Ketum PBNU Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Foto: Metro TV/Damar.
Pendidikan Pesantren Wajib Seimbangkan Kecerdasan Intelektual dan Spiritual
Muhammad Adyatma Damardjati • 5 September 2026 16:24
Jakarta: Pendidikan holistik di lingkungan pondok pesantren dinilai harus menyeimbangkan tiga aspek utama. Yakni psikomotorik, kognitif, dan afektif, guna mencetak generasi yang unggul secara utuh.
"Ya memang namanya pendidikan itu harus ada keseimbangan antara psikomotorik, kognitif, afektif. Nah, afektif itu holistik," ujar Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) saat menghadiri agenda Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Jakarta, Sabtu, 5 September 2026.
Menurut Gus Kikin, institusi pendidikan tidak boleh terjebak pada rutinitas yang hanya mengejar pencapaian akademik. Pendidikan yang menitikberatkan pada aspek kognitif semata berisiko memunculkan ketimpangan karakter.
"Kalau tidak imbang, akhirnya hanya di kognitif, itu kecerdasan saja. Kecerdasan itu tidak mampu menjangkau sampai kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Pendidikan di pesantren itu harus imbang semuanya, jadi hubungan masyarakatnya seimbang dengan bagaimana hubungan kepada Allah," ungkap Gus Kikin.

Ilustrasi santri. Foto: Dok. Kemenag.
Oleh karena itu, PBNU menyambut positif forum GIHES 2026 yang secara khusus membedah dan mendiskusikan konsep pendidikan holistik lintas afiliasi dan organisasi Islam. Gus Kikin berharap pertemuan ini mampu menghasilkan rumusan kurikulum dan metode pengajaran yang konkret.
"Ini bagus didiskusikan sampai ketemu bagaimana konsep-konsepnya. Mudah-mudahan bisa diformulasikan sehingga bisa diimplementasikan di sekolah-sekolah yang lain di Indonesia maupun di luar negeri," ujar Gus Kikin.