10 Februari 1528: Lahirnya 'Penguasa 72 Pulau' Sang Penakluk Portugis dari Ternate

Sultan Baabullah. (1miliarsantri.net)

10 Februari 1528: Lahirnya 'Penguasa 72 Pulau' Sang Penakluk Portugis dari Ternate

Silvana Febiari • 10 February 2026 09:54

Jakarta: 10 Februari 1528 menjadi tanggal kelahiran Sultan ke-7 dan Penguasa ke-24 Kesultanan Ternate di Maluku Utara, Sultan Baabullah. Ia dianggap sebagai Sultan teragung dalam sejarah Ternate dan Maluku karena berhasil mengusir penjajah Portugis dari Ternate dan membawa kesultanan tersebut kepada puncak kejayaannya di akhir abad ke-16. 

Melansir dari Wikipedia, Sultan Baabullah dikenal dengan gelar "Penguasa 72 Pulau" karena wilayah kekuasaannya yang luas di Indonesia timur, mencakup sebagian besar Kepulauan Maluku, Sangihe, dan sebagian Sulawesi. Pengaruh Ternate di bawah kepemimpinannya bahkan meluas hingga Solor (Lamaholot), Bima (Sumbawa bagian timur), Mindanao, dan Raja Ampat.

Masa Muda

Berdasarkan catatan sejarah, Baabullah lahir pada 10 Februari 1528. Ia tumbuh besar di Ternate, sebuah pusat perdagangan rempah-rempah dunia di wilayah Maluku. 
 
Tak banyak yang diketahui mengenai masa kecilnya, kecuali bahwa ayahnya memberikan pendidikan agama yang mendalam dan mengajarinya untuk "berdakwah kepada masyarakat,". Ia juga memiliki pemahaman luas tentang Al-Qur'an.

Sejak kecil, ia selalu menemani ayahnya, termasuk ketika sang sultan diasingkan sementara ke Goa pada tahun 1545 hingga 1546. Saat dewasa, ia membantu ayahnya menjalankan pemerintahan kesultanan dan turut menandatangani surat perjanjian vasalisasi Ternate dengan Portugis pada tahun 1560—yang kini menjadi surat Indonesia tertua dengan stempel kesultanan yang masih ada.

Kenaikan Takhta

Sultan Baabullah dinobatkan sebagai Sultan Ternate setelah kematian ayahnya, dengan gelar Sultan Baabullah Datu Syah. Segera setelah penobatannya, ia mengumumkan permusuhan yang tak bisa didamaikan dengan orang-orang Portugis di seluruh wilayah kekuasaannya. Untuk menguatkan posisinya, Baabullah menikahi saudari Sultan Gapi Baguna dari Tidore. 

Beberapa raja Maluku lainnya menyisihkan sejenak perselisihan mereka dan bergabung di bawah pasukan Baabullah dan bendera Ternate. Begitu pula sejumlah penguasa daerah di sekitar Maluku. Baabullah juga didukung oleh beberapa panglima yang cakap dalam peperangan, seperti Sultan Jailolo, penguasa Sula Kapita Kapalaya, dan juga panglima laut Ambon Kapita Rubohongi beserta anaknya Kapita Kalasinka.

Masa Keemasan Ternate

Di bawah kepemimpinan Baabullah, Kesultanan Ternate menggapai masa jayanya. Kombinasi dari pengaruh sosiopolitik agama Islam, imbas dari keberadaan Portugis (yang sebelumnya menyuplai persenjataan serta mendorong penyeragaman pertanian cengkih demi efisiensi), serta harga cengkih yang semakin melonjak, memperkuat dan memperluas cengkeraman Ternate atas jalur perdagangan rempah.

Baabullah sendiri diebut-sebut menikahi seorang putri dari Teluk Tomini bernama Owutango, yang memiliki peran penting dalam penyebaran agama Islam di kawasan tersebut. Dalam ekspedisi yang sama, wilayah Banggai, Tobungku (keduanya di Sulawesi Timur), Tiworo (Sulawesi Tenggara) dan Buton juga jatuh ke dalam kuasa Sultan. Pengaruh Ternate bahkan mencapai Solor, yang menjadi gerbang bagi perdagangan cendana di Timor, serta Kepulauan Banda tempat penghasil pala.

Daftar wilayah jajahan Ternate yang disusun oleh sumber Spanyol pada sekitar tahun 1590 juga menyebut Mindanao, Kepulauan Papua (Raja Ampat) serta Bima dan Kore di Sumbawa, walaupun sepertinya wilayah-wilayah ini tidak terlalu terikat dengan Ternate.

Pada masa ini, Ternate merupakan negara terkuat dan termakmur di kawasan timur Nusantara. Menurut sumber-sumber Spanyol, Baabullah bahkan memiliki kekuatan untuk memanggil 2.000 kora-kora dan 133.300 tentara dari Sulawesi hingga Papua di bawah panjinya.


Wilayah kesultanan Ternate sebelum kematian Baabullah, sekitar tahun 1582. Dokumentasi/Wikipedia

Kematian dan Penerus

Sultan Baabullah mangkat pada bulan Juli tahun 1583. Terdapat versi yang berbeda-beda mengenai penyebab dan tempat kematiannya. Menurut sebuah riwayat meragukan yang muncul jauh di kemudian hari, ia diperangkap oleh Portugis dalam kapal mereka dan dibawa ke Goa, tetapi meninggal di perjalanan. Riwayat-riwayat lainnya menyatakan bahwa ia dibunuh ketika berada di kediamannya, entah melalui racun atau sihir.

Penerus Baabullah sebagai Sultan adalah putranya Said Barakati (memerintah 1583-1606) alih-alih saudaranya Mandar, walaupun ibunda Mandar memiliki status yang lebih tinggi. Baabullah secara khusus meminta saudaranya yang lain, Kaicili Tulo, untuk mendukung Said sebagai sultan. Sultan Said melanjutkan upaya perlawanan terhadap Portugis dan Spanyol dan terus menjalin hubungan dengan negeri-negeri lainnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)