Petugas berusaha melakukan pemadaman kebakaran lahan di sekitar Kawah Wadon, kawasan Gunung Gede kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). ANTARA/HO-Kemenhut
Polisi Selidiki Penyebab Kebakaran di Gunung Gede Pangrango
Muchlis Bachtiar • 11 August 2026 13:30
Cianjur: Petugas gabungan masih disiagakan di sejumlah titik kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), Cianjur, Jawa Barat, meski kebakaran telah padam. Langkah ini dilakukan untuk memastikan tidak ada titik api yang kembali muncul dan meluas.
Luas lahan yang terdampak kebakaran di kawasan Gunung Gede Pangrango mencapai kurang lebih 20 hektare. Polisi mulai menyelidiki penyebab kebakaran, termasuk kemungkinan faktor alam, kelalaian, maupun kesengajaan.
"Setiap proses fenomena dinamika yang terjadi di tengah masyarakat, kami Polri akan melakukan penyelidikan, termasuk yang di Suryakencana. Apakah penyebab kebakaran ini alam atau ada yang harus kita mintai pertanggungjawaban," kata Kapolres Cianjur AKBP Akhmad Alexander Yurikho Hadi di Cianjur, Selasa, 11 Agustus 2026.
Baca Juga :
Apabila ditemukan pihak yang bertanggung jawab, polisi memastikan akan melakukan penegakan hukum sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sebagai langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Polres Cianjur menggelar apel kesiapsiagaan bersama TNI, BPBD, BNPB, PMI, Basarnas, serta sejumlah instansi terkait lainnya.
Hampir 700 personel Polres Cianjur disiagakan dan ditempatkan di tingkat polres hingga polsek jajaran. Kesiapsiagaan tersebut diperkuat dengan dukungan personel dan peralatan dari Batalyon B Brimob Polda Jawa Barat.

Kebakaran melanda Alun-alun Suryakancana di Gunung Gede di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sehingga Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango menutup jalur pendakian, Jumat, 7 Agustus 2026. ANTARA/Ahmad Fikri.
Selain personel, pemerintah daerah bersama instansi terkait akan menambah peralatan pemadaman secara bertahap. Salah satunya dengan memodifikasi alat pemukul api berbahan rotan yang nantinya diproduksi dan didistribusikan ke sejumlah wilayah yang rawan kebakaran.
"Kami menginisiasi adanya peralatan gebyok. Gebyok yang kami buat dan kami modifikasi dari rotan," ujar Alex.
Alex mengungkapkan seluruh unsur terkait menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam penanganan bencana. Unsur tersebut meliputi BNPB, BPBD, PMI, Basarnas, Polri, TNI, hingga Kejaksaan.
Menurutnya, kesiapsiagaan perlu diperkuat mengingat fenomena El Nino tahun ini diprediksi berintensitas kuat dan berlangsung lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko terjadinya kebakaran hutan dan lahan.