Direktur Eksekutif Kesekretariatan dan Hubungan Lembaga LPS KM Nuruddin. Foto: ANTARA/Abd Kadir.
LPS Ingatkan Mahasiswa Waspadai Pinjol dan Paylater
Husen Miftahudin • 20 October 2026 18:14
Makassar: Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mengingatkan masyarakat, khususnya mahasiswa, agar tidak mudah tergiur menggunakan pinjaman online (pinjol) dan layanan paylater tanpa mempertimbangkan kemampuan finansial. Penggunaan layanan tersebut secara tidak bijak berpotensi menimbulkan beban cicilan yang sulit dipenuhi.
Direktur Eksekutif Kesekretariatan dan Hubungan Lembaga LPS KM Nuruddin mengatakan, akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital berkembang pesat. Namun, peningkatan akses tersebut belum sepenuhnya diimbangi pemahaman mengenai manfaat, karakteristik, dan risiko produk keuangan.
Kondisi itu membuat generasi muda, termasuk mahasiswa, rentan menggunakan pinjol dan paylater tanpa memperhitungkan kemampuan membayar cicilan.
"Kadang-kadang mahasiswa tertarik atau tergiur untuk menggunakan paylater, tapi kemampuan untuk melunasi atau melakukan cicilan setiap bulannya itu tidak terjangkau," ujar Nuruddin dalam Kuliah Umum Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (Like It) di Baruga AP Pettarani, Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, dikutip dari Antara, Selasa, 20 Oktober 2026.
Ia menekankan pentingnya edukasi literasi keuangan agar masyarakat mampu mengelola keuangan secara bijak dan mempertimbangkan konsekuensi setiap keputusan finansial. "Itu yang kita harapkan sekarang teredukasi masyarakat, ya minimal mereka tahulah cara mengelola keuangan karena ini kan buat masa depan juga," katanya.
(Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com)
Akses keuangan digital meningkat
Nuruddin menjelaskan, inklusi keuangan di Indonesia berkembang seiring kemudahan akses terhadap berbagai layanan melalui aplikasi digital dan mobile banking. Masyarakat, terutama generasi muda, kini dapat menggunakan beragam produk keuangan hanya melalui telepon genggam.
Meski demikian, kemudahan tersebut perlu diimbangi pemahaman yang memadai mengenai karakteristik produk, risiko penggunaan, serta mekanisme pencairan dana saat membutuhkan likuiditas.
"Fenomena sekarang memang inklusi keuangan kita itu terlalu cepat. Artinya, masyarakat sekarang akses kepada produk atau jasa keuangan itu sangat luas. Dengan klik, dengan mobile banking, masyarakat, khususnya generasi muda, cepat sekali bisa mengakses jasa atau produk keuangan tersebut," ujar Nuruddin.
Menurut dia, kemudahan mengakses layanan keuangan perlu disertai kemampuan memahami kewajiban dan risiko yang menyertai setiap produk. Dengan demikian, masyarakat dapat menyesuaikan penggunaan layanan keuangan dengan kebutuhan dan kemampuan finansialnya.