Ilustrasi: OECD
Daftar 25 Negara dengan Skor PISA 2025 Tertinggi
Riza Aslam Khaeron • 22 September 2026 19:59
Jakarta: Negara mana yang penduduknya paling mahir matematika? Kemampuan matematika masyarakat secara keseluruhan memang sulit dibandingkan secara langsung antarnegara.
Namun, salah satu gambaran yang paling luas digunakan berasal dari Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD), di mana edisi terbaru tahun 2025 baru saja dirilis bulan ini, September 2026.PISA mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa berusia 15 tahun dalam bidang matematika, membaca, dan sains. Oleh karena itu, istilah "penduduk paling mahir matematika" dalam daftar ini merujuk pada kemampuan matematika pelajar usia 15 tahun, bukan populasi keseluruhan suatu negara.
Pada PISA 2025, matematika kembali diuji bersama sains, membaca, dan kemampuan pemecahan masalah komputasional. Di mana lebih dari 760 ribu siswa yang mewakili sekitar 33 juta anak berusia 15 tahun di 91 negara dan ekonomi mengikuti tes ini.
Lebih banyak daripada edisi sebelumnya pada tahun 2022 di mana 700 ribu siswa dari 81 negara dan ekonomi mengikuti program tersebut. Hasil terbaru menunjukkan kesenjangan yang cukup signifikan. Rata-rata siswa di negara-negara OECD memperoleh 463 poin matematika, sementara B-S-J-Z (Tiongkok) mencapai 612 poin. Singapura berada di posisi berikutnya dengan 563 poin.
Perlu diperhatikan bahwa OECD menggunakan istilah negara dan ekonomi karena sejumlah peserta PISA bukan merupakan negara berdaulat. B-S-J-Z (Tiongkok), misalnya, hanya mencakup wilayah Beijing, Shanghai, Jiangsu, dan Zhejiang, bukan seluruh daratan Tiongkok. Berikut adalah daftarnya:
Daftar 25 Negara dengan Kemampuan Matematika Tertinggi

Ilustrasi: Pexels
Berikut ini 25 negara dan ekonomi dengan skor PISA 2025 tertinggi:
- B-S-J-Z (Tiongkok): 612 poin
- Singapura: 563 poin
- Makau (Tiongkok): 549 poin
- Chinese Taipei: 546 poin
- Jepang: 525 poin
- Korea Selatan: 522 poin
- Hong Kong (Tiongkok): 522 poin
- Estonia: 508 poin
- Swiss: 499 poin
- Inggris Raya: 488 poin
- Kanada: 485 poin
- Polandia: 484 poin
- Belanda: 483 poin
- Selandia Baru: 480 poin
- Irlandia: 480 poin
- Belgia: 480 poin
- Australia: 478 poin
- Austria: 477 poin
- Ceko: 477 poin
- Denmark: 471 poin
- Lituania: 470 poin
- Finlandia: 469 poin
- Slovakia: 469 poin
- Italia: 468 poin
- Jerman: 464 poin
Asia Timur Kuasai Peringkat Teratas
Salah satu pola yang paling mencolok dari hasil PISA 2025 adalah dominasi sistem pendidikan Asia Timur. Enam dari tujuh posisi teratas ditempati oleh B-S-J-Z (Tiongkok), Makau, Chinese Taipei, Jepang, Korea Selatan, dan Hong Kong. Singapura dari Asia Tenggara menjadi satu-satunya peserta lain yang menembus kelompok papan atas tersebut.B-S-J-Z (Tiongkok) bahkan unggul cukup jauh dengan 612 poin, atau 49 poin lebih tinggi dari Singapura yang berada di posisi kedua dengan 563 poin. Sementara itu, Makau memperoleh 549 poin dan Chinese Taipei 546 poin.
OECD menyebut B-S-J-Z dan Singapura sebagai dua sistem pendidikan dengan performa tertinggi secara keseluruhan dalam matematika, sains, dan membaca pada PISA 2025. Dominasi tersebut juga terlihat pada kelompok siswa dengan kemampuan matematika tertinggi. Sebanyak 54 persen siswa B-S-J-Z (Tiongkok) berhasil mencapai Level 5 atau 6 dalam matematika.
Angka tersebut mencapai 37 persen di Singapura, 32 persen di Taipei, 29 persen di Makau, 23 persen di Korea Selatan, 22 persen di Jepang, dan 21 persen di Hong Kong. Sebagai pembanding, rata-rata negara OECD hanya berada di angka sekitar 8 persen.
Pada Level 5 dan 6, siswa tidak sekadar mampu melakukan perhitungan rutin, melainkan sudah dapat menangani persoalan yang lebih kompleks dengan penalaran matematika tingkat tinggi.
Estonia Jadi yang Tertinggi di Eropa
Di luar Asia, Estonia menjadi negara yang paling menonjol. Negara kawasan Baltik tersebut memperoleh 508 poin dan menduduki posisi kedelapan dalam daftar peringkat matematika PISA 2025. Estonia juga termasuk dalam kelompok sistem pendidikan yang mampu menggabungkan performa akademik tinggi dengan tingkat kesetaraan sosial-ekonomi yang relatif baik.OECD memasukkan Estonia bersama B-S-J-Z (Tiongkok), Kanada, Irlandia, Jepang, Korea Selatan, dan Makau sebagai contoh sistem yang menunjukkan performa kuat sekaligus socio-economic fairness.
Capaian skor matematika Estonia bahkan mengungguli negara-negara Eropa yang selama ini memiliki reputasi pendidikan kuat, seperti Swiss, Inggris Raya, Finlandia, Jerman, Belanda, dan negara-negara Nordik lainnya.
Kemampuan Matematika di Negara OECD Justru Terus Menurun
Di balik capaian negara-negara teratas, laporan PISA 2025 membawa kabar yang kurang menggembirakan mengenai tren global. Rata-rata skor matematika negara anggota OECD turun menjadi 463 poin, yang merupakan tingkat rata-rata terendah yang pernah tercatat dalam sejarah PISA.Dibandingkan PISA 2022, skor matematika rata-rata di 35 negara OECD yang memiliki data pembanding mengalami penurunan sekitar 9 poin. OECD juga menemukan bahwa penurunan kemampuan matematika menjadi semakin tajam setelah tahun 2018.
Beberapa negara yang masih bertahan di kelompok 25 besar pun tak luput dari penurunan. Singapura turun 12 poin dari 575 pada 2022 menjadi 563 pada 2025, Jepang turun 10 poin menjadi 525, sementara Finlandia turun 15 poin menjadi 469. Hong Kong mencatat penurunan yang lebih besar, yakni 19 poin, dari 540 menjadi 522.
Hal ini menunjukkan bahwa berada di kelompok teratas tidak selalu menandakan kemampuan matematika siswanya sedang meningkat.
Latar Belakang Ekonomi Masih Berpengaruh Besar
Hasil PISA juga menunjukkan bahwa kemampuan matematika tidak dapat dilepaskan dari kondisi sosial-ekonomi siswa.Rata-rata di negara OECD, siswa yang berasal dari kelompok sosial-ekonomi lebih beruntung mencetak skor matematika 83 poin lebih tinggi dibandingkan siswa dari kelompok kurang beruntung. Sekitar 12 persen variasi kemampuan matematika di dalam negara-negara OECD dapat dikaitkan dengan perbedaan status sosial-ekonomi.
Menariknya, kesenjangan sosial-ekonomi dalam matematika secara rata-rata menyempit antara tahun 2022 dan 2025. Namun, OECD memperingatkan bahwa penyempitan tersebut umumnya bukan disebabkan oleh peningkatkan performa siswa kurang mampu yang signifikan, melainkan karena penurunan skor yang lebih besar pada kelompok siswa berada.
Gawai dan AI Tidak Otomatis Membuat Siswa Lebih Pintar
PISA 2025 turut menyoroti hubungan antara penggunaan teknologi digital dan proses belajar. Penggunaan perangkat digital secara terbatas atau moderat untuk kegiatan pembelajaran di sekolah terbukti berkaitan dengan hasil akademik yang lebih baik.Namun, pola tersebut berbalik ketika perangkat digunakan untuk hiburan saat kegiatan belajar berlangsung. OECD menemukan bahwa penggunaan digital untuk kegiatan nonbelajar berkaitan dengan penurunan performa siswa. Sekitar 28 persen siswa mengaku teman sekelas mereka terdistraksi oleh perangkat digital dalam sebagian besar atau setiap pelajaran sains.
Sebaliknya, di B-S-J-Z (Tiongkok), Jepang, dan Korea Selatan, proporsinya kurang dari 10 persen. Laporan tersebut juga membahas peran kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). OECD menemukan bahwa hubungan antara penggunaan AI dan prestasi siswa cukup kompleks.
Penggunaan AI yang sering tidak dengan sendirinya menghasilkan nilai lebih tinggi, tetapi kesempatan untuk mempelajari literasi AI dapat membantu siswa memanfaatkan teknologi tersebut secara lebih efektif.
Baca Juga :
Rupiah di Level Rp18.149/USD Senin Pagi Ini
Indonesia Nomor Berapa?
Dalam PISA 2025, siswa Indonesia memperoleh rata-rata 364 poin dalam bidang matematika, masih berada di bawah rata-rata OECD sebesar 463 poin. Jika skor rata-rata seluruh peserta diurutkan, Indonesia berada di sekitar peringkat 78 dari 90 negara dan ekonomi yang berpartisipasi.Skor ini turun dua poin dibandingkan PISA 2022 yang mencapai 366 poin. Meski demikian, OECD menyatakan perubahan tersebut tidak signifikan secara statistik, sehingga kemampuan matematika siswa Indonesia pada dasarnya relatif stabil dibandingkan tiga tahun sebelumnya.
Tantangan terbesar Indonesia terletak pada penguasaan kemampuan dasar. Hanya sekitar 17 persen siswa Indonesia yang mencapai setidaknya Level 2 dalam matematika, sedangkan rata-rata OECD mencapai 65 persen. Selain itu, hampir tidak ada siswa Indonesia yang mencapai Level 5 atau Level 6, dibandingkan rata-rata OECD sebesar 8 persen.
Pada Level 2, siswa idealnya mampu mengenali bagaimana situasi sederhana dapat direpresentasikan secara matematis tanpa petunjuk langsung, seperti membandingkan jarak dua rute atau mengonversi harga ke mata uang lain.
Hasil ini menunjukkan bahwa mayoritas siswa Indonesia berusia 15 tahun belum secara konsisten mencapai tingkat kecakapan matematika dasar yang ditetapkan PISA. Kendati demikian, terdapat satu temuan menarik. Berbeda dengan pola rata-rata OECD, siswi di Indonesia mengungguli siswa laki-laki sekitar enam poin dalam bidang matematika pada PISA 2025.
Pencapaian Indonesia ini perlu dicermati bersamaan dengan semakin meluasnya akses pendidikan.
Kemendikdasmen mencatat coverage index Indonesia, proporsi anak usia 15 tahun yang terjangkau oleh sistem pendidikan dan populasi sasaran PISA, meningkat pesat dari sekitar 0,46 pada 2003 menjadi 0,90 pada 2025. Artinya, hasil PISA terbaru mencakup bagian populasi usia 15 tahun yang jauh lebih luas dibandingkan pada awal keikutsertaan Indonesia.
“Di tengah tren skor sains, membaca, dan matematika negara-negara OECD yang menurun selama 25 tahun terakhir, performa pendidikan Indonesia relatif stabil, bahkan Indonesia naik di literasi dan sains," jelas Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Toni Toharudin dalam siaran pers, Selasa, 8 September 2026.