Unggahan akun Instagram @pesareangunungkawi.
Bukan Ritual Pesugihan, Ini Makna Tradisi Selamatan di Gunung Kawi
Daviq Umar Al Faruq • 18 July 2026 16:14
Malang: Di balik cerita-cerita dan mitos yang selama ini melekat pada Pesarean Gunung Kawi di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur, tersimpan sebuah tradisi yang masih dijalankan hingga kini, yakni selamatan. Tradisi budaya Jawa tersebut ditegaskan sebagai wujud doa, rasa syukur, dan permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa, bukan ritual pesugihan ataupun tumbal seperti anggapan yang kerap beredar.
Melalui unggahan terbaru di akun Instagram @pesareangunungkawi, pengelola Pesarean Gunung Kawi mengajak masyarakat melihat tradisi tersebut dari sudut pandang yang lebih utuh. Pengelola menilai kawasan wisata religi itu tidak hanya memiliki sejarah, tetapi juga mewarisi nilai budaya dan tradisi yang masih dijaga hingga sekarang.
"Pesarean Gunung Kawi bukan hanya dikenal karena cerita-cerita yang beredar, tetapi juga memiliki nilai sejarah, budaya, dan tradisi yang dijaga turun-temurun, salah satunya adalah prosesi Selamatan. Mari bersama-sama melihat dan memahami warisan budaya ini dengan sudut pandang yang lebih bijak, tanpa terjebak pada opini yang keliru," tulis keterangan dalam unggahan tersebut.
Pengelola juga mengajak setiap pengunjung datang dengan niat baik serta menghormati adat dan tata krama yang berlaku selama berada di kawasan pesarean. Sikap tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya menjaga kelestarian budaya dan menghargai warisan para leluhur.
"Datanglah dengan niat yang baik, menghormati tata krama, serta menjaga sikap saat berkunjung. Dengan begitu, kita turut menghargai nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan oleh para leluhur," lanjut @pesareangunungkawi.
Selamatan, Warisan Budaya Jawa yang Sarat Makna
Selanjutnya, pengelola menjelaskan bahwa selamatan merupakan tradisi budaya Jawa yang diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut menjadi sarana mengirimkan doa kepada para leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur serta permohonan keselamatan dan keberkahan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
"Selamatan hanya bisa dipesan secara langsung melalui Loket Resmi Pesarean Gunung Kawi atau melalui pemesanan daring di nomor 085704160008. Hati-hati terhadap transaksi yang dilakukan di luar area kami dengan dalih pemesanan selamatan. Pastikan Anda mendapat kartu selamatan setelah melakukan pemesanan dengan petugas loket kami," beber @pesareangunungkawi.
Dalam penjelasannya, pengelola menyebut seluruh menu selamatan dimasak di Dapur Pesarean oleh pegawai Yayasan Ngesti Gondo yang telah beroperasi sejak 1930. Selamatan disiapkan sebagai makanan matang sehingga dapat langsung dikonsumsi oleh pemesan dan bukan dipergunakan untuk ritual tertentu.
"Tidak ada selamatan yang disajikan untuk ritual tertentu dan dibiarkan membusuk di Pesarean Gunung Kawi," ujar @pesareangunungkawi.
Prosesi selamatan dipandu oleh pegawai Yayasan Ngesti Gondo yang biasa disebut Pak Modin. Penyampaian doa dilakukan melalui dua tata cara, yakni Kejawen dan Islam, mengikuti sejarah Eyang Djoego dan Eyang Raden Mas Imam Soedjono yang merupakan keturunan Jawa dan muslim.
"Setelah didoakan, selamatan bisa dibawa pulang dan dikonsumsi secara pribadi oleh pemesan ataupun dibagikan ke sesama sebagai bentuk sedekah. Makanan dari selamatan tidak digunakan untuk ritual pesugihan maupun sebagai pengganti tumbal," jelas @pesareangunungkawi.

Desa Wisata Pesarean Gunung Kawi/Jadesta Kemenpar.
Meluruskan Mitos dan Memberikan Kejelasan bagi Peziarah
Unggahan itu juga meluruskan sejumlah mitos lain yang selama ini berkembang mengenai Pesarean Gunung Kawi. Pengelola memastikan tidak ada ketentuan peziarah harus datang sebanyak 14 kali maupun larangan berkunjung berdasarkan weton tertentu.
"Siapa pun dapat berkunjung ke Pesarean Gunung Kawi untuk berziarah, selamatan, berdoa, maupun sekadar berwisata dengan tetap menghormati adat, tata krama, dan aturan yang berlaku di area Pesarean Gunung Kawi," terang @pesareangunungkawi.
Selain berupa hidangan, media selamatan di Pesarean Gunung Kawi juga dapat diwujudkan melalui pagelaran wayang kulit sebagai bagian dari tradisi budaya Jawa. Namun, pengelola menegaskan wayangan bukan kewajiban bagi setiap peziarah dan hanya diselenggarakan apabila ada pemesanan.
"Wayang Kulit di Pesarean Gunung Kawi digunakan sebagai media doa, ruwatan, dan syukuran sesuai tradisi budaya Jawa. Pertunjukan ini menjadi ungkapan rasa syukur untuk keselamatan dan berkah kepada Tuhan, serta pelestarian warisan budaya yang turun-temurun," kata @pesareangunungkawi.
"Pagelaran Wayang Kulit juga digunakan sebagai media selamatan selain makanan dan dilaksanakan jika ada pesanan dari pengunjung di Gedung Seni Ngesti Budoyo. Jadi, Pagelaran Wayang Kulit tidak digelar setiap hari di Pesarean Gunung Kawi," imbuh @pesareangunungkawi.
Sebagai informasi, Pesarean Gunung Kawi berada di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Berdasarkan data Kementerian Pariwisata melalui Jadesta serta informasi resmi pengelola, kawasan tersebut telah berkembang menjadi Desa Wisata Pesarean Gunung Kawi yang memadukan wisata religi, sejarah, budaya, hingga wisata alam, dengan makam Eyang Djoego dan Eyang Raden Mas Imam Soedjono sebagai daya tarik utamanya.