Anak-anak Palestina beraktivitas di wilayah terdampak konflik di Gaza. (Anadolu Agency)
Laporan PBB Sebut Israel Diduga Sengaja Targetkan Anak-anak Palestina
Willy Haryono • 23 June 2026 19:59
Komisi Penyelidikan Internasional Independen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Wilayah Palestina yang Diduduki, termasuk Yerusalem Timur dan Israel, menyebut otoritas serta pasukan keamanan Israel diduga sengaja menargetkan anak-anak Palestina dalam konflik yang berlangsung di Jalur Gaza dan Tepi Barat.
Dalam laporan yang dirilis pada Selasa, 23 Juni 2026, komisi tersebut menyatakan tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang berdasarkan temuan investigasinya.
“Pihak berwenang dan pasukan keamanan Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina yang mengakibatkan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang di Jalur Gaza serta kejahatan perang di Tepi Barat,” ujar isi laporan tersebut, seperti dikutip dari media Anadolu Agency.
Komisi menyatakan telah menyimpulkan sejak tahun lalu bahwa Israel melakukan genosida terhadap warga Palestina di Gaza.
Menurut laporan tersebut, skala dan sifat sistematis operasi militer Israel terus berlanjut dan menyebabkan tingkat kematian, luka-luka, serta trauma yang belum pernah terjadi sebelumnya di kalangan anak-anak Palestina.
Ketua komisi, Srinivasan Muralidhar, mengatakan bukti yang dikumpulkan menunjukkan anak-anak Palestina menjadi sasaran langsung pasukan keamanan Israel.
“Penargetan yang disengaja terhadap anak-anak merupakan salah satu elemen penting yang menunjukkan niat genosida untuk menghancurkan kelompok Palestina, secara keseluruhan atau sebagian, di Gaza,” ujarnya.
Muralidhar juga menyatakan bahwa anak-anak masih terus menjadi korban meskipun gencatan senjata yang diumumkan pada akhir 2025 telah berlaku.
Dugaan Penyiksaan dan Kekerasan Seksual
Selain korban jiwa, laporan tersebut menuduh pasukan Israel menangkap anak-anak Palestina dan menempatkan mereka dalam fasilitas penahanan yang disebut mengalami penyiksaan serta perlakuan buruk lainnya.Komisi juga menuduh adanya penggunaan kekerasan seksual terhadap anak-anak sebagai bagian dari pola penindasan yang lebih luas terhadap warga Palestina.
Laporan itu menyebut praktik tersebut terjadi dalam konteks pendudukan berkepanjangan dan konflik yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Komisi PBB juga menyoroti dampak serangan terhadap fasilitas kesehatan, khususnya pusat perawatan ibu dan bayi di Gaza.
Menurut laporan tersebut, serangan terhadap fasilitas tersebut berdampak langsung pada kelangsungan hidup bayi baru lahir dan kesehatan reproduksi masyarakat Palestina.
Komisi mencatat adanya peningkatan kasus keguguran, cacat lahir, serta berbagai gangguan kesehatan pada bayi yang dikaitkan dengan kondisi perang dan krisis kemanusiaan.
Selain itu, blokade dan pengepungan yang diberlakukan terhadap Gaza disebut memperburuk kondisi gizi anak-anak, meningkatkan risiko penyakit, serta menghambat akses terhadap layanan kesehatan dasar dan imunisasi.
Komisi menyatakan telah mengidentifikasi sejumlah unit militer Israel yang diduga bertanggung jawab atas kematian dan cedera anak-anak Palestina.
Laporan tersebut juga berisi rekomendasi kepada pemerintah Israel dan negara-negara anggota PBB untuk memastikan adanya mekanisme akuntabilitas atas dugaan pelanggaran hukum internasional.
“Perlindungan, perawatan, dan kelangsungan hidup anak-anak Palestina tidak dapat dipisahkan dari hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri,” kata Muralidhar.
Menurutnya, dampak konflik terhadap kesehatan, pendidikan, dan perkembangan anak-anak Palestina berpotensi berlangsung dalam jangka panjang bahkan setelah konflik berakhir.
Baca juga: Angka Keguguran di Gaza Melonjak, Picu Kekhawatiran Krisis Reproduksi