Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni (kiri) di sela pertemuan bilateral dengan Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) di Tokyo, Jepang. Foto: ANTARA/HO-Kemenhut RI.
Indonesia-Jepang Perkuat Kolaborasi Strategis Sektor Kehutanan dan Karbon
Fachri Audhia Hafiez • 1 April 2026 17:26
Jakarta: Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menegaskan komitmen Pemerintah Indonesia dan Jepang untuk mendorong kolaborasi bilateral yang lebih konkret di bidang kehutanan dan perubahan iklim. Kesepakatan ini mencakup pengelolaan hutan berkelanjutan hingga penguatan perdagangan karbon antara kedua negara.
“Pertemuan (dengan perwakilan pemerintah Jepang) membahas penguatan kerja sama kehutanan, investasi karbon, hingga konservasi satwa, termasuk komodo,” ujar Raja Juli dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, dilansir Antara, Rabu, 1 April 2026.
Raja Juli menjelaskan bahwa penguatan kerja sama ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Tokyo pekan ini. Fokus utama diarahkan pada keterlibatan sektor swasta Jepang dalam pengembangan ekonomi karbon melalui skema Nilai Ekonomi Karbon (NEK).
“Selain itu, kerja sama juga diarahkan pada penguatan kawasan konservasi, pertukaran pengetahuan, serta keterlibatan sektor swasta dalam pengembangan ekonomi karbon. Indonesia membuka peluang investasi melalui skema Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan perdagangan karbon sukarela,” lanjut Raja Juli.
Dukungan JICA dan World Mangrove Center
Dalam pertemuan dengan Menteri Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang, Suzuki Norikazu, pihak Jepang menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra strategis. Hal ini dibuktikan dengan penugasan tenaga ahli Jepang untuk mendukung pengelolaan mangrove berkelanjutan melalui Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA).
Raja Juli juga mendorong pengembangan World Mangrove Center serta implementasi skema Joint Crediting Mechanism (JCM) sebagai rujukan internasional dalam mitigasi perubahan iklim berbasis alam.
“Inisiatif ini diharapkan dapat menjadi jembatan global dalam upaya rehabilitasi, riset, edukasi, serta inovasi pengelolaan ekosistem mangrove, sekaligus menjadi rujukan internasional dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim berbasis alam,” tegasnya.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni berfoto bersama Menteri Strategi Pertumbuhan Jepang Minoru Kiuchi di sela pertemuan bilateral di Tokyo, Jepang. Foto: ANTARA/HO-Kemenhut RI.
Diplomasi Komodo dan Sister Park
Selain isu iklim, diplomasi lingkungan ini turut menyentuh aspek konservasi satwa ikonik. Raja Juli bertemu dengan Menteri Lingkungan Hidup Jepang, Ishihara Hirotaka, guna membahas program breeding loan komodo bersama Prefektur Shizuoka yang diprediksi memiliki daya tarik tinggi bagi masyarakat setempat.
Raja Juli juga mengusulkan inovasi pengelolaan kawasan lindung melalui skema sister park.
“Saya mengusulkan kerja sama sister park antara Fuji-Hakone-Izu National Park dan taman nasional di Indonesia. Skema itu diharapkan memperkuat pengelolaan kawasan konservasi,” ungkap Raja Juli.
Menutup rangkaian pertemuan dengan Menteri Strategi Pertumbuhan Jepang, Minoru Kiuchi, kedua negara sepakat untuk mempercepat implementasi kerja sama karbon melalui skema JCM guna memperkuat kontribusi nyata terhadap tantangan iklim global.