Farhan Soroti Kesenjangan Tenaga Kerja Meski Ekonomi Bandung Tumbuh 5,8 Persen

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Metrotvnews.com/ Roni Kurniawan

Farhan Soroti Kesenjangan Tenaga Kerja Meski Ekonomi Bandung Tumbuh 5,8 Persen

Roni Kurniawan • 19 October 2026 17:48

Bandung: Pertumbuhan ekonomi Kota Bandung, Jawa Barat, mencapai 5,8 persen secara tahunan hingga Juni 2026. Meski menunjukkan tren positif, capaian tersebut belum otomatis mempermudah pencari kerja mendapatkan pekerjaan. 

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan optimistis pertumbuhan ekonomi Kota Bandung dapat mencapai 6 persen hingga akhir 2026, dengan catatan kondisi ekonomi tetap mendukung. Namun, ia menilai masih ada kesenjangan antara kebutuhan perusahaan dan akses tenaga kerja ke dunia industri.

"Sampai bulan Juni 2026, year on year pertumbuhan ekonomi kita sudah mencapai angka 5,8 persen. Jadi kami optimistis, apabila ceteris paribus, maka kita bisa mencapai angka 6 persen di akhir tahun," kata Farhan di Bandung, Senin, 19 Oktober 2026.


Menurut Farhan, pertumbuhan ekonomi Kota Bandung sejalan dengan target pembangunan nasional. Pemerintah pusat menargetkan pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 8 persen pada 2029.

"Ini artinya sudah on track dengan rencana nasional yang menuju ke 8 persen di tahun 2029," ujar Farhan.

Farhan mengingatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak serta-merta menyelesaikan masalah ketenagakerjaan. Menurutnya, masih ada kesenjangan antara kebutuhan tenaga kerja perusahaan dan ketersediaan pencari kerja yang sesuai.

"Bagaimanapun juga, tingkat pertumbuhan yang tinggi ini tidak kemudian memudahkan pencarian pekerjaan," sahut Farhan.


Tenaga Kerja. foto: Medcom.id.


Farhan menuturkan, adanya persoalan dari dua sisi. Perusahaan membutuhkan tenaga kerja dengan kualitas dan kompetensi yang sesuai, sedangkan pencari kerja mengaku kesulitan memperoleh akses ke dunia kerja.

"Perusahaan-perusahaan ini mengatakan, ‘Kami kesulitan mencari tenaga kerja berkualitas.’ Di sisi lain, angkatan kerja mengatakan, ‘Kami kesulitan akses kepada dunia kerja," beber Farhan.

Kondisi tersebut menunjukkan persoalan ketenagakerjaan tidak cukup diselesaikan hanya dengan mendorong pertumbuhan ekonomi. Diperlukan penghubung yang efektif antara kebutuhan pasar tenaga kerja dan kemampuan para pencari kerja.

"Nah, jadi sebetulnya kelihatannya masalahnya adalah intermediary, penghubung antara pasar tenaga kerja dengan angkatan kerja," ungkap Farhan.

(Silvana Febiari)