dengan kepentingan mereka saja. Buat mereka, hilangnya nyawa manusia di garis depan konflik tak menjadi soal selama kepentingan politik mereka tak terganggu.

Pertanyaanya, apakah kondisi itu akan semakin parah pada masa-masa mendatang? Ya, sangat mungkin tingkat keparahan itu bakal terus meninggi selama upaya perdamaian global hanya menguar di mimbar pidato, selama retorika damai hanya dijadikan tameng untuk menyiapkan serangan, agresi, dan konflik berikutnya.

Dengan situasi yang demikian, kontradiksi yang disampaikan di lagu Perdamaian tampaknya bakal kian menjadi-jadi. Semakin banyak orang cinta damai, malah semakin ramai perang pecah di mana-mana. Itulah paradoks tentang perdamaian yang barangkali akan membuat kita bingung, seperti lanjutan lirik lagu itu juga, 'Bingung... bingung ku memikirnya'.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)