Ilustrasi. Foto: Unplash
Harga Minyak Melonjak Lebih dari 3% Akibat Konflik Timur Tengah Memanas
Eko Nordiansyah • 14 September 2026 08:21
Houston: Harga minyak naik tajam pada perdagangan awal pekan Senin, 14 September 2026, setelah serangan lanjutan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi dan serangan baru di Selat Hormuz meningkatkan kekhawatiran akan gangguan pasokan di kawasan tersebut.
Penundaan rencana pembicaraan antara Iran dan kekuatan Teluk Persia lainnya mengenai Selat Hormuz juga menambah kecemasan akan gangguan pasokan, sehingga meningkatkan premi risiko minyak dan menjaga harga minyak mentah tetap mendekati level tertinggi tahunan.
Dikutip dari Investing, kontrak berjangka minyak Brent melonjak hingga 3,5 persen menjadi USD108,41 per barel, sebelum kenaikannya sedikit mereda dan diperdagangkan pada level USD107,51 per barel
Kontrak berjangka WTI naik USD3,15, atau 3,15 persen menjadi USD103,20 per barel.
Houthi menyerang Arab Saudi dan Bab el-Mandeb
Kenaikan harga minyak terutama didorong oleh serangan kelompok Houthi Yaman terhadap lebih banyak target di Arab Saudi selama akhir pekan.Kelompok Houthi, yang bersekutu dengan Iran, berhasil mengamankan posisi yang memungkinkan mereka melancarkan serangan tanpa hambatan di Selat Bab el-Mandeb serta terhadap target-target energi utama Arab Saudi.
Hal ini terjadi setelah pekan lalu Houthi menyerang sejumlah target utama Arab Saudi, termasuk kilang dan terminal bahan bakar Aramco, serta beberapa fasilitas bahan bakar, bandara, dan kapal di wilayah Bab el-Mandeb.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Perkembangan ini menutup jalur pasokan minyak penting lainnya di Timur Tengah, terutama mengingat sebagian besar pengiriman minyak Arab Saudi yang biasanya melalui Selat Hormuz telah dialihkan melalui Selat Bab el-Mandeb.
Arab Saudi menyatakan telah menutup jalur pipa penting Timur-Barat menyusul serangan lanjutan Houthi. Kelompok tersebut dilaporkan menyerang beberapa target di Arab Saudi selama akhir pekan, sementara rudal juga menghantam fasilitas energi utama di negara tersebut.
"Riyadh kini kehilangan opsi untuk menggunakan jalur ekspor Barat jika situasi di Selat Hormuz kembali memburuk. Hal ini kemungkinan akan memberikan tekanan kenaikan lebih lanjut pada harga minyak pekan ini," ujar analis ANZ dalam sebuah catatan.
Penundaan pertemuan terkait Selat Hormuz
Secara terpisah, Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, mengatakan pertemuan regional antara Iran dan kekuatan-kekuatan Teluk, yang awalnya dijadwalkan pada Senin, kini telah ditunda.Kabar mengenai pertemuan Senin tersebut sempat meredam kenaikan harga minyak pekan lalu, karena pasar berharap diplomasi baru dapat membantu membatasi gangguan pasokan di kawasan tersebut.
Namun, dengan ditundanya pertemuan tersebut tanpa batas waktu yang jelas, Selat Hormuz kemungkinan akan tetap menjadi wilayah yang diperebutkan dalam waktu dekat. Pasokan minyak melalui jalur tersebut telah melambat hingga hanya sebagian kecil dari tingkat sebelum konflik, menyusul kembali memanasnya ketegangan antara AS dan Iran pada Agustus.