Presiden Iran Desak Negara Muslim Lawan Agresi AS-Israel

Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Foto: Anadolu

Presiden Iran Desak Negara Muslim Lawan Agresi AS-Israel

Dimas Chairullah • 25 March 2026 09:05

Teheran: Presiden Iran Masoud Pezeshkian memanfaatkan momentum perayaan Nowruz untuk menyerukan solidaritas global.

Ia mendesak negara-negara "sahabat, bersaudara, dan Muslim" untuk tidak berpangku tangan menghadapi agresi ilegal dan tidak adil yang dilancarkan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap negaranya.

Dalam pesan resmi kepada para pemimpin negara yang merayakan festival tersebut, Pezeshkian menyampaikan ucapan selamat atas hari raya kuno yang melambangkan pembaruan. Ia menyebut Nowruz sebagai warisan budaya bersama yang seharusnya menginspirasi perdamaian.

"Nowruz adalah warisan budaya kita bersama. Menghormatinya adalah tradisi kuno yang menginspirasi orang untuk memperbarui pikiran, mengatasi dendam, serta memperdalam persahabatan dan kebaikan," ujar Pezeshkian, dikutip dari PressTV, Selasa, 24 Maret 2026.


Kecam Kejahatan terhadap Warga Sipil

Namun, suasana perayaan tahun ini dibayangi oleh ketegangan militer. Pezeshkian mengungkapkan bahwa dalam setahun terakhir, bangsa Iran telah menjadi sasaran dua agresi ilegal AS-Israel. Ia menyoroti bahwa di hari-hari menjelang Nowruz, dunia justru menyaksikan berlanjutnya kejahatan terang-terangan.
Aksi tersebut mencakup pembunuhan warga sipil dan anak-anak, serta pengeboman fasilitas krusial seperti rumah sakit, situs budaya, dan monumen bersejarah. Pezeshkian menegaskan bahwa Iran akan terus berdiri tegak membela kemerdekaan dan kedaulatan nasionalnya meski di bawah tekanan besar.

"Iran membela tanah air kunonya dengan keberanian luar biasa. Kami berharap pemerintah negara-negara Muslim tidak tinggal diam terhadap pelanggaran hukum tanpa pandang bulu dan ketidakadilan historis ini," tegasnya.


Eskalasi Konflik Sejak Februari

Situasi di kawasan memanas setelah AS dan Israel memulai babak baru agresi udara terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan ini terjadi sekitar delapan bulan setelah serangan tanpa provokasi pertama yang menyasar wilayah Iran.

Sebagai bentuk pertahanan diri, Iran telah membalas dengan melancarkan rentetan rudal dan pesawat tak berawak (drone) ke wilayah yang diduduki Israel. Selain itu, Teheran juga menargetkan sejumlah pangkalan dan kepentingan AS yang tersebar di negara-negara regional sebagai respons atas agresi tersebut.

Hingga saat ini, ketegangan di perbatasan dan wilayah udara Iran dilaporkan masih berada pada level tertinggi, memicu kekhawatiran internasional akan pecahnya perang skala besar di Timur Tengah.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)