Megawati Hadiri Final Soekarno Cup 2026 di Surabaya, Semangat Bung Karno dan Bung Tomo Diwariskan kepada Talenta Muda

Megawati hadir bersama putranya, M. Prananda Prabowo, pada penutupan Soekarno Cup 2026 di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur, Senin malam, 24 Agustus 2026 (Foto:ANTARA/HO-PDIP)

Megawati Hadiri Final Soekarno Cup 2026 di Surabaya, Semangat Bung Karno dan Bung Tomo Diwariskan kepada Talenta Muda

Amaluddin • 25 August 2026 07:54

Surabaya: Turnamen sepak bola usia muda Soekarno Cup 2026 resmi berakhir di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, Jawa Timur, Senin malam, 24 Agustus 2026. Kompetisi yang mempertemukan 400 talenta muda dari 16 provinsi tersebut tidak hanya menjadi ajang perebutan gelar juara, tetapi juga ruang untuk menanamkan semangat perjuangan, sportivitas, persatuan, dan nasionalisme kepada generasi muda.
 
Penutupan Soekarno Cup 2026 semakin istimewa dengan kehadiran Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Megawati menyaksikan langsung laga final yang mempertemukan Tim Banteng Jawa Barat melawan Tim Banteng Bali.
 
Megawati hadir bersama putranya, M. Prananda Prabowo, Ketua DPP PDI Perjuangan sekaligus inisiator Soekarno Cup. Rombongan tiba di Stadion GBT menjelang pertandingan dimulai atau kick off. Turut hadir Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto dan Ketua Panitia Pusat Soekarno Cup 2026 Komarudin Watubun.
 


Hasto mengatakan kehadiran Megawati dan Prananda memberikan semangat tambahan bagi para pemain yang tampil di partai puncak.
 
"Kehadiran Ibu Megawati Soekarnoputri bersama Mas Prananda pada pertandingan final menjadi bentuk dukungan terhadap para pemain yang telah berjuang sepanjang kompetisi," kata Hasto di Stadion GBT, Surabaya, dikutip ANTARA.
 
Laga Jawa Barat versus Bali menjadi puncak rangkaian Soekarno Cup 2026. Kedua tim berhasil melaju ke partai final setelah melewati rangkaian pertandingan dan berhak memperebutkan gelar juara di hadapan para kader, simpatisan, pencinta sepak bola, serta masyarakat yang memenuhi stadion.
 
"Para pemain kedua kesebelasan diharapkan memberikan penampilan terbaik di hadapan Ibu Megawati, Mas Prananda, jajaran PDI Perjuangan, serta para pendukung yang hadir langsung di stadion," ujarnya.
 

Mempertemukan Bung Karno dan Bung Tomo

 
Ketua Panitia Nasional Soekarno Cup, Komarudin Watubun, mengatakan pemilihan Surabaya sebagai lokasi final memiliki makna historis yang kuat.
 
Surabaya merupakan kota kelahiran Bung Karno. Sementara stadion tempat pertandingan final digelar menggunakan nama Bung Tomo, salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan arek-arek Suroboyo.
 
"Malam final ini bukan sekadar pertandingan biasa. Malam ini kita menyatukan dua nama besar yang menentukan Merah-Putihnya sejarah bangsa: Bung Karno dan Bung Tomo," kata Komarudin dalam sambutannya di lokasi acara.
 
Menurut dia, pertemuan simbolik dua tokoh tersebut dengan ratusan pesepak bola muda mengandung pesan penting tentang kesinambungan perjuangan antargenerasi.
 
Di satu sisi, terdapat sejarah perjuangan kemerdekaan yang diwariskan Bung Karno dan Bung Tomo. Di sisi lain, terdapat generasi muda yang tengah mempersiapkan diri untuk menjadi bagian dari masa depan Indonesia.
 

(Foto:Metrotvnews.com/Amaluddin)
 
"Di stadion ini, nama mereka menyatu dengan gemuruh suara penonton dan semangat para talenta muda akar rumput dari pelosok Tanah Air yang berlaga di panggung nasional ini," katanya.
 
Final yang disaksikan hampir 20.000 penonton itu, lanjut Komarudin, menunjukkan bahwa semangat perjuangan dapat diterjemahkan dalam bentuk berbeda oleh setiap generasi.
 
Jika generasi sebelumnya memperjuangkan kemerdekaan melalui keberanian dan pengorbanan, generasi saat ini memiliki tantangan untuk mengisi kemerdekaan melalui prestasi dan kontribusi di bidang masing-masing.
 
"Mereka melihat api perjuangan yang dahulu mereka nyalakan, kini terus menyala di dada generasi muda," ujar Komarudin.
 

Surabaya dan Jejak Sejarah Bung Karno

 
Lebih lanjut Komarudin menegaskan Surabaya bukan sekadar lokasi penyelenggaraan final Soekarno Cup 2026. Kota tersebut memiliki hubungan historis yang kuat dengan Bung Karno.
 
Proklamator sekaligus Presiden pertama RI itu lahir di Surabaya pada 6 Juni 1901. Masa remajanya juga banyak dihabiskan di kota tersebut. Bung Karno pernah tinggal di rumah tokoh pergerakan nasional HOS Tjokroaminoto.
 
Di Surabaya pula pemikiran Bung Karno tentang Indonesia berkembang melalui pergaulan dengan masyarakat serta interaksinya dengan para tokoh pergerakan nasional.
 
Sementara itu, nama Bung Tomo melekat erat dengan sejarah perjuangan Surabaya. Pada 10 November 1945, ketika rakyat Surabaya menghadapi pasukan Sekutu, Bung Tomo dikenal melalui siaran radionya yang membangkitkan keberanian masyarakat untuk mempertahankan kemerdekaan.
 
Semangat keberanian, persatuan, dan pengorbanan yang melekat pada kedua tokoh tersebut kemudian dibawa ke panggung Soekarno Cup melalui kompetisi sepak bola usia muda.
 

Bukan Sekadar Ajang Pencarian Bakat

 
Komarudin mengatakan kehadiran 400 pemain muda dari 16 provinsi menunjukkan sepak bola dapat menjadi medium untuk mempertemukan anak-anak Indonesia dari berbagai latar belakang.
 
Para pemain tidak hanya berkompetisi untuk menjadi juara, tetapi juga mendapatkan pengalaman bertanding dalam atmosfer kompetisi tingkat nasional.
 
Karena itu, Soekarno Cup diharapkan tidak berhenti sebagai turnamen pencarian bakat. Kompetisi tersebut juga diarahkan menjadi bagian dari proses pembentukan karakter pemain muda agar memiliki kedisiplinan, sportivitas, keberanian, dan cita-cita besar.
   
Komarudin kemudian mengutip pesan Bung Karno tentang kekuatan pemuda.
 
"Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia," kata Bung Karno sebagaimana dikutip Komarudin.
 
Menurutnya, pesan tersebut harus dimaknai sebagai bentuk keyakinan terhadap potensi generasi muda Indonesia.
 
"Itu adalah keyakinan bahwa pemuda Indonesia memiliki tenaga, keberanian, kreativitas, dan semangat untuk membawa bangsa ini menjadi bangsa yang besar," katanya.
 
Sesuai pesan inisiator Soekarno Cup, Prananda Prabowo, para peserta diharapkan tidak hanya tumbuh sebagai pesepak bola dengan kemampuan teknis. Mereka juga didorong menjadi generasi yang memiliki karakter kuat, disiplin, menjunjung tinggi sportivitas, serta berani bermimpi besar.
 
Hasto menambahkan, partai final sekaligus menjadi penutup rangkaian Soekarno Cup 2026 dengan membawa pesan bahwa olahraga dapat menjadi jalan untuk memperkuat persatuan, sportivitas, persaudaraan, dan nasionalisme.
 
Meski bertanding untuk memperebutkan gelar juara, kedua kesebelasan diharapkan tetap mengedepankan sportivitas dan persaudaraan.
 
"Melalui sepak bola, semangat Bung Karno diharapkan terus hidup di tengah generasi muda: berani berjuang, bekerja bersama, pantang menyerah, menjunjung sportivitas, dan memberikan yang terbaik untuk Indonesia," tutur Hasto.

(Rosa Anggreati)