Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. Foto: Metrotvnews.com/Surya Mahmuda
Efisiensi Anggaran K/L, Airlangga: Jaga Defisit di Bawah 3%
Eko Nordiansyah • 17 March 2026 11:12
Jakarta: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, pemerintah saat ini mengambil langkah pemotongan anggaran Kementerian/Lembaga (K/L) sebagai respons cepat terhadap situasi konflik di Timur Tengah. Langkah ini, diambil guna memastikan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap terkendali di bawah ambang batas tiga persen.
"Terkait dengan skenario, itu adalah skenario saat kita kritis. Nah, langkah yang diambil per hari ini adalah pemotongan anggaran supaya defisit tidak lewat dari tiga persen,” ungkap Airlangga saat media gathering di Kantor Menko Perekonomian Jakarta, Senin, 16 Maret 2026.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Skenario mengikuti harga komoditas
Lebih lanjut, Airlangga menyebutkan besaran pemotongan anggaran akan sangat bergantung pada pergerakan harga minyak dunia. Meski harga minyak melonjak, ia mencatat adanya potensi peningkatan pendapatan negara dari sektor komoditas lain seperti batu bara, nikel, dan kelapa sawit yang dapat menjadi penyeimbang.“Jadi selama perangnya masih belum mencapai dalam tanda petik lima bulan, kita masih skenario pemotongan anggaran dan masih menggunakan maximum deficit itu tiga persen. Nah jadi berapa yang harus kita potong? balik lagi tergantung harga minyak. Tetapi harga minyak itu ada juga pendapatan yang meningkat dari komoditas, baik itu dari minyak sendiri, batu bara, nikel bahkan kelapa sawit,” ungkap dia.
Ia menekankan, pemerintah tidak akan mengambil kebijakan yang bersifat statis dalam menghadapi situasi yang cair. Evaluasi dan pemantauan akan dilakukan secara berkala setiap bulan, serupa dengan pola penanganan ekonomi saat pandemi covid-19.
"Jadi karena ini masih sifatnya dinamis seperti pada saat Covid, kita juga mengevaluasi secara dinamis memonitor setiap bulan seperti apa. Sizenya juga bergerak, kita kan belajar bahwa dalam suatu yang dinamis, kita tidak bisa membuat sesuatu menjadi statis," kata dia. (Surya Mahmuda)