Orang tua dan istri korban Kapten Kapal Honour Ashari Samadikun yang dikabarkan disandera perompak Somalia, menunjukkan fotonya kepada wartawan di kediamannya, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. (ANTARA)
WNI Jadi Korban Pembajakan Kapal di Somalia, Keluarga Minta Bantuan Presiden
Silvana Febiari • 27 April 2026 10:17
Gowa: Keluarga korban pembajakan Kapal Tanker Honour 25 oleh perompak di perairan Somalia meminta Presiden Prabowo Subianto segera memberi bantuan. Kapal yang membawa 17 kru, termasuk empat Warga Negara Indonesia (WNI), saat ini masih disandera pihak perompak.
"Saya minta tolong ke Pak Prabowo, minta tolong bantu anak saya. Anak saya sekarang dalam keadaan minta pertolongan dari pak Prabowo," ujar Sitti Aminah ibu kandung Kapten Kapal Honour Ashari Samadikun, dilansir dari Antara, Senin, 27 April 2026.
Ia berharap pemerintah Indonesia, melalui Presiden, dapat menanggapi kejadian tersebut. Perhatian khusus diharapkan terkait pembajakan kapal pengangkut minyak yang berlayar dari Oman di Perairan Somalia.
Baca Juga :
Sementara itu, istri korban Santi Sanjaya (26) menceritakan detik-detik suaminya bersama awak kapal tersebut dibajak perompak Somalia. Ia sempat berkomunikasi melalui panggilan video sekitar pukul 19.30 WITA sebelum kejadian pada Selasa, 20 April 2026. Korban sempat menyebut kapalnya akan diserang perompak.
Meski komunikasi sempat terputus, ia mencoba menghubungi kembali dan ponselnya masih aktif, hanya saja tidak ada respons pembicaraan. Suasana terdengar menegangkan sehingga memutuskan untuk memutus sambungan telepon.
"Masih aktif hape-nya, cuma tidak direspon. Selang beberapa jam tidak aktif hapenya lagi. Terus terakhir saya VC (panggilan video) tadi malam sama dia, baik-baik ji katanya di kapal," ucapnya menjelaskan.

Orang tua dan istri korban Kapten Kapal Honour Ashari Samadikun yang dikabarkan disandera perompak Somalia, menunjukkan fotonya kepada wartawan di kediamannya, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. (ANTARA)
Kendati demikian, situasi di atas kapal, kata dia, sering berubah-ubah. Kadang kalau merasa terancam perompaknya, situasi kembali tegang sehingga mempengaruhi psikologis dan keselamatan awal kapal itu
"Suamiku juga minta tolong semoga pemerintah membantu. Kami keluarga juga berharap pemerintah bisa bantu, mereka pulang dengan selamat," tuturnya dengan penuh harap.
Sejak Januari 2026, kapal jenis tanker itu dikemudikan suaminya sebagai kapten, dengan kontrak kerja yang rencananya berakhir saat kapal tiba di tujuan. Setelah itu, ia berencana pulang ke Gowa, Sulawesi Selatan, Indonesia dari Somalia setelah mengajukan kepulangan di tempat kerjanya.
"Suamiku rencananya kalau pulang dari Somalia mau ajukan kepulangan. Karena mau juga habis kontraknya. Yang saya tahu, rutenya ke Somalia dari Oman. Dua kali ke Somalia, rute pertama lebih dekat dari yang sekarang. Di atas kapal itu ada 17 orang," tambahnya.
Ia mengatakan, suaminya juga menceritakan saat disandera perompak meminta tebusan uang dan diancam apabila tidak ditebus malam itu akan dieksekusi atau ditembak oleh para perompak. Hal inilah yang membuat ia dan ibu korban atau mertuanya sangat terpukul.
"Tebusannya saya kurang tahu berapa diminta perompaknya. Belum ada nilai yang disebut. Katanya, masih proses negosiasi. Sejauh ini (respons pemerintah) belum ada (termasuk pihak perusahaan dengan pemerintah). Ini memang kapal luar negeri. Kami berharap semoga cepat selesai, suamiku dan krunya pulang dengan selamat," harapnya.
Sebelumnya, perompak membajak kapal Tanker Honour 25 berbendera Oman pada 21 April 2026 ketika berlayar di wilayah perairan Somalia. Tercatat ada 17 awak di kapal itu, empat di antaranya WNI, dua asal Sulsel dan dua lainnya warga asal Jawa Barat dan Jawa Tengah.