PBB: RSF Bunuh 6.000 Orang di El Fasher Sudan dalam 3 Hari

Seorang wanita mencari-cari di antara puing-puing hangus tempat tinggalnya di sebuah kamp pengungsian di Darfur, Sudan. (Mohammed Jamal/UNICEF)

PBB: RSF Bunuh 6.000 Orang di El Fasher Sudan dalam 3 Hari

Riza Aslam Khaeron • 15 February 2026 14:12

El-Fasher: Lebih dari 6.000 orang tewas dalam tiga hari ketika kelompok paramiliter Sudan, Rapid Support Forces (RSF), melancarkan serangan besar-besaran ke kota el-Fasher di wilayah Darfur pada akhir Oktober 2025, menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dirilis pada Jumat, 14 Februari 2026.

Melansir NBC News yang mengutip Associated Press, laporan tersebut menyebut serangan tersebut sebagai "gelombang kekerasan yang intens … mengejutkan dalam skala dan kebrutalannya."

Kantor Hak Asasi Manusia PBB menyatakan serangan besar-besaran RSF untuk merebut el-Fasher, ibu kota provinsi Darfur Utara, disertai pelanggaran luas yang tergolong kejahatan perang dan kemungkinan kejahatan terhadap kemanusiaan. 

"Pelanggaran sewenang-wenang yang dilakukan oleh RSF dan milisi Arab sekutunya dalam ofensif terakhir di el-Fasher menegaskan bahwa impunitas yang terus-menerus memicu siklus kekerasan yang berkelanjutan," kata Komisaris Tinggi HAM PBB Volker Türk dalam laporan tersebut.


RSF. (Telegram/@RSFSudan)

RSF bersama milisi Arab sekutunya yang dikenal sebagai Janjaweed merebut el-Fasher, benteng terakhir tentara Sudan di Darfur, pada 26 Oktober 2025 setelah lebih dari 18 bulan pengepungan, lalu menyapu kota dan wilayah sekitarnya.

Laporan setebal 29 halaman itu memerinci pembunuhan massal, eksekusi tanpa pengadilan, kekerasan seksual, penculikan untuk tebusan, penyiksaan, penahanan, dan penghilangan paksa. Dalam banyak kasus, serangan disebut bermotif etnis.

Kantor HAM PBB mendokumentasikan sedikitnya 4.400 orang tewas di dalam el-Fasher antara 25 Oktober hingga 27 Oktober 2025, sementara lebih dari 1.600 lainnya dibunuh saat mencoba melarikan diri dari amukan RSF.

Data tersebut diperoleh dari wawancara terhadap 140 korban dan saksi yang "konsisten dengan analisis independen terhadap citra satelit dan rekaman video pada periode yang sama."
 

Baca Juga:
Krisis Kemanusiaan di Sudan Memburuk, 34 Juta Warga Butuh Bantuan

Dalam satu insiden pada 26 Oktober 2025, pejuang RSF menembaki sekitar 1.000 orang yang berlindung di asrama Rashid, Universitas el-Fasher, menggunakan senjata berat dan menewaskan sekitar 500 orang. Seorang saksi dikutip mengatakan ia melihat jasad-jasad "terlempar ke udara, seperti adegan dari film horor," menurut laporan tersebut.

Dalam kasus lain pada hari yang sama, sekitar 600 orang, termasuk 50 anak-anak, dieksekusi saat berlindung di fasilitas universitas.

Laporan itu juga menegaskan bahwa jumlah korban sebenarnya dari ofensif selama sepekan di el-Fasher "tidak diragukan lagi jauh lebih tinggi." Angka tersebut belum termasuk sedikitnya 460 orang yang tewas pada 28 Oktober 2025 ketika RSF menyerbu Rumah Sakit Bersalin Saudi, menurut Organisasi Kesehatan Dunia.

Sekitar 300 orang lainnya tewas akibat penembakan dan serangan drone RSF pada 23 hingga 24 Oktober 2025 di kamp pengungsi Abu Shouk, sekitar 2,5 kilometer barat laut el-Fasher.

Kekerasan seksual, termasuk pemerkosaan dan pemerkosaan berkelompok, dilaporkan meluas selama ofensif tersebut. RSF dan milisi sekutunya diduga menargetkan perempuan dan anak perempuan dari suku Zaghawa non-Arab dengan tuduhan memiliki kaitan atau mendukung militer Sudan.

Türk mengatakan para penyintas menceritakan kesaksian yang menunjukkan praktik itu "secara sistematis digunakan sebagai senjata perang."

PBB juga mendokumentasikan sedikitnya 10 fasilitas penahanan yang digunakan RSF di el-Fasher, termasuk Rumah Sakit Anak yang diubah menjadi pusat penahanan. Ribuan orang dilaporkan masih ditahan atau hilang dan belum diketahui nasibnya.

RSF tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar melalui surat elektronik. Jenderal Mohammed Hamdan Dagalo sebelumnya mengakui adanya pelanggaran oleh pasukannya, tetapi membantah skala kekejaman yang dituduhkan.

Konflik antara RSF dan militer Sudan sendiri dimulai pada April 2023 akibat perebutan kekuasaan yang berubah menjadi pertempuran terbuka di ibu kota Khartoum dan wilayah lain.

Perang tersebut menciptakan krisis kemanusiaan terbesar di dunia dan mendorong sebagian wilayah Sudan ke ambang kelaparan, serta tengah diselidiki oleh Mahkamah Pidana Internasional sebagai dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Achmad Zulfikar Fazli)