Senior Director Go to Market Food Manifacturing Cargill Southeast Asia, Stephanie Sajuti. Foto: Metrotvnews.com/Selsha Septifanie Gunawan
Industri Pangan Hadapi Tekanan Rantai Pasok dan Perubahan Konsumen
Eko Nordiansyah • 17 September 2026 21:31
Jakarta: Industri pangan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Produksi pangan yang besar belum sepenuhnya mampu menjamin kebutuhan masyarakat terpenuhi karena masih terdapat persoalan distribusi, ketersediaan bahan baku, dan perubahan permintaan konsumen.
Senior Director Cargill untuk Asia Tenggara Stephanie mengatakan, tantangan industri pangan tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi. Pelaku industri juga perlu memastikan produk dapat diterima konsumen pada waktu dan tempat yang tepat.
“Produksi kita sekarang sudah besar. Tapi masih banyak jutaan orang yang mengalami kelaparan. Nah, tantangannya juga bagaimana caranya kita memastikan produk pangan itu sampai ke consumer di saat yang tepat dengan cara yang tepat,” kata Senior Director Go to Market Food Manifacturing Cargill Southeast Asia, Stephanie Sajuti, dalam media gathering Cargill di Holiday Inn Jakarta International Expo (JIExpo), Jakarta, Kamis, 17 September 2026.
Persoalan tersebut menunjukkan pentingnya sistem distribusi yang dapat menghubungkan produksi dengan kebutuhan konsumen. Tanpa rantai pasok yang baik, besarnya produksi belum tentu dapat menjaga ketersediaan pangan di pasar.
Kebutuhan konsumen semakin beragam
Selain distribusi, industri pangan harus menghadapi perubahan kebutuhan konsumen. Pilihan makanan kini dipengaruhi oleh pendapatan, kesehatan, identitas, status, dan perbedaan generasi.“Dan pola pemakan juga jadi semakin lebih personal. Setiap orang masih membutuhkan personalized menu. Lalu pilihan makanan juga dipengaruhi oleh pendapatan, kesehatan, identitas, status,” ujar Stephanie.
Perubahan tersebut membuat pasar pangan semakin tersegmentasi. Kebutuhan generasi milenial dapat berbeda dengan generasi Z sehingga produsen tidak dapat menawarkan pendekatan produk yang sama untuk seluruh konsumen.
“Lalu ada juga perubahan prioritas, maupun kesehatan, preference. Dan ini semua mempengaruhi konsumen memilih produk seperti apa. Selain itu, kita kalau serve grup konsumen yang contoh generasi milenial versus generasi gen Z, itu juga berbeda kebutuhannya,” jelas dia.
Kondisi itu mendorong produsen melakukan riset dan mengembangkan produk secara lebih spesifik. Perusahaan juga perlu menyesuaikan strategi pemasaran, harga, dan distribusi dengan kelompok konsumen yang dituju.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Geopolitik tekan rantai pasok
Industri pangan juga menghadapi gangguan geopolitik, hambatan logistik, volatilitas, dan fragmentasi perdagangan. Gangguan tersebut dapat memengaruhi pengiriman serta ketersediaan bahan baku.“Selanjutnya, sistem pangan juga banyak disruption, banyak gangguan yang semakin besar. Seperti kita tahu banyak challenge dari geopolitik,” kata Stephanie.
Menurutnya, persoalan rantai pasok tidak hanya memengaruhi proses produksi, tetapi juga kemampuan industri mengirimkan barang hingga diterima konsumen.
“Jadi kita bicaranya nggak cuma produksi, bagaimana memastikan bahwa itu bisa dikirim, diterima, menyampa. Itu lebih konteksnya ke situ sih. Supply chain,” tekan dia.
Hambatan pengiriman dan berkurangnya ketersediaan bahan baku dapat mengganggu produksi. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya logistik dan memengaruhi ketersediaan produk di pasar.
Salah satu contohnya terlihat pada industri cokelat yang bergantung pada pasokan biji kakao.
“Misalnya kalau produsen coklat, yang membutuhkan kakao, produk kakao. Nah, kalau biji kakaonya tidak available, ya mereka tidak akan bisa produksi coklat,” jelas Stephanie.
AI dorong perubahan industri
Perkembangan teknologi juga menjadi faktor yang perlu dihadapi industri pangan. Adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat membantu mempercepat kegiatan industri.“Kalau AI itu lebih kepada percepatan teknologi kan. Jadi bagaimana itu adopsinya, bagaimana industri juga, semua industri sebenarnya menggunakan itu kan, untuk membantu semua industri lah gitu ya. Lebih ke situ sih,” kata Stephanie.
Pemanfaatan AI dapat membantu perusahaan membaca perubahan kebutuhan pasar dan meningkatkan efisiensi. Namun, pelaku industri perlu menyiapkan kemampuan teknologi agar dapat mengikuti perubahan tersebut.
Selain AI, industri pangan juga menghadapi gangguan teknologi informasi dan perubahan hasil panen. Panen yang terlalu rendah maupun terlalu tinggi dapat memengaruhi pasokan dan harga komoditas.
Perkuat distribusi pangan
Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut, pelaku industri perlu memperkuat rantai pasok dan menjaga kepastian bahan baku. Distribusi menjadi penting agar kegiatan produksi dapat terus berjalan dan produk tetap tersedia bagi konsumen.
Industri juga perlu menyesuaikan produk dengan perubahan prioritas masyarakat. Kemampuan menjaga pasokan, mengendalikan biaya, dan membaca kebutuhan konsumen menjadi faktor penting untuk mempertahankan daya saing.
Dengan demikian, tantangan industri pangan tidak hanya terletak pada kemampuan memproduksi dalam jumlah besar. Pelaku industri juga perlu memastikan produk dapat didistribusikan, tersedia dengan harga terjangkau, dan sesuai dengan kebutuhan pasar yang terus berubah. (Selsha Septifanie Gunawan)