Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: dok MI.
Rupiah Melemah 21 Poin ke Level Rp16.746/USD Pagi Ini
Husen Miftahudin • 5 January 2026 09:48
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan hari ini mengalami pelemahan.
Mengutip data Bloomberg, Senin, 5 Januari 2026, rupiah hingga pukul 09.39 WIB berada di level Rp16.746 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 21 poin atau setara 0,13 persen dari Rp16.725 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp16.720 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan kembali melemah.
"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp16.720 per USD hingga Rp16.750 per USD," jelas Ibrahim.
| Baca juga: Dolar AS Menguat, Serangan di Venezuela Bayangi Sentimen Pasar |
Geopolitik kian memanas
Ibrahim mengungkapkan, pergerakan kurs rupiah hari ini dipengaruhi oleh sentimen pasar terhadap tindakan terbaru pemerintahan Presiden AS Donald Trump untuk meningkatkan tekanan pada Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Amerika Serikat telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan mengatakan akan mengambil alih kendali negara Amerika Latin tersebut.
Sementara itu di Timur Tengah, serangan udara Saudi di Yaman dan deklarasi Iran tentang perang skala penuh dengan AS, Eropa, dan Israel telah meningkatkan kekhawatiran akan ketidakstabilan yang lebih luas.
Trump memperingatkan akan adanya serangan lebih lanjut jika Iran melanjutkan pembangunan kembali program nuklirnya.

(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
Manufaktur Indonesia catatkan kinerja ekspansif
Di sisi lain, sektor manufaktur Indonesia kembali mencatatkan kinerja ekspansif pada Desember 2025 yang didukung oleh perbaikan permintaan baru. "Kondisi ini menunjukkan aktivitas manufaktur tetap tumbuh meskipun laju ekspansinya melambat," ungkap Ibrahim.
S&P Global mencatat Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia sebesar 51,2 pada Desember 2025, turun dari 53,3 pada November 2025. Meski mengalami penurunan, PMI manufaktur masih berada di atas ambang batas netral 50,0, yang menandakan perbaikan kesehatan sektor manufaktur telah berlangsung selama lima bulan berturut-turut hingga akhir tahun.
Pendorong utama ekspansi tersebut berasal dari kenaikan pesanan baru yang terus berlanjut ke bulan kelima. Walaupun laju pertumbuhan permintaan melambat, perusahaan melaporkan bahwa peluncuran produk baru dan bertambahnya jumlah pelanggan menjadi faktor utama peningkatan penjualan.
"Namun, perbaikan ini terutama didukung oleh pasar domestik, sementara pesanan ekspor baru kembali mengalami penurunan selama empat bulan berturut-turut," terang Ibrahim.