Lebih dari 1.200 orang dilaporkan kembali mengungsi dari wilayah Kordofan Selatan dan Kordofan Utara di Sudan selatan. (Anadolu Agency)
PBB Catat Lonjakan Pengungsi Baru di Dua Wilayah Sudan
Muhammad Reyhansyah • 29 December 2025 12:58
Kordofan: Lebih dari 1.200 orang dilaporkan kembali mengungsi dari wilayah Kordofan Selatan dan Kordofan Utara di Sudan bagian selatan akibat meningkatnya ketidakamanan. Hal tersebut disampaikan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pada Minggu, 28 Desember 2025.
Badan PBB itu menyatakan tim pemantau pengungsian di lapangan mencatat sedikitnya 780 orang terpaksa meninggalkan Kota Dilling di Kordofan Selatan antara Rabu hingga Jumat, seiring memburuknya kondisi keamanan.
Dilansir dari Anadolu, IOM menilai situasi di kawasan tersebut masih sangat tegang dan tidak stabil, serta terus memantau perkembangan secara ketat.
Selain itu, sebanyak 510 orang lainnya dilaporkan mengungsi dari Desa Al-Sanjouqi di wilayah Umm Dam Haj Ahmed, Kordofan Utara, juga karena faktor keamanan. Para pengungsi tersebut berpindah ke sejumlah lokasi di wilayah Umm Dam Haj Ahmed dan Sheikan, masih di Kordofan Utara.
Pada 18 Desember lalu, IOM mencatat jumlah pengungsi di tiga wilayah Kordofan meliputi Kordofan Utara, Barat, dan Selatan mencapai 50.445 orang dalam periode 26 Oktober hingga 17 Desember.
Lonjakan ini terjadi setelah berminggu-minggu pertempuran sengit antara militer Sudan dan kelompok paramiliter Rapid Support Forces (RSF), yang memaksa puluhan ribu warga meninggalkan tempat tinggal mereka.
Dari total 18 negara bagian di Sudan, RSF saat ini menguasai seluruh lima negara bagian di wilayah
Darfur di barat, kecuali sebagian wilayah utara Darfur Utara yang masih berada di bawah kendali militer. Sementara itu, angkatan bersenjata Sudan menguasai sebagian besar dari 13 negara bagian lainnya di wilayah selatan, utara, timur, dan tengah, termasuk ibu kota Khartoum.
Konflik antara militer Sudan dan RSF yang pecah pada April 2023 telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan lainnya mengungsi, menjadikannya salah satu krisis kemanusiaan terburuk di kawasan tersebut.
Baca juga: Sudan di Ambang Kehancuran saat Perang Saudara Kian Brutal