8 Tips Mengantisipasi Bencana Kekeringan akibat El Nino

Ilustrasi kekeringan

8 Tips Mengantisipasi Bencana Kekeringan akibat El Nino

Putri Purnama Sari • 13 October 2026 10:36

Jakarta: Fenomena El Nino yang melanda Indonesia meningkatkan risiko kekeringan di sejumlah wilayah. Kondisi ini perlu diantisipasi masyarakat karena berkurangnya curah hujan dapat memengaruhi ketersediaan air bersih, sektor pertanian, hingga aktivitas sehari-hari.

BMKG juga memprediksi awal musim hujan 2026/2027 mengalami kemunduran di 529 Zona Musim (ZOM), atau 61,08 persen dari total wilayah ZOM di Indonesia. Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih siap menghadapi keterbatasan air selama musim kemarau.

Kekeringan umumnya berkaitan dengan curah hujan yang rendah dalam waktu lama. Dampaknya dapat semakin besar ketika sumber air mulai menyusut, cadangan air terbatas, dan kebutuhan air masyarakat meningkat.

Karena itu, masyarakat perlu melakukan langkah antisipasi sejak dini untuk mengurangi dampak kekeringan. Upaya tersebut dapat dimulai dari menghemat penggunaan air, menjaga sumber air, hingga menyiapkan persediaan untuk kebutuhan sehari-hari.

Tips Mengantisipasi Bencana Kekeringan

Berikut sejumlah langkah yang bisa dilakukan untuk mengantisipasi bencana kekeringan:

1. Menghemat Penggunaan Air Bersih

Menghemat air menjadi langkah sederhana yang dapat dilakukan setiap hari. Gunakan air sesuai kebutuhan dan hindari membiarkan keran mengalir ketika tidak digunakan.

Masyarakat juga dapat mengurangi durasi mandi, menggunakan air secukupnya saat mencuci, serta segera memperbaiki keran atau pipa yang bocor. 2. Menyiapkan Cadangan Air Bersih

Saat musim kemarau berkepanjangan, pasokan air bersih berpotensi berkurang. Oleh karena itu, siapkan cadangan air dalam wadah yang bersih, tertutup, dan aman untuk menyimpan air.

Pisahkan air untuk minum dan memasak dari air untuk keperluan lain. Pastikan wadah penyimpanan dibersihkan secara berkala agar kualitas air tetap terjaga.

3. Memanfaatkan Air Hujan


Ilustrasi Medcom.id

Air hujan dapat ditampung untuk membantu memenuhi kebutuhan air, terutama untuk menyiram tanaman atau membersihkan halaman.

Gunakan wadah penampungan yang sesuai dan tertutup untuk mencegah perkembangbiakan nyamuk. Air hujan yang ditampung tidak boleh langsung dianggap aman untuk diminum tanpa pengolahan yang tepat.

4. Menjaga Sumber Air dan Lingkungan

Menjaga lingkungan berperan penting dalam mendukung ketersediaan air. Masyarakat dapat melakukannya dengan menjaga daerah resapan, menanam pohon sesuai kondisi lingkungan, serta tidak membuang sampah ke sungai dan saluran air.

Hindari aktivitas yang dapat mencemari sumur, mata air, dan sumber air lainnya. Sumber air yang terjaga dapat membantu masyarakat menghadapi periode kekurangan air.

5. Memantau Informasi Cuaca dan Peringatan Dini

Masyarakat perlu memantau prakiraan cuaca dan informasi musim kemarau dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Informasi tersebut dapat menjadi acuan untuk mempersiapkan kebutuhan air, mengatur kegiatan pertanian, serta mengantisipasi kemungkinan berkurangnya pasokan air di wilayah masing-masing.
  6. Mengatur Penggunaan Air untuk Pertanian

Bagi petani, pengelolaan air perlu dilakukan sejak awal musim kemarau. Penggunaan sistem irigasi yang lebih efisien, seperti irigasi tetes jika sesuai dengan jenis tanaman, dapat membantu mengurangi pemborosan air.

Petani juga dapat menyesuaikan jadwal tanam dengan kondisi ketersediaan air dan informasi iklim setempat. Koordinasi dengan kelompok tani serta petugas pertanian diperlukan untuk menentukan langkah yang sesuai dengan kondisi lahan.

7. Memastikan Ketersediaan Air untuk Kebutuhan Pokok

Ketika persediaan air mulai terbatas, prioritaskan penggunaannya untuk minum, memasak, menjaga kebersihan diri, dan kebutuhan sanitasi.

Apabila sumber air mengering, masyarakat dapat berkoordinasi dengan pemerintah desa atau kelurahan, BPBD, maupun instansi terkait untuk mendapatkan informasi mengenai bantuan pasokan air bersih.

8. Menggunakan Air Secara Bijak di Lingkungan Rumah

Setiap anggota keluarga dapat dilibatkan dalam upaya penghematan air. Misalnya, menggunakan air bekas membilas sayuran untuk menyiram tanaman selama air tersebut sesuai untuk keperluan itu.

Hindari mencuci kendaraan atau menyiram halaman menggunakan air secara berlebihan. Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu mengurangi penggunaan air yang tidak mendesak.

(Putri Purnama Sari)