Banjir Bandang Solok, Keselamatan Warga Harus Jadi Prioritas

Anggota DPR RI dapil Sumbar I Athari Gauthi Ardi. Foto: Istimewa.

Banjir Bandang Solok, Keselamatan Warga Harus Jadi Prioritas

Anggi Tondi Martaon • 22 September 2026 11:13

Jakarta: Banjir bandang atau galodo menerjang kawasan Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatra Barat (Sumbar), Senin malam, 21 September 2026. Seluruh pihak diminta bergerak cepat untuk memastikan keselamatan masyarakat.

“Yang paling utama saat ini adalah keselamatan masyarakat. Jangan sampai kita terlambat bertindak ketika warga masih menghadapi ancaman. Evakuasi, pertolongan, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat harus menjadi prioritas bersama," kata Anggota DPR RI Athari Gauthi Ardi melalui keterangan tertulis, Selasa, 22 September 2026.

Athari menyampaikan keprihatinan mendalam atas musibah tersebut. Dia menegaskan penanganan bencana tidak boleh hanya berfokus pada pembersihan material dan pemulihan infrastruktur. 

Menurut Athari, kondisi warga yang berada di kawasan terdampak harus menjadi perhatian pertama. Terutama pada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, perempuan, dan masyarakat yang membutuhkan pertolongan. 

"Infrastruktur bisa kita bangun kembali, kantor bisa diperbaiki, jalan bisa dibersihkan. Tetapi keselamatan dan nyawa manusia tidak bisa digantikan," ungkap anggota Fraksi PAN tersebut.

Athari juga meminta pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, Basarnas, relawan dan seluruh unsur terkait memperkuat koordinasi di lapangan. Termasuk melakukan penyisiran terhadap wilayah yang terdampak.

“Jangan anggap kondisi sudah aman hanya karena air mulai surut. Potensi banjir bandang atau longsor susulan harus diantisipasi. Masyarakat yang berada di titik rawan harus mendapatkan informasi yang jelas dan diarahkan ke tempat yang benar-benar aman," sebut Athari

Athari mengatakan dirinya akan terus memantau perkembangan penanganan bencana di Arosuka dan berkoordinasi dengan pihak terkait. Sehingga, kebutuhan masyarakat terdampak dapat segera ditangani.

“Saya akan ikut mengawal agar penanganan masyarakat terdampak tidak berhenti pada hari ini. Setelah fase evakuasi selesai, kita harus memastikan kebutuhan warga, pemulihan rumah, fasilitas umum, akses jalan, hingga pemulihan kehidupan masyarakat juga mendapat perhatian," ujar Athari.

Material banjir bandang berupa lumpur yang menutupi halaman masjid di sekitar kompleks perkantoran bupati Solok, Sumatera Barat. ANTARA/HO-Dokumentasi warga setempat.

Menurut dia, musibah yang terjadi di Arosuka merupakan momentum untuk memperkuat sistem mitigasi dan kesiapsiagaan bencana. Khususnya di wilayah Sumbar yang memiliki kerentanan terhadap banjir bandang dan longsor.

“Kita tidak ingin setiap bencana baru membuat kita kembali sibuk mencari solusi. Mitigasi harus diperkuat, titik-titik rawan harus dipetakan, sistem peringatan dini harus berjalan, dan masyarakat harus mendapatkan edukasi yang memadai. Keselamatan warga harus menjadi prinsip pertama dalam setiap kebijakan pembangunan," kata Athari

Hingga Selasa, 22 September 2026, tim gabungan masih melakukan penanganan dan pendataan dampak galodo. Laporan sementara menyebut sejumlah warga mengalami luka dan sekitar 100 rumah terdampak, sementara sejumlah fasilitas pemerintahan serta akses jalan juga mengalami kerusakan. Data tersebut masih dapat berubah seiring proses asesmen di lapangan.

(Anggi Tondi)