Pemadaman Karhutla di TN Berbak Sembilang Terkendala Sumber Air

Pesawat waterbombing melakukan upaya pemadaman di kawasan Taman Nasional Berbak di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. ANTARA/HO-Humas TN Berbak dan Sembilang.

Pemadaman Karhutla di TN Berbak Sembilang Terkendala Sumber Air

Silvana Febiari • 19 September 2026 18:38

Jambi: Penanganan kebakaran di kawasan Taman Nasional (TN) Berbak dan Sembilang terus dilakukan melalui udara dengan metode water bombing. Upaya ini dilakukan karena ketersediaan sumber air di lokasi kebakaran cukup sulit ditemukan.

"Saat ini petugas sedang berupaya memadamkan, tapi kesulitan air," kata  Kepala Balai Taman Nasional (TN) Berbak dan Sembilang Yunaidi, dilansir dari Antara, Sabtu, 19 September 2026. 

Titik api baru muncul di sekitar TN Berbak. Api terdeteksi membesar di Parit Sembilan dan 10, Desa Rantau Rasau, Kecamatan Berbak, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, dan langsung dipadamkan dengan water bombing.


Selain melalui udara, satgas darat dari berbagai elemen turut melakukan upaya pemadaman darat dengan mencari sumber air di dekat titik lahan yang terbakar.

Sejauh ini, pihaknya belum bisa memastikan penyebab kebakaran. Kondisi tanaman dan semak belukar yang mengering dipicu menjadi penyebab utama kebakaran di kawasan konservasi itu.

Dia memastikan, kebakaran di kawasan inti yang terjadi awal pekan lalu telah berhasil dipadamkan. Saat ini, pihaknya tengah menggunakan pemadaman di titik baru Kecamatan Berbak.

"Api belum bisa dipastikan berasal dari mana, karena bahan bakarnya sudah sangat kering, bisa jadi orang buang puntung rokok, yang awalnya dari luar kawasan masuk ke kawasan," tutupnya.


Kobaran api merambat masuk ke dalam kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS), Rabu petang, 26 Agustus 2026. ANTARA/HO-Balai TNBS


Manager Komunikasi KKI Warsi Rudi Syaf mengatakan dampak karhutla dapat dirasakan masyarakat dalam berbagai bentuk. Selain penurunan kualitas udara akibat asap, masyarakat dapat mengalami gangguan terhadap aktivitas pendidikan, kesehatan, transportasi maupun kegiatan ekonomi sehari-hari.

Menurutnya, perlindungan terhadap masyarakat harus berjalan beriringan dengan upaya pemadaman dan pencegahan kebakaran. Sebaran kebakaran di berbagai fungsi kawasan menunjukkan penanganan karhutla membutuhkan kerja bersama lintas pihak.

"Masyarakat yang berada di sekitar lokasi kebakaran perlu mendapatkan dukungan yang memadai, terutama informasi mengenai kualitas udara, akses layanan kesehatan, perlindungan kelompok rentan serta informasi yang jelas ketika kondisi mengharuskan mereka mengurangi aktivitas di luar rumah," jelasnya.

(Silvana Febiari)