DLHK Babel Perketat Patroli Cegah Karhutla di Musim Kemarau Ekstrem

Salah seorang petugas BPBD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung berjibaku memadamkan api di lahan kering (ANTARA/Aprionis)

DLHK Babel Perketat Patroli Cegah Karhutla di Musim Kemarau Ekstrem

Silvana Febiari • 6 June 2026 13:57

Pangkalpinang: Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) optimalkan personel Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) untuk melakukan patroli dan pengawasan. Langkah ini diambil guna mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau ekstrem.

"Musim kemarau tahun ini lebih ekstrem sebagai dampak fenomena El Nino," kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLHK Kepulauan Babel Amransyah Muslimin, dilansir dari Antara, Sabtu, 6 Juni 2026. 

Dalam mengantisipasi dan mencegah kebakaran hutan selama musim kemarau tahun ini, pihaknya meningkatkan peran delapan KPHP yaitu KPHP Rambat Menduyung dan KPHP Jebu Bembang Antan di Bangka Barat. Kemudian KPHP Sigambir Kotawaringin dan KPHP Bubus Panca di Kabupaten Bangka, KPHP Sungai Sembulan Bangka Tengah, KPHP Muntai Palas di Bangka Selatan, KPHP Gunung Duren di Belitung Timur dan KPHL Belantu Mendanau di Kabupaten Belitung, untuk menjaga 658.672 hutan dari kebakaran selama musim kemarau panjang ini.
 


"Seluruh petugas di KPHP ini dikerahkan untuk melakukan patroli dan menyosialisasikan bahaya kebakaran dan lahan ini, agar masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan selama musim kemarau ini," ungkapnya.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI Nomor SK 6614/MENLHKPKTL/KUH/PLA.2/10/2021 tentang Peta Perkembangan, Pengukuhan Kawasan Hutan 2020, luas hutan di Provinsi Kepulauan Babel seluas 658.672 hektare.


Salah seorang petugas BPBD Provinsi Kepulauan Babel berjibaku memadamkan api di lahan kering (ANTARA/Aprionis)


Luas hutan di wilayah tersebut mencapai 658.672 hektare, yang terdiri dari hutan lindung, hutan produksi, hutan produksi konversi, dan hutan konservasi. Kawasan hutan ini tersebar di Kabupaten Bangka, Bangka Barat, Bangka Tengah, Bangka Selatan, Belitung, Belitung Timur, hingga Kota Pangkalpinang.

"Pengawasan dan sosialisasi ini penting, karena penyebab kebakaran hutan dan lahan di Indonesia khususnya Kepulauan Babel ini disebabkan ulah manusia," tuturnya.

Menurut dia, faktor karhutla ini disebabkan oleh faktor kelalaian dan kesengajaan masyarakat. Di antaranya untuk kebutuhan pembukaan lahan permukiman, pertanian, dan perkebunan dengan cara membakar yang dianggap lebih murah dan mudah.

"Karhutla ini juga disebabkan adanya konflik lahan, kecemburuan sosial, aktivitas lainnya yang dapat menimbulkan api seperti mencari kayu bakar, rotan, berburu, camping, membakar limbah dan sebagainya," ujar Amransyah.

(Silvana Febiari)