Dewan Redaksi Media Group Abdul Kohar. Foto: MI/Ebet.
Podium MI: Jalan Sunyi Industrialisasi
Abdul Kohar • 27 February 2026 05:34
POLEMIK impor 105 ribu pikap dari India untuk keperluan koperasi desa merah putih melebar hingga ke soal kesiapan kemandirian industri kita. Itu namanya polemik yang membawa berkah. Setidaknya berkah ihwal kian banyak orang kembali mau berpikir tentang industri dalam negeri.
Kenapa berpikir soal kemandirian industri saja sudah menghasilkan berkah? Karena negeri ini punya mimpi besar menjadi negara maju. Padahal, hampir semua negara maju menopang kehidupan ekonomi mereka dari kekuatan industri. Bagaimana mungkin kita bisa beranjak menjadi negara maju jika kian hari kian malas orang berpikir ihwal kemandirian industri?
Selama ini, di tengah kecemasan deindustrialisasi dini dan jebakan negara berpendapatan menengah, Indonesia kerap mencari model. Kita menoleh ke Barat, belajar ke Timur, tetapi sering kali berhenti pada retorika. Padahal, ada satu contoh yang sudah lama berdiri tegak di hadapan kita, misalnya Korea Selatan.
Baca Juga :
Said Abdullah Minta Agrinas Tak Impor Mobil Niaga dari India untuk Perkuat Industri Dalam Negeri
Pertanyaannya, apa yang bisa Indonesia pelajari? Pertama, keberanian memilih sektor prioritas. Korea Selatan tidak membangun semua industri sekaligus. Pada era 1960-1970-an, pemerintah mereka memilih sektor strategis berupa baja, galangan kapal, otomotif, dan elektronik. Negara hadir bukan sekadar regulator, melainkan juga dirigen. Arah kebijakan jelas, insentif terukur, dan dukungan fiskal diberikan dengan disiplin.
Indonesia sering terjebak pada euforia komoditas. Ketika harga batu bara dan nikel naik, kita merasa aman. Korsel mengajarkan nilai tambah tidak lahir dari tanah, tetapi dari teknologi dan desain. Hilirisasi yang kita gaungkan harus melampaui ekstraksi dan smelter; ia mesti menjangkau riset, inovasi, dan penguasaan merek.
Kedua, investasi besar pada manusia. Tidak ada industri kuat tanpa sumber daya manusia yang unggul. Korsel menempatkan pendidikan sebagai fondasi transformasi. Mereka mendorong sains dan teknik, memperkuat politeknik, dan menjahit kurikulum dengan kebutuhan industri.
Indonesia memiliki bonus demografi, tetapi bonus itu bisa berubah menjadi beban jika tidak diiringi peningkatan kualitas. Keterampilan manufaktur modern seperti robotika, otomatisasi, dan kecerdasan buatan harus menjadi arus utama pendidikan vokasi kita. Bukan sekadar jargon Merdeka Belajar, melainkan rekayasa ekosistem pembelajaran yang terhubung dengan pabrik dan laboratorium.

Ilusrasi industri mobil. Foto: Anadolu.
Ketiga, disiplin ekspor dan daya saing global. Korsel tidak membangun industri untuk pasar domestik semata. Mereka menargetkan ekspor sejak awal. Negara mendorong perusahaan bersaing di pasar dunia, bukan berlindung di balik proteksi abadi. Insentif diberikan, tetapi dengan syarat kinerja ekspor.
Indonesia sering kali nyaman dengan pasar domestik yang besar. Padahal, tanpa tekanan kompetisi global, industri akan tumbuh manja. Kita perlu kebijakan yang mendorong perusahaan nasional naik kelas, dari sekadar pemasok komponen menjadi pemilik teknologi.
Keempat, konsistensi kebijakan lintas rezim. Satu pelajaran penting dari Korea ialah kesinambungan. Kebijakan industrialisasi tidak berubah setiap lima tahun. Ada peta jalan jangka panjang yang dijaga lintas pemerintahan. Industri membutuhkan kepastian, bukan kejutan regulasi.
Indonesia kerap terjebak pada siklus pendek politik. Padahal, membangun industri ialah maraton, bukan sprint. Pabrik baja, kawasan industri, atau ekosistem semikonduktor tidak bisa lahir dari satu periode kekuasaan.
Tentu, kita tidak bisa menyalin mentah-mentah model Korsel. Struktur ekonomi, budaya politik, dan konteks global berbeda. Namun, semangatnya relevan, yakni keberanian menentukan arah, investasi pada manusia, disiplin ekspor, dan konsistensi kebijakan. Indonesia memiliki modal pasar besar, sumber daya alam melimpah, dan posisi geopolitik strategis. Namun, modal tanpa strategi hanya akan menjadi cerita.
Belajar dari Korea Selatan bukan berarti menjadi Korea. Mereka ialah cermin bahwa kemiskinan bukan takdir dan keterbelakangan bukan vonis abadi. Industrialisasi bukan sekadar program, melainkan juga keputusan politik untuk menempatkan manufaktur sebagai tulang punggung bangsa.
Jika kita ingin melampaui ketergantungan komoditas, waktunya bukan lagi berdiskusi tentang mimpi industri, melainkan bekerja keras menenunnya, pelan tetapi pasti.