Kurangi Impor, Pengrajin Tempe Minta Pemerintah Perkuat Kedelai Lokal

Produksi keripik tempe di Gang Tempe, Jalan H Aom, Kramat Pela, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri.

Kurangi Impor, Pengrajin Tempe Minta Pemerintah Perkuat Kedelai Lokal

Siti Yona Hukmana • 9 April 2026 15:43

Jakarta: Pengrajin keripik tempe di Jakarta Selatan berharap agar pemerintah memperkuat produksi kedelai lokal. Hal itu guna mengurangi ketergantungan pada kedelai impor.

"Bukan kita jelekkan di sini. Memang, sekarang kedelai lokal sudah bagus-bagus, tapi kualitas ukurannya masih kecil, masih besar kedelai impor," kata Ketua kelompok pengrajin tempe Kramat Pela Joko Asori, 57 saat ditemui di rumah produksi di Jalan H Aom, Kramat Pela, Jakarta Selatan, dilansir Antara, Kamis, 9 April 2026.

Dia mengatakan dari segi harga, kedelai lokal terbilang lebih tinggi dari kedelai asal Amerika Serikat. Apabila hanya mengandalkan kedelai lokal, kata dia, maka dikhawatirkan kebutuhan produksi tidak akan tercukupi.

"Kalau kita mengandalkan kedelai lokal, kita nggak cukup dalam waktu panen sekali untuk kebutuhan enam bulan ke depan," ujar Joko.

Meski demikian, berdasarkan hasil studi bandingnya ke Yogyakarta, dia menilai kualitas kedelai lokal kini semakin membaik. Oleh karena itu, dia berharap pemerintah memperkuat dukungan terhadap petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tempe, sehingga lebih berdaya.

"Yang kita harapkan, mudah-mudahan, petani kita, pemerintah kita, menteri kita mengutamakan pengrajin tempe, karena tempe itu bergelut dengan kedelai dari petani Indonesia," ujar Joko.

Sebelumnya, pengrajin keripik tempe di Jakarta Selatan menaikkan harga produknya seiring lonjakan harga kedelai impor yang dipicu dinamika global, termasuk ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Harga keripik tempe sebelumnya Rp65.000 per kilogram (kg), naik menjadi Rp70.000 per kg. 

Ilustrasi bahan pokok di pasar. Foto: Metrotvnews.com/Laura Sibarani.

Tak hanya kedelai, kenaikan dialami pada harga plastik yang semula Rp32.000-Rp33.000 per kg, menjadi Rp50.000 bahkan lebih per kg. Akibat kenaikan harga tersebut, Joko menyiasati dengan mengurangi berat pada produknya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memastikan ketahanan pangan nasional tetap aman meski terjadi perang di Timur Tengah. Sebab, Indonesia tidak bergantung pada impor dari kawasan tersebut.

Masyarakat juga diimbau tidak khawatir mengenai dampak perang di Timur Tengah terhadap ketersediaan pangan. Stok dan pengadaan pangan dalam negeri dipastikan aman dan terkendali, sehingga masyarakat diminta tidak melakukan pembelian secara berlebihan. 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Siti Yona Hukmana)