Wall Street Merosot Imbas Pelemahan Saham Sektor Cip dan Laporan Laba Bank

Ilustrasi Wall Street. Foto: Xinhua/Michael Nagle

Wall Street Merosot Imbas Pelemahan Saham Sektor Cip dan Laporan Laba Bank

Eko Nordiansyah • 14 October 2026 08:15

New York: Wall Street berakhir sedikit lebih rendah pada Selasa, 13 Oktober 2026, dalam sesi perdagangan yang fluktuatif. Indeks blue-chip Dow Jones Industrial Average berbalik turun setelah sempat mencatat kenaikan dan akhirnya ditutup di zona merah, menyusul serangkaian laporan kinerja kuartalan dari sejumlah perusahaan anggotanya.

Saham-saham yang terkait dengan industri memori tetap berada di bawah tekanan di tengah kekhawatiran mengenai persaingan dari perusahaan Tiongkok terhadap perusahaan kecerdasan buatan (AI) AS.

Sementara itu, harga minyak cenderung stagnan dan pasar obligasi AS menunjukkan kinerja yang beragam saat para pedagang instrumen pendapatan tetap (fixed-income) kembali beraktivitas usai libur Columbus Day.

Dikutip dari Investing, Rabu, 14 Oktober 2026, indeks acuan S&P 500 ditutup hampir tidak berubah di level 7.806,26 poin. Sedangkan indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,2 persen dan berakhir di level 27.204,38 poin. Indeks Dow turun 0,4 persen dan ditutup pada level 51.670,99 poin, menghapus kenaikan yang sempat mencapai 0,9 persen.

Saham perusahaan cip mencatatkan penurunan

Micron Technology melanjutkan tren penurunannya dan mencatat pelemahan selama empat hari berturut-turut. Hal ini sebagian dipicu oleh laporan mengenai kemajuan yang dicapai oleh perusahaan Tiongkok, ChangXin Memory Technologies, yang memicu kekhawatiran kesenjangan dalam perlombaan AI antara perusahaan AS dan pesaingnya dari Tiongkok mungkin kian menyempit.

Sebelumnya di Asia, indeks acuan Korea Selatan, Kospi anjlok 5,5 persen.

Pada Senin, dalam konferensi DBS Asia Future Forward, petinggi Intel Lip-Bu Tan membahas mengenai biaya yang lebih rendah di Tiongkok.

"Anda berbicara tentang biaya token yang lebih rendah di Tiongkok, itu benar. Saat ini, misalnya, di perusahaan AS, kami mencoba menerapkan AI, dan jika biaya token tidak dikendalikan, biayanya bisa menjadi tak terkendali. Sementara itu, biaya token untuk model AI mutakhir (frontier model) di Tiongkok jauh lebih rendah dan tingkat adopsinya sangat cepat," ujar dia.

Dalam acara yang sama, CEO Broadcom Hock Tan menyinggung soal investasi di bidang AI. "Sebagian besar perusahaan di luar sana tidak bisa mendapatkan imbal hasil investasi yang berarti (dari AI). Saya katakan pada Anda, orang-orang hanya membuang-buang uang dan sumber daya demi mencoba memahaminya," kata dia.
(Ilustrasi. Foto: Dok Freepik)

JPMorgan pimpin laporan kinerja keuangan bank

Pada Selasa, perhatian Wall Street tertuju pada padatnya jadwal rilis laporan keuangan, yang terutama menyoroti laporan kuartalan dari empat bank terbesar di AS berdasarkan aset konsolidasi.

JPMorgan mencatatkan laba kuartalan yang meleset dari perkiraan; bank terbesar ini terdampak oleh penurunan pendapatan dari pasar pendapatan tetap (fixed-income) untuk pertama kalinya sejak kuartal pertama 2024.

Namun, harga sahamnya sempat pulih setelah raksasa perbankan tersebut menaikkan proyeksi pendapatan bunga bersih untuk tahun penuh 2026 menjadi sekitar USD106,2 miliar, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar USD105,5 miliar.

"Ekonomi AS terus didorong oleh investasi bisnis yang kuat dan belanja konsumen yang berkelanjutan. Namun, defisit fiskal yang besar, inflasi yang sulit turun, harga aset yang tinggi, kenaikan suku bunga, serta kondisi geopolitik terus mengalami perubahan di balik layar," kata CEO JPMorgan, Jamie Dimon, dalam sebuah pernyataan.

Saham JPMorgan kemudian kehilangan kenaikan awalnya dan akhirnya ditutup turun 0,8 persen.

Citi, bank terbesar ketiga di AS berdasarkan aset konsolidasi, mencatatkan kinerja yang melampaui ekspektasi pasar baik dari segi pendapatan maupun laba, dengan laba bersih melonjak 40 persen secara tahunan (year-on-year) menjadi USD5,25 miliar.

CEO Jane Fraser menyatakan pendapatan kuartalan bank tersebut merupakan yang terbaik dalam satu dekade terakhir. Meski demikian, saham Citi turun 5,6 persen.

Beralih ke Wells Fargo, bank terbesar keempat di AS ini mencatatkan kenaikan lima persen dalam pendapatan bunga bersih kuartalan, yang didorong oleh peningkatan saldo pinjaman dan sekuritas investasi. Namun, sahamnya tetap turun 3,1 persen.

Terakhir, Goldman Sachs mencatatkan kinerja yang melampaui estimasi pasar untuk pendapatan maupun laba kuartalan, didorong oleh kinerja kuat di lini bisnis perdagangan dan perbankan investasi. Namun, saham bank terbesar kelima di AS ini sempat memangkas sebagian kenaikannya dan akhirnya ditutup dengan penguatan 0,2 persen.

UnitedHealth berbalik arah, saham J&J turun

Selain bank-bank AS, jadwal laporan keuangan hari Selasa juga mencakup pembaruan kinerja kuartalan dari UnitedHealth dan Johnson & Johnson, yang keduanya merupakan komponen indeks Dow 30.

Saham raksasa asuransi kesehatan ini sempat naik setelah perusahaan menaikkan proyeksi laba yang disesuaikan untuk setahun penuh dan melaporkan penurunan rasio biaya perawatan medis dibandingkan tahun sebelumnya (year-on-year). Namun, saham UnitedHealth kemudian kehilangan kenaikan tersebut dan ditutup turun 0,2 persen.

Saham Johnson & Johnson turun hampir enam persen setelah kinerja kuartalan perusahaan farmasi tersebut terbayangi oleh pertumbuhan penjualan di divisi perangkat medis yang tidak mencapai target manajemen.

Di luar sektor kesehatan, saham Domino’s Pizza turun hampir lima persen setelah jaringan restoran pizza terbesar di dunia itu menyatakan penjualan di gerai yang sama (same-store sales) di AS hanya tumbuh 0,3 persen pada kuartal tersebut.

Gejolak harga minyak dan imbal hasil obligasi

Banjir laporan keuangan yang akan dirilis dalam beberapa minggu mendatang akan menjadi ujian bagi sentimen risiko. Pasalnya, kinerja laba yang solid menjadi salah satu alasan utama Wall Street mencetak rekor tertinggi tahun ini, meskipun terjadi aksi jual besar-besaran di pasar obligasi AS dan fluktuasi harga minyak akibat konflik di Timur Tengah.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) bergerak variatif pada hari Selasa setelah libur Columbus Day. Imbal hasil obligasi acuan tenor 10 tahun melanjutkan penurunan dari pekan lalu, turun 3,7 basis poin menjadi 5,209 persen, sementara imbal hasil tenor 30 tahun juga ikut turun sebesar 3,8 basis poin menjadi 5,561 persen. Imbal hasil obligasi tenor dua tahun bergerak datar di angka 4,789 persen.

Di sisi geopolitik, pergerakan harga minyak bervariasi. Harga minyak mentah berjangka Brent (acuan global) turun 0,5 persen menjadi USD106,13 per barel, sementara harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik satu persen menjadi USD94,67 per barel.

Pergerakan harga ini terjadi setelah Rusia menyatakan ekspor dieselnya mungkin melampaui volume yang ditetapkan dalam kesepakatan pasokan dengan AS, sehingga meredakan kekhawatiran mengenai arus pasokan dari kawasan Teluk. Lonjakan harga minyak mentah pada hari Senin sempat memicu kekhawatiran akan semakin kuatnya tekanan inflasi.

Para pelaku pasar akan mencermati data Indeks Harga Konsumen (IHK) September yang akan dirilis pada Rabu; data ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi inflasi serta prospek kebijakan moneter Federal Reserve.

The Fed diperkirakan secara luas akan mempertahankan suku bunga tetap stabil dalam pertemuan bulan ini, setelah bank sentral tersebut menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023 pada September lalu.

(Eko Nordiansyah)