Pidie Jadi Pilot Project Perbaikan Sawah Rusak Terdampak Banjir

Kepala Posko Wilayah Aceh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Safrizal ZA meninjau perbaikan sawah rusak di Desa Blang Cut, Kecamatan Kembang Tanjong. Foto: Istimewa.

Pidie Jadi Pilot Project Perbaikan Sawah Rusak Terdampak Banjir

Anggi Tondi Martaon • 5 September 2026 11:11

Pidie: Penanganan dampak bencana hidrometeorologi di Kabupaten Pidie terkait sawah rusak berat menunjukkan progres sigap dan terukur. Satgas Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) menjadikan wilayah ini sebagai pilot project rehabilitasi lahan pertanian yang mengalami kerusakan parah.

Hal tersebut disampaikan Kepala Posko Wilayah Aceh Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Safrizal ZA usai melakukan kunjungan lapangan di Desa Blang Cut, Kecamatan Kembang Tanjong, Jumat, 3 September 2026. Berdasarkan data, total luasan sawah rusak berat di Kabupaten Pidie mencapai 95 hektare

“Satgas PRR telah mengerahkan alat berat untuk merehabilitasi sawah rusak berat di wilayah ini sebagai pilot project percontohan, mengingat Pidie memiliki luasan dampak yang relatif lebih kecil dibanding wilayah lain,” ujar Safrizal melalui keterangan tertulis, Sabtu, 5 September 2026.

Safrizal menambahkan, keberhasilan penanganan di Pidie nantinya akan dijadikan model acuan yang diajukan kepada Kementerian Pertanian dan Kementerian PU. Model ini dipersiapkan untuk rehabilitasi di kabupaten lain dengan skala lebih luas, seperti Aceh Utara yang mencatat kerusakan hingga 4.800 hektare dan saat ini masih dalam tahap pengkajian kebutuhan anggaran.

Dari total target 95 hektare di Kembang Tanjong, pengerjaan dipastikan tuntas 100 persen dalam waktu 30 hari. Saat peninjauan dilakukan, progres pekerjaan telah berjalan selama 9 hari dengan lancar.

Selain di Blang Cut, pelaksanaan kegiatan yang sama juga sedang berlangsung di  Desa Pante Beunot, Kecamatan Tiro, dan Desa Blang Pandak, Tangse. 

Apresiasi atas percepatan ini turut disampaikan oleh Satgas Kementerian Pertanian di Aceh Agus Susanto, yang berasal dari Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian. Menurut Agus, kolaborasi di bawah koordinasi Kementerian Dalam Negeri mampu mempercepat pemulihan dampak berat hidrometeorologi.

Banjir Aceh. Foto: Antara.

“Pengerjaan di lapangan ini sangat cepat. Area seluas 12 hektare berhasil dikerjakan dalam kurun waktu kurang lebih 9–10 hari,” ungkap Agus.

Ia memastikan kondisi lahan sudah terbuka. Material lumpur dan timbunan telah dibuang, serta telah ada kesepakatan tata letak parit bersama petani agar lahan siap kembali diolah dan ditanami.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Pidie, Hasballah, menyampaikan terima kasih atas kepedulian jajaran Satgas PRR, khususnya Safrizal ZA dan Agus, yang konsisten turun langsung memantau penanganan bencana di lapangan. Ia berharap inisiatif ini menjadi pilar percontohan bagi daerah lain.

Kepala Desa Blang Cut, Rusyidi, S. Pd, pada kesempatan itu mengucapkan terima kasih kepada Kemendagri dan Satgas PRR yang telah turun tangan menangani sawah rusak berat di desanya. 

"Tinggi lumpur hingga 81 centimeter, hampir satu meter. Alhamdulillah setelah Satgas PRR turun tangan, masalah ini selesai. Terima kasih kepada Pak Safrizal, Pak Mendagri, dan seluruh pihak yang telah membantu kami di Blang Cut, " ujar Rusyidi.

(Anggi Tondi)