UNODC Peringatkan Lonjakan Dominasi Narkoba Sintetis Baru di Pasar Global

Ilustrasi narkotika dan obat-obatan terlarang. (Anadolu Agency)

UNODC Peringatkan Lonjakan Dominasi Narkoba Sintetis Baru di Pasar Global

Muhammad Reyhansyah • 30 June 2026 12:19

Wina: Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Urusan Narkotika dan Kejahatan (UNODC) memperingatkan pasar narkotika dan obat-obatan terlarang global tengah mengalami transformasi besar. 

Perubahan tersebut ditandai dengan munculnya berbagai jenis narkoba sintetis baru, pemanfaatan teknologi oleh jaringan pengedar, serta ketidakstabilan global yang membuka peluang ekspansi ke pasar-pasar baru.

Temuan tersebut disampaikan dalam Laporan Narkoba Dunia (World Drug Report) 2026 yang dirilis UNODC di Wina, Austria, pada Jumat, 26 Juni 2026.

Dalam siaran pers yang diterima Metrotvnews.com, Direktur Eksekutif UNODC Monica Juma mengatakan para pelaku kejahatan terus berinovasi untuk menghindari penegakan hukum sekaligus memperluas jaringan perdagangan narkoba lintas negara.

"Kami melihat lonjakan yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam jenis-jenis narkoba baru di pasaran, dan yang mengkhawatirkan, beberapa di antaranya lebih kuat atau berbahaya dari sebelumnya," kata Juma.

Menurut dia, dampak peredaran narkoba tidak hanya mengancam kesehatan masyarakat, tetapi juga merusak perekonomian, memicu kekerasan, serta memperkuat jaringan kejahatan terorganisir. Karena itu, ia menilai negara-negara perlu meningkatkan upaya pencegahan, pertukaran intelijen, operasi bersama, hingga investasi dalam layanan rehabilitasi dan pengobatan.

Laporan tersebut memperkirakan sebanyak 331 juta orang menggunakan narkoba pada 2024 atau sekitar 6,2 persen dari populasi dunia berusia 15 hingga 64 tahun. Angka tersebut meningkat dibandingkan 2014 yang berada di kisaran 5,2 persen.

Ganja masih menjadi narkoba yang paling banyak digunakan dengan sekitar 256 juta pengguna, disusul opioid sebanyak 63 juta pengguna, amfetamin 32 juta, kokain 25 juta, dan ekstasi 21 juta.

Narkoba Sintetis Makin Mendominasi

UNODC mencatat produsen narkoba ilegal terus mengembangkan narkoba sintetis baru untuk menghindari regulasi dan deteksi aparat penegak hukum. 

Pada 2024, jumlah zat psikoaktif baru (New Psychoactive Substances/NPS) yang beredar mencapai 755 jenis, dengan 118 di antaranya teridentifikasi untuk pertama kalinya.

Laporan itu juga menyoroti meningkatnya ketersediaan opioid sintetis seperti fentanil, nitazen, dan orfin yang dinilai menjadi sinyal bergesernya pasar dari opiat berbasis tanaman menuju narkoba sintetis. 

Pergeseran tersebut diperkirakan akan membawa perubahan jangka panjang terhadap pola konsumsi maupun risiko kesehatan yang ditimbulkan.

Perdagangan Bergeser ke Pasar Baru

Selain perubahan jenis narkoba, UNODC juga menemukan bergesernya pola perdagangan global. Perdagangan metamfetamin atau sabu-sabu kini semakin meluas ke Timur Tengah, Afrika, dan sebagian wilayah Eropa seiring munculnya rute-rute baru.

Di sisi lain, produksi kokain terus meningkat dan diperkirakan telah melampaui 4.000 ton dalam bentuk murni pada 2024. Kelompok kejahatan terorganisir juga terus memperluas distribusi kokain ke pasar-pasar baru di Afrika dan Asia, tidak lagi hanya berfokus pada Eropa Barat, Amerika Utara, maupun Oseania.

UNODC juga mencatat penggunaan ganja meningkat sekitar 40 persen dalam satu dekade terakhir. Perubahan persepsi masyarakat terhadap ganja, termasuk kebijakan legalisasi maupun dekriminalisasi di sejumlah wilayah, dinilai turut memengaruhi peningkatan konsumsi serta pola perdagangan narkoba tersebut.

Dalam laporannya, UNODC menegaskan penyalahgunaan narkoba berkaitan dengan meningkatnya risiko tindak kriminal, kekerasan, serta persoalan sosial lainnya. Organisasi tersebut menilai penguatan layanan rehabilitasi, pencegahan, dan perlindungan sosial menjadi bagian penting dalam menekan dampak peredaran narkoba di tingkat global.

Baca juga:  Produksi Opium Myanmar Turun untuk Kali Pertama Sejak 2021

(Willy Haryono)