Dewan Redaksi Media Group, Jaka Budi Santosa. Foto: Media Indonesia (MI)/Ebet.
Podium Media Indonesia: Inspirasi Presiden Lee
Media Indonesia • 24 September 2026 06:35
'Daehan-gukmin-ui daepyo gongbok-euroseo minjok-ui myeongjeol Chuseok-eul apdugo, yeojeonhi eoryeoun hwangyeong-eseo himgyeoun ilsang-eul sal-agago gyesin gukmin yeoreobun-kke songgu-han maeum-euro insadrimnida'.
Arti kalimat dalam bahasa Korea Selatan itu kira-kira 'Sebagai pelayan publik dari rakyat Korea, menjelang hari raya nasional Chuseok, saya menyampaikan salam dengan perasaan bersalah dan penuh penyesalan kepada warga yang masih berjuang menjalani keseharian dalam kondisi sulit'.
Kalimat itu disampaikan Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung pada 18 September 2026. Ia merasa bersalah dan meminta maaf kepada rakyatnya. Kenapa? Ia terang-terangan mengaku belum bisa memuaskan keinginan rakyatnya. Rakyat Korea Selatan kini memang hidup dalam kesulitan. Tidak baik-baik saja. Mereka kecewa berat atas kepemimpinan yang ada. Tak mengherankan jika penilaian atas kinerja Lee buruk nian.
Dalam survei terkini, tingkat kepuasan rakyat terhadap pemerintah anjlok ke titik terendah. Di angka 37%. Terburuk sejak Lee berkuasa pada 4 Juni 2025. Terutama terkait dengan perekonomian. Beban hidup masyarakat 'Negeri Ginseng' itu semakin berat.
Siapa yang paling bertanggung jawab? Untungnya, Presiden Lee berjiwa kesatria. Ia tak sibuk mencari alasan, mengais alibi. Tak suka kambing hitam. Sebagai orang nomor satu di negaranya, ia siap menanggung semua yang terjadi.
Padahal, kalau mau, ia bisa saja menyalahkan pendahulunya. Bisa juga menyalahkan faktor asing, yakni tekanan Presiden Amerika Donald Trump, terlebih setelah Korea menolak membantu AS dalam perang lawan Iran. Atau sekalian menyalahkan rakyat yang kurang sabar. Namun, Lee memilih kalimat yang paling langka untuk diucapkan seorang pemimpin, 'saya salah, saya minta maaf'.

Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung. Foto: Anadolu Agency.
Permintaan maaf itu pun disampaikan pada forum resmi. Pada konferensi pers yang digelar mendadak. Banyak kata yang menunjukkan kebesaran jiwa. Selain meminta maaf, ia berjanji introspeksi lalu sekuat tenaga mengembalikan agenda pemerintahan ke jalur yang benar. Ia mengaku terkejut dengan tingkat kekecewaan rakyat yang begitu parah.
Namun, sekali lagi, ia tak ingin menyalahkan siapa pun, terutama rakyat. Baginya, ada satu kesimpulan, yakni rakyat selalu benar.
Di belahan dunia lain mungkin ada pemimpin yang dikritik tapi menolak mentah-mentah kritik itu, tapi di Seoul, ketika dukungan merosot dan kritik mengeras, presidennya memilih rendah hati untuk introspeksi. Tidak jemawa. Tidak nyinyir. Tidak melontarkan kata-kata kasar.
Tentu kita boleh curiga. Jangan-jangan apa yang dilakukan Lee hanya gimik. Pencitraan tingkat tinggi, kata maaf cuma strategi untuk membalikkan angka survei. Politik memang tak pernah steril dari taktik dan kalkulasi. Namun, mari kita jujur, mengaku salah saja di zaman sekarang sudah menjadi barang supermewah. Lagi pula, bukankah mengakui salah jauh lebih bermoral ketimbang pencitraan untuk menutupi kesalahan?
Kita terlalu sering melihat pemimpin yang mengalami tingkat kepercayaan rakyat menurun tajam, tapi tetap tinggi hati. Ogah mengaku salah. Enggan menerima masukan. Seolah jabatan itu hanya untuk menerima bunga, bukan sesekali merasakan tusukan duri.
Mengaku ada yang salah kiranya penting untuk memperbaiki kesalahan. Merasa semua benar ialah pertanda sekaligus petaka bahwa kesalahan akan terus terulang dan terulang. Dengan mengaku salah, dengan meminta maaf, Lee kiranya punya bekal berharga untuk mengembalikan kepercayaan rakyat. Memulihkan kepuasan publik. Mengaku salah ialah modal.
Menyalahkan pihak lain juga modal, tapi modal untuk bangkrut.
Bagaimana mau berbenah kalau mengakui ada masalah saja ogah?
Korea terkenal dengan drama mereka, tapi rakyat Korea tentu tidak butuh drama kata-kata. Mereka butuh ekonomi lekas membaik setelah permintaan maaf sang presiden. Maaf tanpa koreksi hanyalah lipstik. Namun, tanpa maaf, koreksi tidak pernah akan dimulai. Kita tunggu saja aksi Lee.
Apa pun, ada pelajaran apik dari sikap Lee, yaitu pemimpin yang hebat bukan yang tidak pernah salah, melainkan yang ketika disodori kaca berupa ambruknya tingkat kepuasan, ia mau becermin. Tidak buruk muka cermin dibelah. Beda dengan pemimpin di sejumlah negara lain yang lebih suka memecahkan cermin, lalu melemparkan pecahannya ke orang lain.
Kaisar Romawi pada 161-180 M yang juga seorang filsuf, Marcus Aurelius, menekankan pentingnya kejujuran dalam diri seorang pemimpin. Dalam buku catatannya berjudul Meditations, ia sering menulis pesan kepada dirinya sendiri untuk tetap jujur dan selalu siap menerima koreksi jika keputusannya salah.
Benar belaka bahwa kejujuran yang paling sulit ialah jujur kepada diri sendiri. Kejujuran yang paling mahal bagi pemimpin ialah mengaku salah di depan rakyatnya. Di Seoul, kita baru saja menyaksikan pelaksanaan kata-kata mulia itu. Lee banyak diapresiasi. Ia bisa jadi inspirasi bagi pemimpin di lain negeri.