Dolar AS. Foto: Freepik.
Dolar AS 'Gebuk' Mata Uang Utama Dunia, Euro hingga Pound Sterling Bertekuk Lutut
Husen Miftahudin • 7 January 2026 08:32
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap mata uang utama dunia pada perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), dengan euro diperdagangkan turun menyusul data inflasi yang lebih lemah di Eropa.
Meskipun demikian, pergerakan euro cukup tenang karena investor lebih fokus pada bagaimana data mendatang akan memberikan gambaran tentang prospek kebijakan moneter di AS.
Sementara, dampak dari penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro yang mengejutkan oleh AS pada akhir pekan lalu hanya berlangsung singkat di sebagian besar kelas aset dan mata uang.
Mengutip The Star, indeks dolar, yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,32 persen menjadi 98,579.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro turun menjadi USD1,1690 dari USD1,1727 pada sesi sebelumnya, dan pound sterling Inggris turun menjadi USD1,3502 dari USD1,3543 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS diperdagangkan pada 156,63 yen Jepang, lebih tinggi dari 156,23 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS naik menjadi 0,7954 franc Swiss dari 0,7915 franc Swiss.
Mata uang Negeri Paman Sam itu juga menguat menjadi 1,3805 dolar Kanada dari 1,3757 dolar Kanada. Dolar AS bertambah menjadi 9,1966 krona Swedia dari 9,1749 krona Swedia.
| Baca juga: Dolar Tergelincir, Pasar Fokus Data AS dan Abaikan Krisis Venezuela |

(Dolar AS. Foto: Freepik)
Saling silang pendapat soal arah suku bunga Fed
Di sisi lain, pasar juga mencerna komentar yang berbeda dari para pejabat Federal Reserve tentang arah suku bunga tahun ini. Presiden Richmond Fed, Tom Barkin mengatakan perubahan suku bunga Fed perlu disesuaikan dengan cermat dengan data yang masuk mengingat risiko terhadap target pengangguran dan inflasi Fed. Barkin adalah anggota non-voter di komite penetapan suku bunga Fed tahun ini.
Gubernur Fed Stephen Miran, yang masa jabatannya berakhir pada akhir Januari, mengatakan bank sentral AS perlu memangkas suku bunga secara agresif tahun ini untuk menjaga perekonomian tetap berjalan.
Presiden Federal Reserve Minneapolis Neel Kashkari, seorang anggota komite penetapan suku bunga Fed tahun ini, mengatakan ia melihat risiko tingkat pengangguran dapat melonjak lebih tinggi.
Adapun, kontrak berjangka dana Fed masih memperkirakan sekitar 82 persen kemungkinan bahwa suku bunga akan tetap stabil pada pertemuan bank sentral AS berikutnya pada 27 hingga 28 Januari, menurut alat FedWatch dari CME Group.