Ilustrasi PLTS Terapung Cirata. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti.
Transisi Energi Buka Peluang Ekonomi bagi Perempuan di Purwakarta
Ade Hapsari Lestarini • 24 September 2026 18:36
Purwakarta: Perempuan di sekitar kawasan PLTS Terapung Cirata, Purwakarta, didorong untuk mengambil peran dalam pengembangan ekonomi yang berkaitan dengan transisi energi. Upaya tersebut mencakup peningkatan keterampilan, akses pembiayaan, pengembangan usaha, serta keterlibatan perempuan dalam pengambilan keputusan.
Pemerintah Kabupaten Purwakarta bersama Rumah Energi membahas upaya tersebut melalui forum multipihak bertajuk "Membangun Transisi Energi yang Inklusif dan Responsif Gender di Wilayah PLTS Terapung Cirata" di Aula Janaka, Sekretariat Daerah Kabupaten Purwakarta, Rabu, 23 September 2026.
Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku sektor energi, dan lembaga keuangan untuk membahas akses perempuan terhadap pelatihan, pembiayaan, peluang ekonomi, serta partisipasi dalam proses pengambilan keputusan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Purwakarta Sri Jaya Midan mengatakan keterlibatan berbagai pihak diperlukan agar program transisi energi dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan.
"Keberhasilan dari program transisi energi yang inklusif tidak dapat tercapai apabila berjalan secara parsial. Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri. Kita memerlukan kolaborasi dan sinergi yang kuat dengan pemerintah pusat, sektor swasta, hingga lembaga perbankan untuk memastikan program ini memberikan multiplier effect bagi warga lokal," ujar Sri, dalam keterangan tertulis, Kamis, 24 September 2026.
Sri berharap kawasan PLTS Terapung Cirata dan Kecamatan Maniis dapat menjadi percontohan pengembangan transisi energi yang melibatkan masyarakat setempat.
Asisten Deputi Peningkatan Partisipasi Masyarakat bidang Pengarusutamaan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Nani Dwi Wahyuni mengatakan pemberdayaan ekonomi perempuan perlu menjadi bagian dari pembahasan transisi energi.
"Pemberdayaan ekonomi perempuan wajib menjadi bagian dari pembahasan transisi energi. Kita perlu memastikan perempuan memperoleh peluang untuk meningkatkan keterampilan, mengembangkan usaha, dan meraih kemandirian ekonomi," ungkap Nani.
Menurut Nani, model pemberdayaan seperti Kebun Pangan Perempuan dapat menjadi salah satu pendekatan yang menghubungkan ketahanan pangan, pelestarian lingkungan, dan penguatan kepemimpinan perempuan di tingkat lokal.
Direktur Eksekutif Rumah Energi Sumanda Tondang mengatakan pengembangan transisi energi perlu diikuti dengan pembukaan akses terhadap program, pembiayaan, dan peluang ekonomi bagi masyarakat.
"Transisi energi harus membuka peluang yang setara bagi masyarakat, khususnya perempuan. Karena itu, kolaborasi lintas sektor penting untuk menghubungkan kapasitas masyarakat dengan akses program, pembiayaan, dan peluang ekonomi," ujar Sumanda.

Ilustrasi PLTS Terapung Cirata. Foto: Medcom.id/Annisa Ayu Artanti.
Program pemberdayaan di empat desa
Upaya tersebut merupakan bagian dari Program PW4JET (Pro Women for Just Energy Transition) yang dilaksanakan Rumah Energi dengan dukungan Ford Foundation. Program tersebut berfokus pada peningkatan peran perempuan dalam proses transisi energi yang berkeadilan.
PW4JET dilaksanakan di empat desa di Kecamatan Maniis, yakni Citamiang, Sinargalih, Tegal Datar, dan Pasir Jambu. Program juga memberikan perhatian khusus kepada Perempuan Kepala Keluarga (PEKA) sebagai salah satu kelompok yang rentan.
Project Manager PW4JET Gustina mengatakan transisi energi perlu mempertimbangkan aspek sosial dan ketimpangan gender di sekitar proyek energi.
"Transisi energi tidak akan tercapai jika kita hanya bicara soal teknologi, tanpa melihat aspek sosial dan ketimpangan gender yang ada di sekitarnya. Program PW4JET hadir dengan visi menempatkan perempuan sebagai aktor utama transisi energi, bukan sekadar penerima manfaat pasif," ujar Gustina.
Sejumlah kegiatan telah dilakukan, antara lain kick-off dan lokakarya pengarusutamaan GEDSI pada 5 Agustus 2026 serta lokakarya Gender Action Learning System (GALS) pada 26-27 Agustus 2026.
Tahap berikutnya diarahkan pada peningkatan kapasitas masyarakat melalui sejumlah kegiatan, termasuk pelatihan cerdas iklim seperti pemanfaatan eceng gondok untuk pembuatan silase dan kompos, pengenalan teknologi biogas, serta penguatan kepemimpinan perempuan.
Program tersebut juga diarahkan untuk menghubungkan masyarakat dengan program pemerintah, tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), akses pembiayaan, dan pengembangan usaha yang dapat mendukung kemandirian ekonomi perempuan di wilayah sasaran.
Forum multipihak tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan program pemerintah, sektor energi, dan lembaga keuangan. Pengembangan Kecamatan Maniis sebagai kawasan transisi energi diharapkan tidak hanya berfokus pada aspek teknologi, tetapi juga membuka akses ekonomi dan meningkatkan keterlibatan masyarakat, khususnya perempuan.