Proyektil rudal Iran yang mengarah ke Israel. Foto: Anadolu
Tiongkok Desak Semua Pihak Pertahankan Gencatan Senjata di Timur Tengah
Muhammad Reyhansyah • 8 June 2026 19:05
Beijing: Tiongkok menyatakan keprihatinan mendalam atas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan mendesak seluruh pihak untuk tetap berkomitmen terhadap gencatan senjata yang saat ini berlaku.
Dalam konferensi pers di Beijing, Senin, 8 Juni 2026, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lin Jian mengatakan konflik baru tidak menguntungkan pihak mana pun dan menyerukan penyelesaian sengketa melalui jalur diplomatik.
“Kami sangat prihatin dengan situasi saat ini. Pertempuran baru tidak melayani kepentingan pihak mana pun,” kata Lin, dikutip dari Anadolu.
“Hal itu diperlukan untuk menciptakan kondisi yang mendukung pemulihan perdamaian dan stabilitas kawasan Timur Tengah dan Teluk,” ujar Lin Jian.
Pernyataan Lin disampaikan setelah Iran meluncurkan beberapa gelombang serangan rudal ke wilayah utara Israel pada Minggu malam sebagai respons atas serangan udara Israel di pinggiran selatan Beirut.
Israel sebelumnya mengklaim serangan tersebut menargetkan pusat komando dan perencanaan kelompok Hizbullah. Serangan Israel itu dilaporkan menewaskan dua orang dan melukai 11 lainnya berdasarkan data sementara.
Serangan rudal Iran menjadi bombardemen pertama sejak gencatan senjata rapuh yang diberlakukan pada awal April.
Gencatan senjata sementara yang dimediasi Pakistan mulai berlaku pada 8 April, namun negosiasi berikutnya mengalami kebuntuan akibat perbedaan pandangan mengenai implementasi kesepakatan dan perkembangan situasi regional.
Tiongkok dan India Keluarkan Peringatan Perjalanan
Secara terpisah, Kedutaan Besar India di Teheran mengimbau seluruh warga negaranya untuk menghindari perjalanan ke Iran dan meminta mereka yang berada di negara tersebut untuk meninggalkan wilayah Iran.Sementara itu, Kedutaan Besar Tiongkok di Israel juga mengeluarkan peringatan kepada warga negaranya agar tetap waspada, mengikuti instruksi resmi pemerintah setempat, menghindari lokasi sensitif, membatasi perjalanan yang tidak mendesak, serta segera mencari perlindungan ketika sirene serangan udara atau peringatan keamanan dibunyikan.
Langkah tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran internasional terhadap potensi eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.