Militer AS telah beberapa kali menargetkan kapal yang diduga membawa narkoba di perairan Pasifik. (Anadolu Agency)
Militer AS Serang Kapal Terduga Pengedar Narkoba di Pasifik, 5 Orang Tewas
Muhammad Reyhansyah • 13 April 2026 20:33
Washington: Militer Amerika Serikat (AS) menyatakan telah menghancurkan dua kapal yang diduga digunakan untuk penyelundupan narkoba di Samudra Pasifik bagian timur, menewaskan lima orang dan menyisakan satu penyintas.
Serangan yang terjadi pada Sabtu tersebut menambah jumlah korban tewas akibat operasi serupa menjadi sedikitnya 168 orang sejak pemerintahan Presiden Donald Trump mulai menargetkan pihak yang disebut sebagai “narkoteroris” pada awal September.
Dikutip dari AsiaOne, Senin, 13 April 2026, Komando Selatan AS menyebut operasi itu menyasar jalur penyelundupan yang telah dikenal di kawasan Pasifik timur dan Laut Karibia. Namun, militer tidak menyertakan bukti bahwa kapal yang diserang benar-benar membawa narkoba.
Rekaman video yang beredar di platform X memperlihatkan kapal-kapal kecil bergerak di perairan sebelum kemudian dilalap ledakan besar.
Militer AS juga menyatakan telah meminta Penjaga Pantai AS untuk mengaktifkan operasi pencarian dan penyelamatan terhadap satu korban selamat. Penjaga Pantai mengonfirmasi tengah mengoordinasikan pencarian tersebut dan akan memberikan pembaruan jika tersedia.
Presiden Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa Amerika Serikat berada dalam “konflik bersenjata” dengan kartel di Amerika Latin, serta membenarkan serangan tersebut sebagai langkah yang diperlukan untuk menekan arus narkoba ke AS dan mengurangi angka kematian akibat overdosis.
Namun, pemerintahannya dinilai minim memberikan bukti yang mendukung klaim bahwa target yang diserang merupakan “narkoteroris.”
Legalitas Operasi Narkoba AS
Sejumlah pengamat juga mempertanyakan legalitas serta efektivitas serangan terhadap kapal-kapal tersebut. Mereka menilai sebagian besar fentanyl, zat yang banyak menyebabkan kematian akibat overdosis di AS justru diselundupkan melalui jalur darat dari Meksiko, tempat produksinya menggunakan bahan kimia yang diimpor dari Tiongkok dan India.Operasi militer di Amerika Latin ini tetap berlangsung di tengah fokus AS pada kawasan Timur Tengah, termasuk keterlibatannya dalam konflik dengan Iran selama beberapa pekan terakhir.
Pada Minggu, Trump juga mengumumkan bahwa Angkatan Laut AS akan mulai memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang masuk atau keluar dari Selat Hormuz, setelah perundingan gencatan senjata antara AS dan Iran di Pakistan berakhir tanpa kesepakatan.
Langkah tersebut disebut bertujuan melemahkan posisi strategis Iran dalam konflik, setelah Washington menuntut pembukaan kembali jalur vital yang biasanya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Baca juga: AS Serang Tiga Kapal Diduga Penyelundup Narkoba di Pasifik, 8 Orang Tewas