Mengapa Rupiah Bisa Melemah? Ini Penyebab serta Upaya Pemerintah Menanggulanginya

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Mengapa Rupiah Bisa Melemah? Ini Penyebab serta Upaya Pemerintah Menanggulanginya

Eko Nordiansyah • 23 May 2026 18:36

Jakarta: Rupiah mengalami tekanan di tengah gejolak ekonomi global, penguatan dolar AS, hingga meningkatnya ketidakpastian pasar dunia. Namun, apakah kondisi ini benar-benar menandakan ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja?

Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah Fithra Faisal Hastiadi menjelaskan, ada beberapa faktor yang membuat rupiah melemah. Pertama kenaikan US Treasury yield yang kini mencapai 4,5 hingga 4,6 persen yang mendorong banyak pihak menjual obligasinya.

"Tekanannya berdasarkan dari spread yield dari obligasi AS dengan yield obligasi di Indonesia. Akhirnya dari emerging markets, uangnya masuk lagi ke AS, dari Indonesia masuk lagi ke AS," kata dia dikutip Sabtu, 23 Mei 2026.

Fithra mengatakan, rupiah saat ini seharusnya berada di Rp16.700 per USD berdasarkan fundamentalnya. Namun karena ada tekanan tadi, rupiah melemah mencapai Rp17.600 per USD. Sementara jika hal ini bisa ditangani maka rupiah bisa menguat 225 basis poin.

"Kedua, oil price. Ini kan lagi naik harganya, dan kebutuhan terhadap energi juga lagi meningkat sehingga impornya tinggi. Nah ini juga menghadirkan tekanan, itu nilainya (terhadap pelemahan rupiah) 180 (basis poin)," ujarnya.



(Ilustrasi. Foto: Freepik)

Volatilitas global yang meningkat

Ketiga, Fithra menyebut, tekanan rupiah dating dari indikator volatilitas global (VIX), khususnya pasar saham AS. Adapun kondisi volatilitas global biasanya naik atau turun, namun kini cenderung mengalami kenaikan, sehingga menghasilkan tekanan terhadap rupiah sebesar 117 basis poin.

"Ada kemudian yang dari awal tahun MSCI, S&P, Fitch, dan lain-lain, lembaga rating yang menghantam stock market dan juga bond market. Tapi ini enggak masalah karena ini dalam konteks reform," jelas dia.

Selanjutnya ada devident repatriation, yaitu penarikan Kembali dividen yang diperoleh investor asing dari Indonesia karena masuk musim liburan. Menurut perhitungan Fithra, kondisi yang selalu terjadi pada Mei setiap tahunnya ini menghasilkan tekanan 150 basis poin terhadap rupiah.

"Yang terakhir, ada musim haji. Nah musim haji permintaan dolar AS meningkat. Akhirnya apa? Nah akhirnya menghasilkan tekanan juga. Meski enggak sebesar yang lain ya, 54 (basis poin)," ungkap Fithra.

Upaya pemerintah mendorong rupiah

Ia mengungkapkan, pemerintah saat ini tengah melakukan berbagai upaya agar mendorong rupiah bisa rebound. Salah satunya, Presiden Prabowo Subianto yang telah menandatangani pembelian minyak dari Rusia guna mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia.

"Ketika di bulan Mei drop, di bulan Juninya naik. Jadi ada potensi rebound nanti di bulan Juni," katanya.

Pemerintah juga mendorong industrialisasi dan hilirisasi. Fithra mengatakan, tujuannya adalah meningkatkan kapasitas produksi, karena ekspor, yang digunakan sebagai alat pendorong pertumbuhan ekonomi, merupakan hasil dari surplus produksi yang dihasilkan industri.

"Ketika industri meningkat yang terjadi adalah kemampuan ekspor kita juga meningkat. Ketika ekspor meningat, GDP-nya meningkat. Terus, rupiahnya juga menguat," katanya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Eko Nordiansyah)