Rupiah Diprediksi Bakal Stabil pada 2027, Ini Alasannya

Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Husen Miftahudin

Rupiah Diprediksi Bakal Stabil pada 2027, Ini Alasannya

Eko Nordiansyah • 29 September 2026 15:35

Jakarta: HSBC memprediksi nilai tukar rupiah bergerak dalam rentang yang relatif sempit pada 2027. Proyeksi itu muncul setelah tekanan terhadap rupiah mulai mereda dan aliran modal kembali masuk ke Indonesia.

Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann mengatakan, Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga secara agresif pada awal 2026 untuk menjaga stabilitas rupiah. Menurut dia, sebagian besar langkah yang diperlukan untuk meredam tekanan nilai tukar telah dilakukan.

“Kita sudah melihat rupiah mulai stabil dan aliran modal kembali masuk. Jadi, kami memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang yang relatif sempit tahun depan,” ujar Frederic dalam media briefing HSBC Indonesia di St. Regis Jakarta, Selasa, 29 September 2026.


(Chief Asia Economist HSBC Frederic Neumann (tengah). Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan)

Kenaikan suku bunga BI

HSBC memperkirakan BI masih akan menaikkan suku bunga satu kali lagi pada 2026 sebelum mengakhiri siklus pengetatan moneter. Frederic mengatakan BI juga dapat menggunakan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) untuk menyerap sebagian likuiditas apabila diperlukan.

Untuk akhir tahun ini, Frederic memperkirakan rupiah cenderung stabil atau sedikit melemah. Ia menyebut kisaran Rp18 ribu per USD sebagai perkiraan yang masuk akal.

Menurutnya, pergerakan tersebut lebih mencerminkan penguatan dolar AS daripada pelemahan yang khusus terjadi pada rupiah. Dolar AS saat ini mendapat dukungan dari kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), dan menguat terhadap sejumlah mata uang lain.

“Jika ditanya mengenai target, sekitar Rp18 ribu, misalnya, merupakan perkiraan yang masuk akal. Itu lebih disebabkan penguatan dolar daripada pelemahan rupiah,” kata dia.

Frederic melihat peluang perubahan arah pada 2027 apabila dolar AS mulai melemah. Kondisi tersebut dapat memberi ruang bagi rupiah untuk menguat. Meski suku bunga di Indonesia masih tinggi, ia menilai pertumbuhan kredit investasi dan modal kerja yang meningkat menunjukkan kebijakan moneter belum menekan pertumbuhan secara berlebihan. (Selsha Septifanie Gunawan)

(Eko Nordiansyah)