Rupiah di Level Rp18.149/USD Senin Pagi Ini

Rupiah. Foto: dok MI.

Rupiah di Level Rp18.149/USD Senin Pagi Ini

Husen Miftahudin • 8 June 2026 10:06

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan di pagi awal pekan ini mengalami pelemahan cukup dalam.

Mengutip data Bloomberg, Senin, 8 Juni 2026, rupiah hingga pukul 09.57 WIB berada di level Rp18.145 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun sebanyak 109 poin atau setara 0,60 persen dari Rp18.036 per USD pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah pada waktu yang sama berada di level Rp18.035 per USD. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah pada hari ini akan bergerak secara fluktuatif, meski demikian rupiah diprediksi akan melemah.

"Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp18.030 per USD hingga Rp18.100 per USD," jelas Ibrahim.
 

Baca juga: Purbaya: Pelemahan Rupiah-IHSG tak Sesuai Fundamental Ekonomi RI


(Ilustrasi kurs rupiah terhadap dolar AS. Foto: MI/Susanto)
 

OECD pangkas proyeksi ekonomi Indonesia


Ibrahim mengungkapkan pergerakan rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) yang kembali memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 menjadi 4,7 persen pada 2026, turun dari 4,8 persen dalam laporan sebelumnya.

"OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi baru kembali menguat ke level 5,0 persen pada 2027 setelah tekanan eksternal mulai mereda," terang Ibrahim.

OECD menilai kenaikan biaya energi dan ketidakpastian global akan membebani konsumsi rumah tangga serta investasi, seiring pelemahan pasar tenaga kerja domestik. Meski melambat, ekonomi Indonesia dinilai masih lebih resilien dibandingkan banyak negara berkembang lain karena ketergantungan yang lebih rendah terhadap impor energi dari kawasan tersebut. 

OECD mencatat ekonomi Indonesia sebenarnya memulai 2026 dengan cukup kuat. Produk domestik bruto (PDB) tumbuh 5,6 persen secara tahunan pada kuartal I-2026, ditopang permintaan domestik dan belanja pemerintah yang melonjak 21,8 persen.

Konsumsi rumah tangga dan investasi juga tetap solid setelah pelonggaran kebijakan moneter sepanjang 2025 mendorong penurunan biaya pinjaman. Namun, sejumlah indikator terbaru mulai menunjukkan pelemahan momentum ekonomi.

Penjualan ritel tercatat turun 1,9 persen secara tahunan pada April 2026. Keyakinan konsumen juga mulai melemah, terutama terkait ekspektasi lapangan kerja. 

Di sisi lain, tekanan inflasi mulai meningkat akibat lonjakan harga energi global. OECD memperkirakan inflasi Indonesia naik menjadi 3,4 persen pada 2026 dari sebelumnya 1,9 persen pada 2025. Kenaikan tersebut dipicu dampak lanjutan harga energi global terhadap harga domestik, meski pemerintah masih menahan harga BBM subsidi.

(Husen Miftahudin)