Ilustrasi Anadolu
Jepang Dipenuhi Kemarahan setelah Marinir AS Rampok dan Bunuh Perempuan Okinawa
Fajar Nugraha • 5 October 2026 12:05
Okinawa: Gelombang kemarahan muncul pada Minggu 4 Oktober 2026 setelah adanya laporan bahwa seorang anggota Marinir Amerika Serikat (AS) ditangkap di Jepang atas dugaan pemerkosaan, perampokan dan pembunuhan.
Penangkapan anggota militer tersebut di Okinawa, sebuah pulau di wilayah selatan yang telah lama menjadi lokasi kehadiran militer AS dalam skala besar sejak Perang Dunia II.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa polisi menangkap seorang anggota Marinir berusia 29 tahun karena diduga membunuh seorang wanita berusia 39 tahun di sebuah hotel di Naha, ibu kota pulau tersebut, serta mengambil dompet dan barang-barang milik korban setelah kejadian.
"Kasus ini memberikan kejutan besar dan menambah ketakutan bagi warga Okinawa yang selama ini terpaksa hidup berdampingan dengan pangkalan militer AS," ujar Gubernur Okinawa yang baru terpilih, Genta Koja, kepada AP, seperti dikutip dari Raw Story, Senin 5 Oktober 2026.
"Hal ini sama sekali tidak dapat dimaafkan, dan kami sangat marah,” Gubernur Koja.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mengecam insiden tersebut dalam sebuah pernyataan kepada CNN.
"Terjadinya insiden yang sangat brutal dan keji ini sangat disesalkan, dan sebagai pemerintah Jepang, kami telah melayangkan protes keras kepada pihak AS," ujar Takaichi.
Clare Sebastian dari CNN melaporkan bahwa Kedutaan Besar AS di Jepang turut bekerja sama dalam penyelidikan ini, seraya menambahkan bahwa insiden tersebut "berisiko menimbulkan dampak politik antara AS dan sekutu utamanya di kawasan Pasifik."
Para analis geopolitik mengungkapkan kemarahan mereka terhadap laporan tersebut melalui media sosial.
"Militer AS melakukan pemerkosaan dan pembunuhan di Jepang. Namun, jelas sekali bahwa ancaman terbesar bagi Jepang adalah Tiongkok," tulis Aidan Simardone, seorang analis geopolitik dan pengacara imigrasi, di platform X.
"Berita ini baru saja mencuat di Jepang dan membuat banyak orang marah besar; ini bukan kali pertama hal seperti ini terjadi," tulis Thomas Logan, seorang ahli strategi kawasan Asia Timur, di platform X.