Kemenkes: Anak Bergejala Campak Jangan Masuk Sekolah, Bisa Menular ke Belasan Teman

Ilustrasi-Kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar (SD). Metrotvnews.com/ Rhobi Shani.

Kemenkes: Anak Bergejala Campak Jangan Masuk Sekolah, Bisa Menular ke Belasan Teman

Lukman Diah Sari • 10 April 2026 17:02

Jakarta: Kasus campak semakin meningkat akhir-akhir ini. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengingatkan pentingnya kewaspadaan di lingkungan sekolah terhadap penyebaran campak.

Kemenkes meminta agar siswa yang mengalami gejala seperti demam dan batuk diminta tidak masuk sekolah. Siswa tersebut diharapkan segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mencegah penularan lebih luas.

“Penularan campak sangat tinggi, dengan angka reproduksi (R0) sebesar 12 hingga 18. Artinya, satu orang bisa menularkan ke 12 sampai 18 orang lainnya secara cepat,” ujar Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, dalam zoom meeting  Update Penting Situasi Campak di Indonesia, Jumat, 10 April 2026. 


Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni. (tangkapan layar)

Andi menegaskan, bahwa kasus campak pada anak sekolah perlu menjadi perhatian serius, terutama untuk orang tua dan tenaga pendidik. Orang tua diimbau rutin memantau kondisi kesehatan anak, sementara pihak sekolah diminta aktif melakukan deteksi dini.

"Jadi peran guru juga penting untuk mengecek kondisi murid jika ada gelaja demam, batuk, pilek, konjungtivitis atau mata merah segera diwaspadai. Sebaiknya murid tersebut dibawa ke fasilitas kesehatan, tidak perlu sekolah dulu," jelas Andi. 

Selain itu, apabila ditemukan satu kasus campak di dalam kelas, pihak sekolah diminta segera berkoordinasi dengan puskesmas setempat untuk dilakukan surveilans epidemiologi. Anak yang terinfeksi harus diisolasi di rumah, sementara teman sekelasnya dipantau secara ketat.

Kemenkes juga akan melakukan langkah lanjutan jika terjadi peningkatan kasus, salah satunya melalui program catch-up campaign imunisasi campak di lingkungan terdampak.

Andi menegaskan, virus campak yang beredar saat ini tidak berbeda dengan sebelumnya. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat potensi penularannya yang tinggi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)