Pencarian Dilakukan di Bangunan Roboh Gaza Bekas Serangan Israel

Pencarian di bangunan bekas serangan Israel di Gaza yang roboh. Foto: The New York Times

Pencarian Dilakukan di Bangunan Roboh Gaza Bekas Serangan Israel

Fajar Nugraha • 17 September 2026 08:57

Gaza: Sebuah bangunan yang rusak akibat perang di Gaza roboh pada Rabu 16 September 2026 menewaskan sedikitnya 21 orang, termasuk anak-anak dan menjebak lebih banyak lagi orang di bawah reruntuhan.

Insiden ini menyoroti kondisi berbahaya di Gaza pasca-perang dahsyat yang dipicu oleh serangan pimpinan Hamas terhadap Israel pada 7 Oktober 2023. Para pejabat telah memperingatkan bahwa masih banyak bangunan yang rusak akibat serangan Israel berisiko runtuh.

Kurangnya kemajuan dalam upaya rekonstruksi memaksa warga untuk memilih antara tinggal di bangunan yang kondisinya sudah sangat rapuh atau tinggal di tenda.


Puluhan orang sedang menghuni gedung hunian Saada di Kota Gaza ketika bangunan itu runtuh sekitar pukul 02.00 dini hari waktu setempat, menurut layanan penyelamatan Pertahanan Sipil, yang merupakan bagian dari kementerian dalam negeri pimpinan Hamas di Gaza.

Bangunan tersebut sebelumnya pernah terkena serangan Israel, tambah para pejabat, meskipun tidak jelas kapan serangan itu terjadi.



Militer Israel menyatakan pada hari Rabu bahwa mereka "tidak menyerang bangunan tersebut selama perang," namun tidak segera menanggapi pertanyaan mengenai apakah serangan terhadap target di dekat lokasi kejadian mungkin telah menyebabkan kerusakan tersebut.

Tim pencarian dan penyelamatan mengevakuasi para penyintas dari reruntuhan pada Rabu pagi saat mereka mencari warga yang hilang.

"Kami bisa melihat orang-orang masih terjebak di bawah reruntuhan," kata Raed al-Dahshan, direktur Pertahanan Sipil di wilayah Kota Gaza, seperti dikutip dari The New York Times, Kamis 17 September 2026.

"Kami melakukan segala upaya untuk mengeluarkan mereka,” ujar Al-Dahshan.

Al-Dahshan mengatakan pihak berwenang di Gaza telah memperingatkan warga bahwa bangunan tersebut tidak stabil, namun banyak yang tidak pergi karena tidak ingin mengungsi dan berisiko berakhir dalam kondisi yang lebih buruk. Ia menambahkan bahwa terdapat sekitar 70 bangunan di wilayah Kota Gaza yang berisiko runtuh.

Seorang wanita yang berhasil dievakuasi dari reruntuhan menggambarkan pengalaman mengerikan saat berada di dalam gedung ketika bangunan itu runtuh.

"Saya merasa ada sesuatu yang jatuh dari bawah. Kemudian bangunan itu runtuh menimpa kami seketika,” kata Hayat al-Jabari, 37 tahun.

Kelompok-kelompok kemanusiaan memperingatkan bahwa jumlah korban jiwa bisa bertambah dalam beberapa bulan mendatang.

"Dengan datangnya hujan lebat dan angin musim dingin, risiko runtuhnya bangunan yang rusak akan semakin meningkat, sehingga lebih banyak nyawa yang terancam bahaya," ujar Pat Griffiths, juru bicara Komite Internasional Palang Merah (ICRC), melalui sambungan telepon dari Gaza.

“Memilih antara tinggal di tenda -,dengan ruang atau privasi yang minim serta terpapar cuaca ekstrem,- atau di bangunan rusak yang berisiko runtuh, semata-mata demi mendapatkan tempat bernaung, bukanlah pilihan yang seharusnya dihadapi oleh keluarga mana pun,” Griffiths.




Insiden runtuhnya bangunan yang mematikan ini menyoroti kehancuran yang melanda Gaza setelah bertahun-tahun perang; serangan Israel serta pertempuran jalanan antara pasukan Israel dan Hamas telah meluluhlantakkan berbagai kawasan permukiman. Sebagian besar penduduk Gaza terpaksa mengungsi akibat konflik ini, dan banyak di antara mereka kini tinggal di bangunan-bangunan yang rusak.

Setelah kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi AS tercapai pada Oktober 2025, warga Palestina berharap Israel akan mengizinkan masuknya alat berat dan bahan bangunan dalam jumlah besar ke Gaza untuk memulai proses panjang pembersihan puing dan pembangunan kembali wilayah tersebut.

Menurut pejabat setempat, ribuan jenazah korban perang masih terkubur di bawah reruntuhan di seluruh penjuru Gaza. Pada hari Selasa, kepala hak asasi manusia PBB menyerukan agar penyelidik internasional diizinkan masuk ke wilayah tersebut guna mengevakuasi jenazah warga Palestina dari bawah bangunan yang rusak.

Upaya Dewan Perdamaian Presiden Trump dan para mediator regional untuk memajukan gencatan senjata serta membuka jalan bagi rekonstruksi telah mengalami kebuntuan. Israel terus melancarkan serangan ke wilayah tersebut, meskipun ada tekanan internasional untuk menghentikan aksinya.

Pada Selasa, serangan Israel menewaskan seorang petugas Pertahanan Sipil dan seorang remaja, menurut keterangan pejabat layanan penyelamatan. Militer Israel menyatakan bahwa mereka menargetkan militan Hamas dan bahwa serangan tersebut sedang ditinjau kembali.

Komite Internasional Palang Merah (ICRC) dan tim penyelamat yang didukung Mesir turut membantu petugas darurat setempat pada hari Rabu dalam upaya pencarian korban selamat dari insiden runtuhnya bangunan tersebut.

Dalam sebuah pernyataan, Ramiz Alakbarov, koordinator kemanusiaan PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, mendesak pihak berwenang internasional untuk mengizinkan masuknya alat berat ke Gaza guna membantu operasi pencarian dan penyelamatan, serta penyaluran bantuan kemanusiaan.

“Segala upaya harus dilakukan untuk menyelamatkan nyawa, melindungi warga dari bahaya lebih lanjut, dan menyediakan tempat tinggal yang lebih aman bagi keluarga-keluarga. Setiap menit sangatlah berharga,” pungkas Alakbarov.

(Fajar Nugraha)