TO SMA Labschool Kebayoran. Foto: Istimewa
Hidupkan 7 KAIH, SMA Labschool Kebayoran Gelar TO di Subang
Muhamad Marup • 29 September 2026 14:10
Subang: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menjadikan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (KAIH) sebagai salah program pendidikan karakter. Untuk mewujudkan hal tersebut, SMA Labschool Kebayoran menggelar Trip Observasi (TO) di Dusun Arjasari, Desa Cikujang, Kecamatan Serangpanjang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada 24-28 September 2026.
"Makna pembelajaran yang sesungguhnya: pengalaman yang tidak berhenti ketika kegiatan berakhir, tetapi menjadi karakter dan kebiasaan dalam kehidupan,” ujar Kepala SMA Labschool Kebayoran, Suparno, dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 29 September 2026.
7KAIH mencakup bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan yang disampaikan di kelas, tetapi dipraktikkan dalam keseharian siswa selama berada di tengah masyarakat.
Dalam suasana kehidupan desa, siswa belajar mengatur diri, menghargai waktu, bekerja sama, menjaga kesehatan, berinteraksi dengan masyarakat, serta menjalankan tanggung jawab pribadi dan kelompok. Dengan demikian, TO menjadi ruang untuk membangun kebiasaan sekaligus karakter bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang diketahui seseorang, tetapi juga tentang bagaimana ia bersikap dan bertindak.
"Harapan kami, anak-anak tidak sekadar pulang membawa cerita dan pengalaman. Mereka pulang sebagai pribadi yang lebih mandiri, disiplin, peduli, sehat, mampu bekerja sama, berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab," jelas Suparno.
Bagi SMA Labschool Kebayoran, Trip Observasi bukan sekadar kegiatan luar kelas atau perjalanan wisata. Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2001, TO telah menjadi salah satu tradisi pendidikan yang menempatkan kehidupan nyata sebagai laboratorium pembelajaran.
Sebanyak 229 siswa terlibat dalam TO di Subang. Di Cikujang, siswa berhadapan langsung dengan kehidupan masyarakat, lingkungan alam, tradisi, budaya, serta berbagai persoalan sosial yang ada di sekitar mereka.
Dari sanalah mereka belajar tentang kemandirian, empati, tanggung jawab, gotong royong, kepemimpinan, kerja keras, sekaligus kemampuan melihat persoalan dari berbagai perspektif.
“Trip Observasi merupakan laboratorium kehidupan. Anak-anak tidak hanya belajar tentang kehidupan, tetapi mengalami kehidupan itu sendiri. Mereka belajar menggunakan ilmu dengan landasan iman dan mewujudkannya melalui amal yang memberikan manfaat,” kata Suparno.

TO SMA Labschool Kebayoran. Foto: Istimewa
Rangkaian kegiatan dirancang secara terstruktur melalui beberapa program utama, antara lain Pengenalan Kehidupan Desa (PKD), Pengetahuan Dasar Penelitian (PDP), Lintas Budaya, Pentas Seni, serta Penjelajahan.
Melalui PKD, siswa terlibat dalam aktivitas masyarakat dan belajar memahami kehidupan desa dari dekat. Dalam PDP, mereka melakukan pengamatan serta pengumpulan data secara langsung di lapangan sehingga pengalaman sosial berubah menjadi proses penelitian sederhana.
Sementara melalui Lintas Budaya, siswa mengenal tradisi, nilai, dan budaya masyarakat lokal.
Kreativitas siswa kemudian memperoleh ruang melalui Pentas Seni, sedangkan kegiatan penjelajahan di bentang alam pegunungan menjadi sarana untuk melatih keberanian, kemandirian, ketangguhan, solidaritas, dan kemampuan bekerja sama. Suparno menekankan, desa bukan sekadar lokasi kegiatan, tapi ruang kelas yang hidup. Masyarakat menjadi sumber belajar. Pengalaman menjadi bahan refleksi dan kearifan lokal menjadi jendela untuk memahami dunia.
"Datanglah ke masyarakat sebagai pembelajar: amati dengan rendah hati, dengarkan dengan empati, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan pulanglah dengan membawa perubahan dalam diri," tutupnya.
"Makna pembelajaran yang sesungguhnya: pengalaman yang tidak berhenti ketika kegiatan berakhir, tetapi menjadi karakter dan kebiasaan dalam kehidupan,” ujar Kepala SMA Labschool Kebayoran, Suparno, dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 29 September 2026.
7KAIH mencakup bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, dan tidur cepat. Nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan yang disampaikan di kelas, tetapi dipraktikkan dalam keseharian siswa selama berada di tengah masyarakat.
Dalam suasana kehidupan desa, siswa belajar mengatur diri, menghargai waktu, bekerja sama, menjaga kesehatan, berinteraksi dengan masyarakat, serta menjalankan tanggung jawab pribadi dan kelompok. Dengan demikian, TO menjadi ruang untuk membangun kebiasaan sekaligus karakter bahwa pendidikan bukan hanya tentang apa yang diketahui seseorang, tetapi juga tentang bagaimana ia bersikap dan bertindak.
"Harapan kami, anak-anak tidak sekadar pulang membawa cerita dan pengalaman. Mereka pulang sebagai pribadi yang lebih mandiri, disiplin, peduli, sehat, mampu bekerja sama, berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab," jelas Suparno.
Bagi SMA Labschool Kebayoran, Trip Observasi bukan sekadar kegiatan luar kelas atau perjalanan wisata. Sejak pertama kali dilaksanakan pada 2001, TO telah menjadi salah satu tradisi pendidikan yang menempatkan kehidupan nyata sebagai laboratorium pembelajaran.
Sebanyak 229 siswa terlibat dalam TO di Subang. Di Cikujang, siswa berhadapan langsung dengan kehidupan masyarakat, lingkungan alam, tradisi, budaya, serta berbagai persoalan sosial yang ada di sekitar mereka.
Dari sanalah mereka belajar tentang kemandirian, empati, tanggung jawab, gotong royong, kepemimpinan, kerja keras, sekaligus kemampuan melihat persoalan dari berbagai perspektif.
“Trip Observasi merupakan laboratorium kehidupan. Anak-anak tidak hanya belajar tentang kehidupan, tetapi mengalami kehidupan itu sendiri. Mereka belajar menggunakan ilmu dengan landasan iman dan mewujudkannya melalui amal yang memberikan manfaat,” kata Suparno.

TO SMA Labschool Kebayoran. Foto: Istimewa
Rangkaian kegiatan dirancang secara terstruktur melalui beberapa program utama, antara lain Pengenalan Kehidupan Desa (PKD), Pengetahuan Dasar Penelitian (PDP), Lintas Budaya, Pentas Seni, serta Penjelajahan.
Melalui PKD, siswa terlibat dalam aktivitas masyarakat dan belajar memahami kehidupan desa dari dekat. Dalam PDP, mereka melakukan pengamatan serta pengumpulan data secara langsung di lapangan sehingga pengalaman sosial berubah menjadi proses penelitian sederhana.
Sementara melalui Lintas Budaya, siswa mengenal tradisi, nilai, dan budaya masyarakat lokal.
Kreativitas siswa kemudian memperoleh ruang melalui Pentas Seni, sedangkan kegiatan penjelajahan di bentang alam pegunungan menjadi sarana untuk melatih keberanian, kemandirian, ketangguhan, solidaritas, dan kemampuan bekerja sama. Suparno menekankan, desa bukan sekadar lokasi kegiatan, tapi ruang kelas yang hidup. Masyarakat menjadi sumber belajar. Pengalaman menjadi bahan refleksi dan kearifan lokal menjadi jendela untuk memahami dunia.
"Datanglah ke masyarakat sebagai pembelajar: amati dengan rendah hati, dengarkan dengan empati, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan pulanglah dengan membawa perubahan dalam diri," tutupnya.