Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah. Foto: Metrotvnews.com
Kemlu Belum Terbitkan Travel Warning Ke Eropa Pascakerusuhan Demonstrasi
Muhammad Reyhansyah • 22 October 2026 17:23
Jakarta: Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menyatakan belum menerbitkan travel warning atau peringatan perjalanan ke Eropa di tengah rangkaian demonstrasi dan kerusuhan di sejumlah negara kawasan tersebut.
“Untuk travel warning ke Eropa saat ini belum ada,” kata Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah dalam press briefing di Kementerian Luar Negeri, Jakarta, Kamis, 22 Oktober 2026.
Meski belum ada peringatan perjalanan, Heni mengimbau warga negara Indonesia (WNI) yang berada di Eropa untuk tetap waspada dengan memantau situasi keamanan di lapangan serta mengikuti informasi resmi dari otoritas setempat.
“Bagi WNI yang ada di Eropa, diharapkan dapat menyesuaikan rencana perjalanan dengan memperhatikan kemungkinan adanya gangguan transportasi umum di Eropa sendiri,” jelas Heni.
Terkait kondisi WNI setelah kerusuhan demonstrasi pada 17–18 Oktober 2026, Heni mengatakan belum terdapat laporan warga Indonesia yang terdampak di Prancis dan Italia berdasarkan informasi dari perwakilan RI di kedua negara tersebut.
“Berdasarkan perwakilan RI kita terkait di Prancis maupun di Italia, yaitu di KBRI Prancis, KJRI Marseille, dan KBRI Roma, hingga saat ini belum terdapat laporan terkait adanya WNI yang terdampak atas kerusuhan demonstrasi tersebut,” ujar Heni.
Heni menyebutkan jumlah WNI di Prancis tercatat sebanyak 5.442 orang, sedangkan di Italia mencapai 2.403 orang. Kemlu bersama perwakilan RI terkait akan terus memantau perkembangan situasi keamanan pascademonstrasi dan menjaga komunikasi dengan WNI.
Mengutip laporan ABC News, demonstrasi bermula di Créteil, tenggara Paris, Prancis, pada 17 September ketika para guru memprotes kekurangan tenaga pengajar.
Aksi kemudian muncul di Spanyol pada 26 September, Belgia pada 1 Oktober, Italia pada 5 Oktober, Portugal pada 10 Oktober, dan Albania pada 12 Oktober.
Di Prancis, demonstrasi pada akhir pekan 17–18 Oktober diwarnai penjarahan toko, perusakan bangunan, dan pembakaran sejumlah fasilitas. Pemerintah setempat juga mengumumkan pemberlakuan jam malam di sejumlah wilayah untuk meredam kerusuhan.
Meski berlangsung dalam periode berdekatan, demonstrasi di negara-negara tersebut memiliki pemicu yang berbeda.
Selain persoalan pendidikan, aksi juga dipicu oleh kenaikan biaya hidup, pemangkasan layanan publik, dan krisis perumahan. Di Spanyol, misalnya, persoalan keterjangkauan hunian menjadi salah satu pemicu demonstrasi, sedangkan di sejumlah negara lainnya tuntutan berpusat pada kondisi pendidikan dan kebijakan pemerintah.