Rupiah Masih di Rp17.000 Pagi Ini

Rupiah. Foto: Metrototvnews.com/Husen.

Rupiah Masih di Rp17.000 Pagi Ini

Husen Miftahudin • 31 March 2026 10:02

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini menguat tipis cenderung stagnan.

Mengutip data Bloomberg, Selasa, 31 Maret 2026, rupiah hingga pukul 09.54 WIB berada di level Rp17.000 per USD. Mata uang Garuda tersebut naik tipis dua poin atau setara 0,01 persen dari Rp17.002 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.952 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.

"Untuk hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.000 per USD hingga Rp17.040 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca juga: Rupiah Sentuh Rp17 Ribu, Tertekan Eskalasi Konflik Global
 

Pasar masih waspada potensi eskalasi perang Iran


Menurut Ibrahim, pergerakan rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen kewaspadaan para pelaku pasar keuangan terhadap potensi eskalasi perang Iran setelah kelompok Houthi yang berbasis di Yaman dan didukung Iran menyerang Israel pada akhir pekan lalu. Menurut dia, Kelompok Houthi dapat membuka front baru dalam perang, mengingat mereka memiliki kemampuan untuk melancarkan serangan di Laut Merah.

Iran mengatakan pihaknya siap menghadapi invasi darat oleh AS, terutama setelah laporan akhir pekan lalu menunjukkan Washington mengerahkan ribuan pasukan ke Timur Tengah. Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi dengan Iran berjalan dengan baik dan kesepakatan mungkin akan segera tercapai. Namun, ia tidak menyebutkan tenggat waktu yang jelas, sambil juga memperingatkan akan adanya serangan lebih lanjut terhadap Teheran.

Trump pekan lalu telah memperpanjang tenggat waktu untuk serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga awal April. Iran sebagian besar menolak gagasan pembicaraan langsung dengan AS sejak dimulainya perang pada akhir Februari.

Dari segi data, Universitas Michigan mengungkapkan rumah tangga Amerika mulai pesimis tentang kondisi ekonomi. Sentimen Konsumen pada Maret turun dari 55,5 menjadi 53,3, di bawah perkiraan 54. Ekspektasi inflasi untuk dua belas bulan ke depan melonjak dari 3,4 persen pada Februari menjadi 3,8 persen, sementara untuk lima tahun tetap tidak berubah di 3,2 persen.

"Pasar yang saat ini memperkirakan langkah selanjutnya dari Federal Reserve (Fed) adalah kenaikan suku bunga, mengingat skenario harga energi yang tinggi saat ini. Menurut CME FedWatch Tool, pasar memperkirakan tidak akan ada penurunan suku bunga tahun ini dan bertaruh pada peluang 50 persen akan ada kenaikan suku bunga di akhir 2026, dibandingkan dengan proyeksi duakali penurunan suku bunga sebelum perang AS-Iran dimulai," terang Ibrahim.


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

Efisiensi anggaran perlu kombinasi kebijakan


Di sisi lain, Ibrahim menyampaikan, rencana pemerintah melakukan efisiensi anggaran perlu didukung oleh kombinasi kebijakan lain agar efektif menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Tekanan fiskal yang terjadi saat ini bersifat struktural, yang berasal dari subsidi energi, kenaikan biaya bunga utang, dan kebutuhan belanja prioritas. 

"Maka dari itu, kebijakan efisiensi anggaran tidak bisa berdiri tunggal untuk menjaga defisit tetap terkendali, sehingga diperlukan kombinasi kebijakan," tegas dia.

Secara umum, ruang efisiensi anggaran pemerintah masih memadai, namun terbatas dan harus diterapkan secara selektif. Ruang efisiensi realistis hanya berasal dari belanja non-prioritas, mengingat struktur belanja yang makin ketat terutama untuk subsidi energi, belanja pegawai, dan bunga utang.

"Pelaksanaan efisiensi anggaran pun perlu dipastikan tetap memenuhi syarat kualitas belanja, sehingga perannya tidak hanya sekadar penghematan," papar Ibrahim.

Indikator utama yang dapat diperhatikan untuk menilai efektivitas pemangkasan anggaran mencakup peningkatan dampak program terhadap anggaran, perbaikan Incremental Capital Output Ratio (ICOR), pergeseran ke belanja produktif, serta stabilnya indikator makro seperti pertumbuhan di atas lima persen dan inflasi terkendali.

Selain itu, lanjut dia, penyerapan anggaran yang lebih merata sepanjang tahun juga menjadi sinyal penting. Jika efisiensi hanya menghasilkan underspending tanpa peningkatan output, maka dampaknya justru kontraktif bagi ekonomi.

Untuk mengimbangi tekanan itu, ruang optimalisasi kebijakan melalui peningkatan penerimaan, reprioritisasi belanja berbasis hasil (outcome), serta pengelolaan pembiayaan yang kredibel, dinilai perlu diterapkan secara bersamaan dengan implementasi efisiensi anggaran.

"Tanpa itu, efisiensi hanya menjadi bantalan jangka pendek, sementara tekanan defisit berpotensi meningkat di paruh kedua tahun," tukas Ibrahim.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)