Pendakwah Husein Jafar Al Hadar. Dok. Istimewa
Ramadan Jadi Ruang Belajar Peduli dengan Orang Lain
Achmad Zulfikar Fazli • 26 February 2026 23:47
Jakarta: Ramadan kerap dipahami sebagai momentum menahan diri dari lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Pada saat yang sama, realitas sosial menunjukkan meningkatnya aktivitas konsumsi dan gaya hidup selama bulan suci.
Hal ini menjadi latar diskusi dengan tema, Jadi Muslim Kaya Hati, Bukan cuma Kaya Materi, yang digelar di Taman Literasi Blok M, Jakarta Selatan. Acara ini menghadirkan tausiah bersama penulis sekaligus pendakwah Husein Jafar Al Hadar.
“Puasa membuat kita merasakan lapar dan haus. Dari situ empati tumbuh. Kita jadi paham betapa beratnya menjadi orang yang kekurangan, dan karena itu kita diajak untuk tidak membiarkan orang lain merasakannya sendirian,” ujar Husein Jafar, Jakarta, Kamis, 26 Februari 2026.
Menurut dia, Ramadan bukan hanya soal menahan diri, tetapi tentang belajar keluar dari pusat diri sendiri dan membuka ruang kepedulian bagi orang lain. Dia menekankan praktik berbagi tidak boleh berhenti pada simbol atau seremonial, melainkan lahir dari pengalaman empati yang nyata.
Habib Jafar, sapaan akrabnya, mengingatkan rezeki kerap disempitkan maknanya menjadi sekadar materi. Dia menegaskan rezeki itu tidak selalu harta.
"Kesehatan, waktu luang, dan iman adalah rezeki yang nilainya jauh lebih tinggi dari materi,” kata dia.
Baca Juga:
Perjuangan Teguh Syukri: Rela Tak Jajan demi Hafal Al-Qur'an |

Ilustrasi. freepik
Di dalam konteks kehidupan urban yang sibuk, dia menyoroti kelangkaan kehadiran sebagai bentuk rezeki yang sering diabaikan. “Banyak keluarga bahagia bukan karena diberi uang, tapi karena diberi waktu. Kehadiran itu rezeki yang paling dibutuhkan hari ini,” tutur dia.
Husein menyinggung fenomena mengukur nilai diri dari kepemilikan dan pencapaian. Menurut dia, sering kali masalahnya bukan pada harta, tetapi pada mentalnya.
"Kekayaan sejati itu kekayaan mental, kekayaan hati,” ujar Husein Jafar.
Menurut dia, kepemilikan tanpa kesiapan mental justru berpotensi melahirkan kecemasan, perbandingan sosial, hingga dorongan pamer. Ramadan, kata Husein, menjadi momen untuk menata ulang cara berpikir tentang sukses dan cukup agar manusia tidak terjebak pada standar semu yang melelahkan.
Husein Jafar juga mengajak audiens memulai perubahan dari cara berpikir. “Segala sesuatu diawali dari pikiran dan niat. Kalau pikiran dan hati kita benar, hidup kita akan ikut tertata,” kata dia.
Pesan tersebut menggarisbawahi bahwa “kaya hati” bukan tujuan instan, melainkan proses membangun mentalitas cukup, empatik, dan hadir bagi sesama yang terus dilatih dari Ramadan ke Ramadan.
Sementara itu, CCO Katadata, Heri Susanto, menegaskan tema kaya hati sengaja diangkat sebagai refleksi atas kecenderungan masyarakat modern yang mengukur nilai diri dari capaian materi.
“Di era sekarang, kita sering terjebak dalam angka pencapaian atau status ekonomi. Padahal Ramadan mengajak kita berbenah dari fokus memiliki menjadi memaknai, dari hobi mengumpulkan menjadi semangat memberi, dan dari rasa takut kekurangan menjadi merasa tercukupi,” ujar Heri.
Dia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 245 untuk menegaskan memberi bukanlah kehilangan. “Sedekah dan zakat tidak membuat kita rugi. Justru Allah menjanjikan balasan yang berlipat. Ukuran seorang muslim bukan hanya dari apa yang dimiliki, tetapi dari apa yang dibagikan dan seberapa besar manfaatnya bagi orang lain,” kata Heri.
Selain tausiah yang dibawakan Husein Jafar, kegiatan ini menghadirkan sesi diskusi ringan bersama Databoks by Katadata. Manajer Databoks Jamalianuri memaparkan data-data terkait perkembangan zakat di Indonesia.
Dia menjelaskan tren pencarian informasi terkait zakat dan donasi digital menunjukkan peningkatan setiap Ramadan. Data juga memperlihatkan kanal digital semakin menjadi pilihan masyarakat, khususnya generasi muda karena dinilai lebih praktis, transparan, dan dapat diakses kapan saja.
“Literasi zakat meningkat seiring kemudahan akses informasi. Tantangannya adalah memastikan pemahaman publik tentang ke mana dana disalurkan dan dampak sosialnya,” ujar Jamalianuri.
Sementara itu, VP Finance and Business Development Katadata, Ivan Triyogo Priambodo menekankan potensi zakat sebagai instrumen dampak sosial yang berkelanjutan.
“Zakat bukan sekadar kewajiban individual, tetapi investasi sosial yang dampaknya bisa dirasakan lebih luas ketika dikelola dengan baik,” tutur dia.