Harga Minyak Ditutup Lebih Rendah, Brent Turun di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Ditutup Lebih Rendah, Brent Turun di Tengah Harapan Diplomasi AS-Iran

Eko Nordiansyah • 21 October 2026 08:05

Houston: Harga minyak ditutup sedikit lebih rendah pada Selasa, 20 Oktober 2026, menyusul pertemuan antara pejabat tinggi Iran dan Pakistan, serta laporan yang belum terkonfirmasi mengenai tawaran "jalan tengah" dari Qatar dan Pakistan kepada AS dan Iran, sebuah usulan yang diklaim memenuhi tuntutan kedua belah pihak.

Dikutip dari Investing, Rabu, 21 Oktober 2026, harga minyak Brent sempat turun lebih dari dua persen pada sesi perdagangan tersebut, sebelum akhirnya memangkas kerugian dan ditutup melemah 0,4 persen di level USD109,11 per barel.

Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember turun 0,3 persen dan ditutup pada harga USD98,21 per barel.

Harapan diplomasi muncul kembali

Media The New Arab melaporkan adanya usulan "jalan tengah" tersebut, dengan mengutip sumber yang mengetahui upaya mediasi tersebut. Qatar dan Pakistan berperan sebagai perantara utama dalam negosiasi antara Washington dan Teheran.

Menurut The New Arab, usulan tersebut mencakup penyediaan dana Iran senilai sekitar USD6 miliar yang sebelumnya dibekukan di bank-bank Qatar, sebagai "tanggapan parsial" atas tuntutan Teheran agar aset-aset mereka dicairkan. Proposal tersebut juga mencakup kesediaan Iran untuk mengizinkan kunjungan rahasia oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) ke situs-situs nuklirnya, tambah The New Arab.

Bloomberg kemudian melaporkan, seorang diplomat yang terlibat dalam negosiasi AS-Iran membantah kabar yang menyebutkan bahwa kesepakatan sudah dekat, meskipun ia tidak menampik bahwa pembicaraan masih terus berlangsung. Komentar tersebut meredam ekspektasi akan terobosan dalam waktu dekat, kendati upaya diplomatik masih terus diupayakan.

Media pemerintah Iran melaporkan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan, Asim Munir, mengunjungi Teheran pada Selasa bersama delegasi pejabat. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, bertemu dengan Munir dan menyatakan AS tidak mungkin bisa "mendapatkan" kepercayaan Iran tanpa memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan sebelumnya, seperti penghentian segala bentuk permusuhan dan pencairan aset-aset negara tersebut.

Media pemerintah juga menyebutkan Mayor Jenderal Iran, Mohsen Rezaei, bertemu dengan Munir dan menegaskan "tidak satu pun partikel bahan nuklir yang diperkaya milik Iran" akan "pernah keluar dari negara tersebut."
(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Kekhawatiran akan gangguan pasokan tetap tinggi

Pada Senin, harga minyak Brent sempat berada di level yang mendekati titik tertinggi dalam lima bulan, meskipun sebelumnya sempat turun menyusul laporan AS dan Iran mungkin telah mencapai terobosan dalam negosiasi yang dimediasi pihak ketiga.

Namun, menurut catatan analis Deutsche Bank, penurunan tersebut tidak berlangsung lama. Harga minyak kembali melonjak setelah Wakil Presiden Pertama Iran menyatakan negaranya "tidak punya pilihan lain selain menjalankan kedaulatan" atas Selat Hormuz.

Pernyataan ini semakin memperburuk kekhawatiran mengenai gangguan pasokan minyak mentah di jalur pelayaran yang sangat krusial tersebut. Serangan baru-baru ini terhadap kapal-kapal di dekat Selat Hormuz telah menghambat arus minyak melalui jalur perairan tersebut.

Selat Hormuz sebagian besar telah tertutup sejak dimulainya serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran pada akhir Februari lalu, meskipun data pelayaran menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan pasokan pada bulan lalu.

Menteri Energi AS, Chris Wright, juga mengindikasikan bahwa arus minyak mentah dari kawasan Teluk telah pulih hingga sekitar 80 persen dari tingkat sebelum perang, meskipun pengiriman produk minyak olahan masih terkendala.

Dalam sebuah catatan, para analis di ANZ memperingatkan pemulihan arus minyak kini terancam, dengan data awal menunjukkan adanya perlambatan kembali akibat meningkatnya serangan terhadap kapal-kapal di kawasan Teluk.

Korps Garda Revolusi Islam Iran mengklaim bahwa sebuah kapal tanker minyak telah menabrak ranjau laut dan terbakar di selat tersebut, meskipun insiden ini belum dapat diverifikasi secara independen.

The National melaporkan kapal tersebut diduga menggunakan rute yang tidak sah, namun belum jelas apakah insiden ini berkaitan dengan koridor pelayaran yang didukung AS di sepanjang pesisir Oman.

Sementara itu, kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran mengaku bertanggung jawab atas serangkaian serangan baru terhadap infrastruktur energi, militer, dan transportasi di Arab Saudi. Serangan tersebut menyasar fasilitas Aramco di Yanbu, ladang minyak Shaybah, Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, serta bandara di Abha. 

(Eko Nordiansyah)