Ilustrasi mata uang dolar AS. Foto: dok MI/Ramdani.
Bukan Inflasi, Ini yang Mendorong Volatilitas Pasar Valuta Asing
Ade Hapsari Lestarini • 5 August 2026 17:53
Jakarta: Kejutan pada data Indeks Harga Konsumen (Consumer Price Index/CPI) Amerika Serikat dinilai menjadi faktor utama yang memicu volatilitas di pasar valuta asing (foreign exchange/forex), terutama pada pasangan mata uang utama seperti EUR/USD.
Dalam kajiannya, JustMarkets menyebut pergerakan pasar tidak semata dipengaruhi oleh besaran inflasi, melainkan oleh selisih antara angka inflasi aktual dengan ekspektasi pasar.
"Katalis sebenarnya untuk volatilitas valuta asing bukanlah angka inflasi itu sendiri, tetapi seberapa jauh angka tersebut menyimpang dari konsensus pasar. Trader yang hanya fokus pada angka utama sering kali melewatkan pendorong pasar yang sebenarnya," ungkap analisis JustMarkets, Rabu, 5 Agustus 2026.
Menurut perusahaan tersebut, ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral menjadi faktor yang lebih menentukan dibanding level inflasi itu sendiri. Karena itu, angka inflasi yang sama dapat memicu respons pasar yang berbeda bergantung pada ekspektasi pelaku pasar sebelum data dirilis.
Selain data CPI utama, pelaku pasar juga mencermati inflasi inti (core CPI), inflasi jasa inti, revisi data periode sebelumnya, serta perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga bank sentral.

Ilustrasi mata uang dolar AS. Foto: dok MI.
Pelaku pasar pantau perubahan imbal hasil obligasi
JustMarkets menjelaskan besarnya kejutan inflasi dapat dihitung dari selisih antara angka CPI aktual dan konsensus pasar. Setelah data dirilis, pelaku pasar umumnya memantau perubahan imbal hasil obligasi jangka pendek yang kemudian memengaruhi pergerakan dolar AS dan sentimen pasar.
Perusahaan tersebut juga menjelaskan reaksi pasar setelah rilis CPI umumnya berlangsung dalam tiga tahap, yakni respons awal dalam hitungan detik, fase interpretasi selama sekitar 15 hingga 60 menit, kemudian dilanjutkan dengan penguatan tren atau pembalikan arah pergerakan harga.
Dalam menghadapi rilis data CPI, terdapat dua pendekatan yang umum digunakan pelaku pasar, yaitu strategi mengikuti momentum (momentum trading) ketika data dan pergerakan pasar sejalan, serta strategi fade ketika pergerakan awal dinilai berlebihan dan berpotensi berbalik arah.
Meski demikian, JustMarkets menekankan pentingnya manajemen risiko pada saat volatilitas tinggi. Salah satu caranya adalah membatasi ukuran posisi dan menghindari transaksi ketika kondisi pasar dinilai terlalu ekstrem.