Israel Pertimbangkan Zona Keamanan Baru hingga 4 Km di Lebanon Selatan

Militer Israel dilaporkan mempertimbangkan zona keamanan baru hingga 4 kilometer di Lebanon selatan. (Anadolu Agency)

Israel Pertimbangkan Zona Keamanan Baru hingga 4 Km di Lebanon Selatan

Willy Haryono • 6 September 2026 13:01

Tel Aviv: Militer Israel tengah mempertimbangkan pembentukan "zona keamanan" baru yang menjorok 2 hingga 4 kilometer ke Lebanon.

Rencana tersebut disebut sebagai bagian dari upaya mengurangi jumlah pasukan Israel sekaligus mengatur kembali penempatan militer di Lebanon bagian selatan.

Mengutip laporan lembaga penyiaran publik Israel KAN pada Sabtu, 5 September 2026, zona tersebut direncanakan dibentuk dari garis perbatasan Israel-Lebanon.

Israel hingga kini masih menduduki sejumlah wilayah di Lebanon selatan. Sebagian wilayah telah dikuasai Israel selama beberapa dekade, sementara wilayah lainnya direbut dalam perang pada 2023-2024.

Dalam ofensif terbarunya, pasukan Israel disebut telah bergerak lebih dari 10 kilometer ke dalam wilayah Lebanon. Jika benar, hal itu menjadi salah satu penetrasi terdalam Israel ke Lebanon sejak penarikan pasukannya dari Lebanon selatan pada 2000.

KAN mengutip sumber-sumber keamanan yang tidak disebutkan namanya mengatakan militer Israel tengah mempersiapkan pengurangan pasukan setelah menghancurkan terowongan di kawasan dataran tinggi Ali al-Taher, Provinsi Nabatieh, Lebanon selatan.

Rencana pengerahan kembali pasukan tersebut disebut sebagai "garis abu-abu" atau gray line. Rencana itu mencakup pembangunan sejumlah posisi militer yang dapat digunakan untuk melancarkan operasi ke dalam wilayah Lebanon.

Namun, rencana tersebut belum mendapatkan persetujuan dari kepemimpinan politik Israel. KAN menyebut proposal itu masih akan dibahas sebelum keputusan akhir diambil.

Zona Keamanan

Laporan tersebut muncul sehari setelah Menteri Pertahanan Israel Israel Katz mengatakan militer telah mengonsolidasikan kendalinya atas apa yang disebutnya sebagai "zona keamanan" di Lebanon selatan.

Pernyataan Katz disampaikan setelah militer Israel pada Kamis lalu mengklaim telah mencapai "kendali operasional" atas kawasan dataran tinggi Ali al-Taher.

Ketegangan di kawasan tersebut meningkat dalam beberapa pekan terakhir di tengah berlanjutnya serangan udara dan operasi militer Israel di Lebanon selatan.

Israel menyebut konsep "garis abu-abu" sebagai kerangka baru untuk mengatur kembali posisi pasukannya. Konsep tersebut disebut serupa dengan "garis kuning" atau yellow line, yang saat ini digunakan untuk menggambarkan wilayah pengerahan pasukan, operasi, dan kendali keamanan militer Israel di dalam wilayah Lebanon.

Rencana tersebut muncul di tengah berlanjutnya eskalasi Israel di Lebanon selatan, meskipun Beirut dan Tel Aviv telah mencapai kesepakatan yang mengatur penarikan pasukan Israel secara bertahap melalui proses negosiasi yang dimediasi Amerika Serikat.

Menurut otoritas Lebanon, sejak Maret serangan Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 4.000 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya. Lebih dari 1 juta orang juga terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat konflik tersebut.

Baca juga: Israel Klaim Kuasai Dua Infrastruktur Bawah Tanah Hizbullah di Lebanon Selatan

(Willy Haryono)