Jejak Pesantren di Jakarta Rumah Para Ulama hingga Kaderisasi Santri NU

Gerbang utama Ponpes Al Hamid, Jakarta Timur. Istimewa

Jejak Pesantren di Jakarta Rumah Para Ulama hingga Kaderisasi Santri NU

Whisnu Mardiansyah • 28 September 2026 18:39

Jakarta: Pesantren Al Hamid di Cilangkap, Jakarta Timur, memiliki sejarah panjang sejak dirintis pada awal 2002. Lembaga pendidikan Islam ini berkembang hingga menjadi tempat berkumpulnya ulama dan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai daerah.

Awal pendirian Pesantren Al Hamid tidak terlepas dari keinginan KH Chamim Jazuli atau Gus Miek untuk memiliki pesantren di Jakarta. Gus Miek dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri, sekaligus pencetus Dzikrul Ghofilin dan Jam’iyah Semaan Jantiko Mantab.

Keinginan tersebut disampaikan Gus Miek kepada KH Hamid Djiman, seorang pengusaha swasta di Jakarta yang menjadi pengagum sekaligus pengikutnya. Pesan tersebut kemudian diterima sebagai amanah untuk diwujudkan.

KH Hamid Djiman mulai menyiapkan pendirian pesantren dengan restu Gus Miek. Upaya itu menjadi awal lahirnya lembaga pendidikan pesantren di Jakarta.

Kisah awal pendirian Pesantren Al Hamid disampaikan Pengasuh Pesantren Al Hamid KH Lukman Hakim Hamid dalam sambutan pembukaan Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Munas dan Konbes NU) 2023.

Menurut Kiai Lukman, pendirian pesantren berawal dari pesan KH Hamim Djazuli atau Gus Miek bersama KH Munif Djazuli kepada KH Hamid Djiman.

"Berawal dari perintah sang guru romo Kiai Hamim Djazuli atau lebih dikenal atau akrab disapa dengan Gus Miek dan Romo Kiai Munif Djazuli yang mana beliau berdua memerintahkan kepada ayahanda kami Abah KH Hamid Djiman untuk membuat ponpes di lahan milik pribadi beliau," ujar Kiai Lukman, Senin, 28 September 2026.

 


Dirintis di Atas Lahan Puluhan Hektare

Amanah tersebut diwujudkan KH Hamid Djiman melalui pendirian yayasan yang awalnya bernama Yayasan Mantab Sejahtera. Yayasan tersebut kemudian membebaskan dua bidang tanah untuk pembangunan pesantren.

Pesantren Al Hamid Putra dibangun di Cilangkap dengan luas sekitar 65.000 meter persegi. Sementara itu, Pesantren Al Hamid Putri berdiri di Pondok Ranggon dengan luas lahan sekitar 35.000 meter persegi.

Pembangunan dilakukan secara bertahap. Fasilitas yang dibangun meliputi asrama, gedung madrasah, serta berbagai sarana untuk mendukung kegiatan belajar dan kehidupan para santri.

Dalam proses tersebut, KH Hamid Djiman mendapat dukungan dari sahabatnya, Garibaldi Thohir atau Boy Thohir. Saat itu, Boy Thohir menjabat Direktur Utama Adaro Energy Indonesia. Dukungan Boy Thohir ikut mengiringi pembangunan pesantren di atas lahan yang luas.

"Pada akhirnya ayahanda bersama sahabat beliau H Garibaldi Thohir atau Haji Boy yang ikut membantu mulai perlahan membangun ponpes di atas lahan seluas enam hektar di pondok putra dan 3,5 hektare di pondok putri," ucap Kiai Lukman.

Pembangunan kemudian menghasilkan berbagai fasilitas pendidikan dan penunjang kegiatan santri. Di antaranya asrama putra dan putri, Madrasah Aliyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Ibtidaiyah Terpadu, taman kanak-kanak, koperasi, klinik, kantin, dan musala. Pesantren juga memiliki sejumlah fasilitas olahraga, seperti lapangan basket, futsal, voli, dan kolam renang.


Menyiapkan Generasi Pengelola Pesantren

Pengembangan Pesantren Al Hamid tidak hanya dilakukan melalui pembangunan sarana fisik. KH Hamid Djiman juga menyiapkan sumber daya manusia untuk mengelola pesantren.

Putra-putrinya dikirim belajar ke sejumlah pesantren. Mereka menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang; Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus; Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an, Malang; hingga Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Mojo, Kediri.

Pendidikan tersebut memperkuat hubungan keilmuan Pesantren Al Hamid dengan tradisi pesantren Al Falah Ploso. Dalam perkembangannya, Pesantren Al Hamid menginduk dan mendapat pengawasan langsung dari pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Kediri.

Setelah menyelesaikan pendidikan di sejumlah pesantren, putra dan putri KH Hamid Djiman mulai terlibat dalam pengembangan Pesantren Al Hamid.

Pada 2002, Pesantren Al Hamid mulai menerima santri dan siswa untuk jenjang pendidikan taman kanak-kanak, madrasah ibtidaiyah, madrasah tsanawiyah, dan madrasah aliyah.

Pertumbuhan pesantren terus berlanjut hingga memiliki ribuan santri. Pada 2026, jumlah santri Pesantren Al Hamid mencapai sekitar 1.800 orang.

Kegiatan pendidikan didukung 210 guru dan 25 tenaga pendidik. Pesantren tersebut juga telah memiliki sekitar 10.000 alumni.

"Alhamdulillah sampai saat ini jumlah santri baru mencapai 1800 orang. Mohon doa para kiai semoga Ponpes Al Hamid semakin maju dan semakin berkembang penuh dalam keberkahan," kata Kiai Lukman.

Pesantren Al Hamid kemudian berkembang sebagai salah satu lembaga pendidikan dan kaderisasi santri NU. Para alumninya diharapkan dapat melanjutkan pendidikan dan dakwah di berbagai daerah di Indonesia.

Perjalanan Pesantren Al Hamid juga mempertemukannya dengan salah satu agenda besar NU. Pada Selasa, 18 September 2023, pesantren tersebut menjadi lokasi pembukaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2023. Ribuan ulama, kiai, dan pengurus NU dari berbagai daerah hadir dalam kegiatan tersebut.

Bagi pengelola Pesantren Al Hamid, menjadi tuan rumah pembukaan Munas dan Konbes NU merupakan amanah besar. Sebelum menjalankan tugas tersebut, pengelola pesantren meminta nasihat dan restu kepada sejumlah guru. Di antara guru yang didatangi ialah Romo Kiai Nurul Huda Jazuli dan Maulana Habib Luthfi.

"Maka dalam penugasan ini kami sowan kepada guru-guru kami di antaranya beliau Romo Kiai Nurul Huda Jazuli serta Maulana Habib Luthfi. Beliau-beliau inilah yang kemudian memberikan restu dan doa bagi kami dan keluarga di ponpes dalam menjalan tugas yang amat besar ini," jelas Kiai Lukman.

(Whisnu M)