Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Melonjak, Brent Naik 5% ke USD91,17 per Barel
Eko Nordiansyah • 1 September 2026 07:40
Houston: Harga minyak menguat pada Senin, 31 Agustus 2026, harga acuan global mencatat kenaikan harian terbesar sejak akhir Juli. Kenaikan ini dipicu oleh aksi saling serang militer antara AS dan Iran untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan, yang secara tajam meningkatkan ketegangan.
Para pedagang juga mencermati sinyal pasokan setelah Presiden Donald Trump menggembar-gemborkan kesepakatan minyak AS dengan Venezuela, yang disebutnya sebagai kesepakatan minyak terbesar dalam sejarah.
Termasuk lonjakan pada Senin, harga minyak mencatat kenaikan keseluruhan selama bulan Agustus, meskipun kenaikan tersebut jauh lebih kecil dibandingkan lonjakan pada Juli.
Dikutip dari Investing, Selasa, 1 September 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember naik lima peersen dan ditutup pada level USD91,17 per barel, sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober naik 3,5 persen dan ditutup pada level USD86,31 per barel.
Konflik AS-Iran memanas lagi
Menjelang akhir pekan lalu, situasi di Timur Tengah berada dalam jalan buntu akibat perselisihan antara AS dan Iran terkait Selat Hormuz, di mana kedua pihak secara sepihak mengklaim kendali atas jalur perairan vital tersebut.Upaya mediator regional untuk membawa kedua belah pihak ke meja perundingan sebagian besar tidak membuahkan hasil, sementara pihak-pihak yang berseteru terus saling melontarkan retorika keras. Strategi Presiden Donald Trump belakangan ini tampaknya berfokus pada upaya menekan Iran secara ekonomi.
Namun, pada Minggu malam, Komando Pusat AS menyatakan telah melakukan tindakan terbatas dan presisi terhadap pasukan penebar ranjau dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang dianggap menimbulkan ancaman nyata di selat tersebut. Langkah ini diambil hanya beberapa hari setelah Trump menyatakan bahwa jalur sempit yang krusial itu telah dibersihkan dari semua ranjau.

(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa AS telah menyerang sebagian wilayah Pulau Larak, dan sebagai tanggapan, Teheran melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS yang berlokasi di Yordania. Secara terpisah, menurut media pemerintah Yordania, negara tersebut berhasil mencegat dan menghancurkan delapan rudal.
Di sisi lain, presiden AS tersebut mengunggah video di layanan Truth Social miliknya yang memperingatkan kemungkinan tindakan terhadap terminal ekspor minyak vital Iran di Pulau Kharg.
"Iran secara resmi adalah Negara Gagal. Negara itu sudah tamat! Mereka tidak punya Angkatan Laut, tidak punya Angkatan Udara, tidak punya mata uang, tidak membayar tentara atau polisi mereka, inflasi mencapai 300 persen, dan kepemimpinan mereka kacau balau serta tidak mampu mewakili negara dengan baik," tulis Trump pada hari Minggu.
AS capai kesepakatan minyak Venezuela
Sebelum serangan baru ini menyita perhatian, pasar sempat fokus pada pengumuman Trump hari Jumat mengenai kesepakatan minyak yang dicapai dengan Venezuela. Menurut pemimpin AS tersebut, pemerintahannya telah mengamankan kendali mayoritas atas lebih dari 65 miliar barel cadangan minyak terbukti."Transaksi Bersejarah ini melipatgandakan Cadangan Minyak Amerika, sangat meningkatkan Pasokan Minyak kita, dan akan secara substansial menurunkan Harga Bahan Bakar bagi seluruh rakyat Amerika untuk jangka panjang, sekaligus membantu mengarahkan Venezuela menuju Kesuksesan Luar Biasa dan Kemakmuran Besar," ujar Trump.
Presiden menambahkan ia akan menggunakan minyak dari Venezuela untuk mengisi Cadangan Minyak Strategis (SPR) AS. Data terpisah dari pemerintah menunjukkan bahwa cadangan minyak mentah di SPR turun sebesar 3,1 juta barel pada pekan tanggal 28 Agustus menjadi total 286,6 juta barel, tingkat terendah sejak November 1982.