Bank of England Tahan Suku Bunga di Level 3,75%

Gedung Bank of England di London, Inggris. Foto: Xinhua/Han Yan.

Bank of England Tahan Suku Bunga di Level 3,75%

Husen Miftahudin • 18 September 2026 08:45

London: Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,75 persen pada Kamis waktu setempat. Keputusan tersebut diambil ketika para pembuat kebijakan menilai dampak kenaikan biaya energi global terhadap harga dan upah di Inggris sejauh ini masih terbatas.
 
Namun, BoE mengingatkan dampak konflik di Timur Tengah terhadap transportasi dan pasokan energi masih sulit diprediksi. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi perkembangan inflasi ke depan.
 
Mengutip Investing.com, Jumat, 18 September 2026, keputusan mempertahankan suku bunga telah diperkirakan secara luas oleh para ekonom. Pelemahan pasar tenaga kerja dan tingginya suku bunga pasar turut menjadi perhatian dalam menentukan arah kebijakan moneter.
 
Gubernur BoE Andrew Bailey mengatakan kenaikan biaya energi global sejauh ini hanya memberikan dampak terbatas terhadap harga dan upah di Inggris. "Sejauh ini, kenaikan biaya energi global hanya berdampak terbatas pada harga dan gaji di Inggris," kata Bailey.
 
Namun, BoE menilai ketidakpastian masih tinggi seiring konflik yang berlangsung di Timur Tengah berpotensi mengganggu transportasi dan pasokan energi.
 
"Yang terpenting, Bank of England (BoE) mengisyaratkan mereka hampir tidak lagi mampu menoleransi kenaikan harga energi. Kecuali harga energi turun dan tercapai solusi untuk Timur Tengah, tampaknya Bank of England akan menaikkan suku bunga menjadi 4,00 persen pada pertemuan kebijakan berikutnya di bulan November," kata Paul Dales, Kepala Ekonom Inggris di Capital Economics.
 



Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara Bahas Kemungkinan Berpisah dari Inggris

(Bendera Inggris. Foto: Anadolu Agency)

 

Inflasi inggris diproyeksi tembus 4%

 
BoE memperkirakan inflasi harga konsumen Inggris dapat melampaui 4 persen pada awal tahun depan. Proyeksi tersebut lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya yang memperkirakan inflasi mencapai puncak 3,2 persen pada Oktober atau November tahun ini.
 
Inflasi Inggris pada Agustus tercatat 3,1 persen, menjadi level tertinggi dalam lima bulan. Sementara itu, inflasi inti yang tidak memasukkan komponen volatil seperti energi dan makanan berada di level 2,6 persen selama empat bulan berturut-turut.
 
Bailey mengatakan keberlanjutan volatilitas harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memengaruhi keputusan suku bunga.
 
"Semakin lama volatilitas ini berlanjut, semakin besar dampaknya terhadap inflasi, dan semakin besar kemungkinan kita perlu menaikkan Suku Bunga Bank untuk memastikan inflasi kembali turun ke tingkat targetnya sebesar dua persen," ujar Bailey.

(Husen Miftahudin)